4 Cara Unik Untuk Merelakan dan Bangkit dari Kegagalan

Yang mendefinisikan siapa diri kamu bukanlah kegagalan kamu, tapi tekad kamu. Kegagalan hanyalah kesempatan untuk memulai lagi, dengan lebih cerdas daripada sebelumnya.

Kegagalan adalah perasaan berat jauh di dalam dirimu. Kamu berusaha mengabaikannya, tapi kamu tidak bisa. Takut dan putus asa secara bertahap meresap ke dalam pikiran kamu. Kesedihan dan rasa bersalah segera menyusul, sampai kamu benar-benar dikalahkan.

Saya merasa seperti ini saat saya gagal.

Itu membuat saya ingin meringkuk seperti bola dan menangis. Saya merasa kehilangan dan sendirian dan saya ingin menyerah. Saya ingin jatuh di atas tempat tidur dan membenamkan wajah saya di atas bantal. Tapi itu tidak berhasil, karena perasaan tenggelam itu mengikuti saya sampai tidur.

Kegagalan itu sangat menyakitkan dalam begitu banyak tingkatan.

Orang-orang mendapatkan ide ini tentang saya, karena saya menulis dan mengajar tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan hidup penuh kesadaran, sehingga saya tidak pernah tergelincir dan gagal total di wilayah ini. Tapi tentu saja saya manusia, jadi itu tidak benar. Saya gagal dalam hal-hal yang jauh lebih banyak daripada yang kamu bayangkan, dan tentunya jauh lebih banyak daripada yang ingin saya akui.

Dalam satu dua titik, saya gagal dalam segala sesuatu, sama seperti kamu, dan rasanya sama-sama mengerikan bagi saya seperti halnya bagi kamu atau orang lain.

Saya merasa kecewa dan bersalah, dan berusaha tidak berpikir tentang hal itu, dan lebih suka menyembunyikannya.

Tapi dalam hati saya tahu reaksi negatif ini tidaklah membantu. Jadi, saya mengakui apa yang terjadi, belajar satu dua pelajaran, dan kemudian bangkit dan mencoba lagi. Bagian terakhir adalah bagian paling penting—mencoba lagi …

  • Saya gagal makan makanan sehat kadang-kadang, tapi saya mencoba lagi.
  • Saya gagal membuat jadwal olahraga saya kadang-kadang, tapi saya mengimbanginya dengan mengunjungi gimnasium dan bekerja keras pada waktu berikutnya.
  • Saya gagal mencintai diri saya sendiri kadang-kadang, tapi saya tidak menyerah pada diri saya sendiri juga, dan saya mencoba lagi.
  • Saya gagal menjadi ayah yang hebat kadang-kadang, terutama ketika saya terganggu dengan upaya bisnis yang bikin stres, tapi saya terus berusaha, dan sering kali saya memanfaatkan senyum segar di wajah anak saya.
  • Saya bahkan gagal menulis artikel yang kamu baca sekarang. Saya membuat upaya awal dan menghapusnya karena rasanya tidak benar. Tapi saya memulai lagi, dan saya sudah selesai sekarang.

Ketika saya mencoba lagi dan lagi, saya sering berhasil, pada akhirnya.

Jika hanya ada satu hal yang kamu ambil dari tulisan ini, biarlah hal itu bahwa mencoba lagi selalu berguna. Kamu mendapatkan banyak peluang dalam hidup kamu sebanyak kamu bersedia memberinya kepada diri kamu sendiri.

Setelah kamu memahami prinsip sederhana itu, berikut ini ada empat strategi yang unik (dan terbukti) untuk memberi diri kamu kesempatan lain, dengan merelakan dan tumbuh melampaui kegagalan kamu:

1. Jadilah pengamat pikiran dan emosi kamu sendiri.

Alih-alih mencoba mengubah pikiran kita setiap saat—melalui rasa syukur atau pengampunan yang disengaja, misalnya—kadang-kadang kita hanya perlu memperhatikan pemikiran kita tanpa terperangkap di dalamnya.

Kamulah satu-satunya pencipta perasaan kamu sendiri. Ketika pikiran negatif muncul berdasarkan pengalaman masa lalu atau kekhawatiran masa depan, sebagaimana kadang-kadang mereka akan begitu, sadarilah bahwa ini hanyalah isu yang pikiran kamu (bukan kamu) lalui. Berhentilah, hadir dan perhatikanlah. Pikirkan tentang pikiran dan emosi ini secara sadar, hampir seolah-olah kamu adalah pengamat. Pisahkan diri kamu dari pemikiran pikiran kamu.

Mungkin setelah kamu mempelajari pikiran dan emosi kamu akan berpikir untuk diri sendiri, “Wow, saya benar-benar masih melaluinya?” Dan coba tebak? Seiring waktu perasaan negatif dan emosi kamu akan berkurang, dan kesadaran sejati, cinta, dan penerimaan akan tumbuh menggantikannya. Kamu akan mulai menyadari bahwa pikiran kamu hanyalah instrumen, dan kamu mengendalikan pikiran kamu, bukan sebaliknya.

Dengan tidak menghakimi pemikiran kamu atau menyalahkan mereka pada diri sendiri atau orang lain, dan sekadar mengamati mereka, akan ada perubahan besar dalam diri kamu—kesadaran harga diri kamu akan berkembang.

Ini bukan berarti kamu tidak akan gagal, atau sedih lagi, atau tidak pernah merasa cemas, tapi mengetahui bahwa pikiran dan emosi hanyalah perasaan sekilas yang independen dari KAMU, akan membantu meredakan ketegangan kamu dan meningkatkan kehadiran positif kamu, memungkinkan kamu untuk merelakan, belajar, dan memulai lagi, lebih pintar dan lebih kuat daripada sebelumnya.

2. Tangkap dan perbaiki kecenderungan pencocokan pola negatif kamu.

Setiap hari, sepanjang hari, kamu secara bawah sadar mencocokkan pola dari masa lalu dengan masa kini. Ketika sebuah pengalaman dalam hidup kamu mengandung makna emosional, pengalaman itu akan ditandai di otak kamu sebagai sesuatu yang penting. Dan ketika pengalaman emosional itu tragis, hal itu memicu mekanisme rasa takut otak kamu, yang memberi tahu otak kamu untuk tetap waspada terhadap kondisi masa depan yang samar-samar mengingatkan kamu tentang pengalaman tragis ini (ia melakukan ini untuk melindungi kamu dari bahaya masa depan).

Otak kamu kemudian mencoba mencocokkan pengalaman baru dengan yang awal. Tapi tergantung pada seberapa emosional kamu dengan pengalaman awal, itu dapat menyebabkan pencocokan pola yang palsu yang pasti menyesatkanmu. Ini terutama berlaku bila menyangkut kegagalan pribadi, kesalahan, dan salah penilaian.

Contoh:

  • Hubungan kamu berantakan, jadi sekarang kamu percaya bahwa semua hubungan masa depan kamu juga akan begitu.
  • Kamu mendapat skor rendah dalam ujian tertulis di sekolah menengah, jadi sekarang kamu meragukan kemampuan kamu untuk mengambil semua bentuk ujian tertulis.
  • Kamu tidak akur dengan bos lama, jadi sekarang kamu kesulitan menghormati bos yang benar-benar baru atau sosok otoritatif yang berbeda.
  • dan lain-lain

Sekali lagi, pencocokan pola yang salah ini terjadi setiap kali kamu merespon secara negatif dan terlalu emosional dengan pengalaman masa lalu tertentu. Dan itu semua terjadi tanpa sadar juga. Secara logika, kamu tahu bahwa semua hubungan itu sama sekali berbeda, tapi secara emosional kamu merespons seolah-olah semuanya adalah satu.

Jika kamu merasa bahwa kamu terjebak karena kamu tidak bisa bergerak melampaui pengalaman kegagalan masa lalu, maka otak kamu mengaitkannya seolah-olah itu masih terjadi sekarang, yang berarti ia mencocokkan pola yang tidak benar pada masa sekarang. Berikut adalah solusi dua langkah yang mungkin membantu:

  • Tanyakan kepada diri sendiri: “Apa pengalaman kegagalan masa lalu tertentu dan perasaan terkait yang teringatkan oleh perasaan saya saat ini?” Gali secara mendalam dan jujurlah dengan diri sendiri.
  • Begitu kamu menentukan asal dari perasaan kamu saat ini, daftar semua cara keadaan kamu saat ini berbeda dengan masa lalu (pengalaman kegagalan awal)—ini harus mencakup tempat, orang, dan rincian yang membuat kamu sakit dan tidak nyaman. Tinjaulah perbedaannya lagi dan lagi sampai kamu menghafalnya. Hal ini dapat membantu kamu menyadari dan mengingat bahwa keadaannya benar-benar sudah berubah.

3. Periksa, dan periksa lagi, kemajuan kamu dan seberapa jauh kamu telah berjalan.

Meskipun kamu secara intelektual tahu kamu lebih kuat daripada dirimu di masa lalu, pikiran bawah sadar kamu sering lupa bahwa kemampuan kamu telah berkembang.

Mari saya beri contoh metaforis singkat …

Penjaga kebun binatang biasanya mengikatkan rantai logam tipis pada kaki gajah dewasa dan kemudian mengikatkan ujung lainnya pada sebuah pasak kayu kecil yang dipalu ke tanah. Gajah setinggi 10 kaki dan seberat 10.000 pon bisa dengan mudah menarik rantai itu, mencabut pasak kayu, dan melarikan diri bebas dengan sedikit usaha. Tapi itu tidak terjadi. Bahkan gajah tidak pernah mencobanya. Hewan darat paling kuat di dunia, yang bisa mencabut pohon semudah kamu mematahkan tusuk gigi, tetap kalah oleh pasak kayu kecil dan rantai tipis.

Mengapa?

Karena ketika gajah itu masih bayi, pawangnya menggunakan metode yang persis sama untuk menjinakkannya. Sebuah rantai tipis diikatkan di sekeliling kaki dan ujung rantai lainnya diikatkan ke pasak kayu di tanah. Pada saat itu, rantai dan pasak cukup kuat untuk menahan bayi gajah. Ketika gajah mencoba melepaskan diri, rantai logam akan menariknya kembali. Kadang-kadang, tergoda oleh dunia yang bisa terlihat di kejauhan, gajah akan menarik lebih keras. Tapi rantai tidak bergerak, dan segera bayi gajah menyadari bahwa mencoba melarikan diri itu tidak mungkin. Jadi ia berhenti mencoba.

Dan sekarang bahwa gajah sudah dewasa, ia melihat rantai dan pasak dan ia mengingat apa yang dipelajarinya saat bayi—rantai dan pasak itu tidak memungkinkan untuk melarikan diri. Tentu saja ini tidak lagi benar, tapi itu tidak masalah. Tidak masalah bahwa bayi seberat 200 pon itu saat ini seberat 10.000 po. Keyakinan yang membatasi diri dari gajah itu berlaku.

Jika kamu memikirkannya, kita semua seperti gajah. Kita semua punya kekuatan luar biasa dalam diri kita. Dan tentu saja, kita punya rantai dan pasak kita sendiri—keyakinan yang membatasi diri yang menahan kita. Kadang-kadang itu adalah pengalaman masa kecil atau kegagalan sebelumnya. Kadang-kadang itu adalah sesuatu yang diberitahu kepada kita saat kita masih kecil.

Kita perlu belajar dari masa lalu, tapi bersiaplah memperbarui apa yang dipelajari berdasarkan pada bagaimana keadaan kita telah berubah (karena mereka terus-menerus berubah).

Berikut ini ada dua hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Jika kamu mencurigai kamu saat ini sedang menjalani hidup kamu (atau sebagian darinya) melalui pengondisian keyakinan yang membatasi diri yang kamu kembangkan pada masa lalu, ingatkan diri sendiri tentang apa yang berbeda sekarang dalam hal keadaan dan kemampuan kamu sendiri. Apa yang telah berubah di dalam diri kamu? Apa yang kamu ketahui sekarang yang tidak kamu ketahui dahulu?
  • Periksalah apa yang telah kamu pelajari dari kegagalan dan kemalangan masa lalu yang benar-benar bisa membantu kamu sekarang. Ketimbang hanya menyesali, pertanyakan secara khusus bagaimana hal itu telah membantu kamu berkembang. Apakah masa lalu telah mempersenjatai kamu untuk menjadi orang yang bertekad, mandiri, tanggap, tangguh, sadar, penyayang, dll? Fokus pada apa yang telah kamu peroleh daripada apa yang hilang dari pengalaman masa lalu yang merugikan.

4. Belajarlah untuk melihat keindahan dalam ketidakpastian.

Tidak ada yang bisa diharapkan dan tidak ada yang pasti di dunia ini. Itulah kenyataannya. Dan itu hal yang indah.

Kamu perlu memahami bahwa tidak satu pun dari kita yang bermain dengan kartu yang sudah ditandai; kadang-kadang kita menang dan kadang-kadang kita kalah. Hidup selalu menemukan keseimbangan. Jangan berharap mendapatkan kembali semua yang kamu berikan. Jangan mengharapkan pengakuan atas setiap usaha yang kamu buat. Dan jangan berharap kegeniusan kamu akan langsung dikenali atau cinta kamu dipahami oleh semua orang yang kamu temui.

Ada hal-hal yang kamu tidak ingin terjadi tapi harus diterima, hal-hal yang kamu tidak ingin ketahui tapi harus dipelajari, dan orang-orang dan keadaan yang kamu tidak bisa hidup tanpanya tapi harus direlakan. Beberapa hal datang ke dalam kehidupan kamu hanya untuk menguatkan kamu, jadi kamu bisa melanjutkan hidup tanpa mereka.

Beberapa orang menyebut pengalaman ini kegagalan. Saya menantang kamu untuk melihatnya sebagai pelajaran positif.

Seiring kamu hidup dan mengalami banyak hal, kamu harus mengenali apa yang milikmu dan apa yang tidak, apa yang berhasil dan apa yang tidak, dan kemudian relakan segalanya bila kamu tahu kamu harus merelakannya. Bukan karena kebanggaan, ketidakmampuan, atau kesombongan, tapi hanya karena tidak semuanya harus sesuai dalam kehidupan kamu. Jadi, tutuplah pintu pada masa lalu, setel ulang, bersihkan ruang batin kamu, dan singkirkan debu. Berhentilah menjadi diri kamu dahulu agar kamu bisa menjadi diri kamu sekarang.

Saatnya untuk merelakan apa yang terjadi kemarin, dan menyalakan potensi sekarang dari hidup kamu.

Pemikiran lanjutan

Saya berharap kamu menemukan nilai dalam keempat strategi di atas. Saya sudah membaginya dengan kamu karena, sejujurnya, saya telah menyaksikannya membantu ribuan siswa pembinaan / kursus kami selama sepuluh tahun terakhir.

Apa pun itu, ketahuilah kita semua mengalami hal ini. Saya jauh dari sempurna, sama seperti kamu. Kita semua sama-sama gagal memenuhi sifat kita yang lebih baik, dan kita juga sama-sama mampu memulai lagi.

Dan itulah yang harus kita lakukan. Bersama.

Ayo mulai lagi. Hari ini.

(Marc Chernoff)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *