5 Cara yang Kamu Pikirkan tentang Hubungan, Sesuai Usia Kamu

Kalau kamu berusia 20-an, kamu mungkin sudah mengetahui sekarang betapa setiap tahun yang berlalu membuat kamu merasa 10 kali lebih bijaksana—kalau kamu melakukannya dengan benar. Apa pun itu, saya pikir kita semua bisa setuju bahwa cara kita berkencan ketika kita berusia 20-an jauh berbeda dengan bagaimana kita memandangnya saat berusia 25 tahun. Mudah-mudahan kamu bisa melihat diri kamu sendiri berkembang dalam hal ini, dan kamu dapat menggunakannya sebagai cara untuk mendorong diri kamu untuk melakukan seluruh urusan “aku sudah dewasa” ini dengan benar.

Saya akan mulai dengan usia 15 karena jujur saja: Tidak ada hal seksi yang terjadi pada kamu sebelum kamu bisa menyetir mobil.

Usia 15-18: Apa sih yang saya lakukan?

Ahh, masa SMA. Inilah ketika semuanya baru, dan punya pacar benar-benar berarti sesuatu karena kamu dapat melakukan lebih daripada saling tersenyum di lorong sekolah. Salah satu dari kamu kemungkinan besar memiliki mobil, atau setidaknya kamu bisa menemukan mobil untuk dikendarai ke bioskop bersama-sama. Ciuman pertama kamu di bioskop mungkin payah, dan kamu yakin ada sesuatu yang salah dengan diri kamu dan kamu akan benci ciuman selamanya.

Tapi, kamu lekas tahu bahwa masalahnya bukan pada diri Anda; pacar kamu tidak tahu saja cara mengontrol ludahnya.

Orang yang kamu kencani di SMA adalah seseorang yang kamu anggap keren. Kemungkinan besar, teman kamu berbicara kepada temannya, dan itulah yang mempertemukan kalian berdua. (Jangan bantah metode ini. Kadang-kadang, ini masih berguna pada masa dewasa.)

Ketika kamu berpegangan tangan di lorong, kamu merasa seperti cewek paling beruntung dan paling populer—bahkan jika pacar pilihan kamu adalah orang aneh yang membawa-bawa gitar akustiknya di sela-sela jam pelajaran.

Pada usia ini, cowok-cowok belum rusak (kita juga begitu!), dan kamu mungkin salah satu cewek pertama yang pernah dia pacari. (Artinya, ya, kamu akan mendapat bunga pada Hari Valentine).

Kamu mungkin putus karena teman-temannya ingin dia menjomblo lagi dan mengatakan kepadanya bahwa dia tidak butuh kamu, atau karena kamu mulai menyukai temannya yang lebih keren yang ada di tim sepak bola.

Apa pun itu, kamu patah hati BERBULAN-BULAN, dan ya, status-status kamu berisi penuh tentang dia.

Usia 19-20: Kebutuhan akan Kesenangan Terus-Menerus

Ini adalah tahap yang sangat penting. kamu mungkin baru saja masuk perguruan tinggi, dan kamu “bukan gadis lagi, belum juga seorang wanita”. Oleh karena itu, kamu siap berkencan dengan pria dewasa, tapi sebenarnya, kamu hanya tahu cara menangani cowok.

Masuklah orang yang kenal semua orang di lantai asramanya. Dua semester pertama kuliah semuanya adalah pengalaman baru, dan kamu mencoba mengenal orang sebanyak mungkin. Menempel dengan orang ini membuka pintu untuk bertemu dengan puluhan orang baru, jadi kamu keluar untuk bertemu dengannya pada malam Minggu pukul 1 tengah malam. Tapi, sekali lagi, cerita orang tua kamu tentang bagaimana mereka berpacaran saat kuliah bermain-main di kepala kamu setiap saat. Lagi pula, setiap orang yang kamu temui bisa jadi #Jodoh kamu.

Memangnya siapa kamu bisa menghalangi nasib kamu sendiri?

Saat kamu sedang waras, kamu sadar orang baru yang kamu kencani ini sama sekali bukan belahan jiwamu.  Namun, saat kamu sedang mabuk (kamu selalu begitu), kamu mencoba membuatnya berkomitmen kepada kamu dan hanya kamu. Akhirnya, apa yang membuat kalian putus adalah pertengkaran saat mabuk di mana kalian berdua secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa kalian pernah tidur bersama orang lain. (Ups.)

Selamat datang masa empat tahun berikutnya saat kamu bertemu secara kebetulan dengan pecundang ini di pesta-pesta.

Usia 20-23: Mungkinkah Ini Cinta?

Kamu benar-benar sudah dewasa. Kamu tahu begitu banyak hal tentang kedewasaan, dan setelah BERTAHUN-TAHUN siksaan cowok sialan, kamu percaya kamu memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang cukup untuk membuat cinta memasuki kehidupan Anda. Inilah usia di mana kamu berkencan dengan pria yang dibenci semua teman kamu, tapi kamu tidak peduli apa yang dipikirkan para jomblo menyedihkan itu.

Kamu bertemu dengannya di sebuah pesta, dan dia berada di luar sedang mengisap rokok. Kamu memutuskan untuk menyalakan sebatang darinya demi mengobrol dengannya dan tampaknya kalian sama-sama seperti orang buangan. Dia tidak banyak mengobrol, tapi dia menyalakan rokok kamu seperti seorang pria gentlemen. Kamu yakin kalian berdua baru saja memulai kisah cinta hebat berikutnya.

Berbulan-bulan kemudian, kamu masih melihat dia, tapi karena alasan tertentu, dia belum menjadi pacar kamu. Kamu dan dia sama-sama bosan, jadi kamu paham dia butuh waktu untuk menerima cinta di dalam hatinya yang terbungkus jaket motor dari kulit.

Kadang-kadang dia benar-benar kejam pada kamu, tetapi kamu menerimanya karena kamu tahu dia bermasalah saja. Kamu berpikir dia benar-benar mencintai kamu, tapi dia tidak tahu saja cara mengungkapkannya.

Kalian berdua adalah Chuck dan Blair di kampus, dan ujian dan cobaan membuat jantung kalian yang mendambakan petualangan terus berdebar, sambil kalian menjalani kehidupan biasa masuk kelas di sebuah universitas swasta.

Hidup begitu sulit bagi kamu, dan yang kamu ingin lakukan adalah jatuh cinta. Kamu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kalian berdua mungkin meresmikannya selama sekitar enam bulan, tetapi ketika dia mulai bertindak seolah-olah dia terlalu sibuk buat kamu, kamu mencampakkannya karena kesal karena TENTU SAJA dia tidak akan melepaskanmu.

Ketika dia tidak berjuang untuk balikan lagi, kamu akan sadar, sifat asli dari hubungan kamu adalah: belum dewasa.

Usia 23-25: Kamu Tahu Apa yang Kamu Inginkan

Inilah usia ketika kamu sadar bahwa kamu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kencan sebelum ini.

Saya tahu saya telah resmi berkembang begitu saya cukup kuat untuk memutuskan segala sesuatu dengan seorang pria yang kasar kepada saya.

Girls, jika seorang cowok pernah meremehkan kamu, tidak menghormati kamu, mengumpat kamu, atau memaki apa saja kepadamu, dia bukan orang terbaik buat kamu.

Ini juga berlaku buat cowok.

Jika seorang cewek kasar kepada kamu, meremehkan kamu, menimbulkan segala jenis keributan di hadapan teman-teman kamu, atau mulai membatasi dengan siapa kamu boleh bergaul, dia mungkin bukan orang terbaik buat kamu.

Saya bisa katakan dengan jujur, ketika seorang cewek benar-benar menyukai seorang cowok, dia tidak akan pernah menjatuhkannya dengan kasar untuk apa pun, meskipun dia membenci fakta bahwa dia masih tinggal di ruang bawah tanah rumah orang tuanya.

Kunci untuk hubungan yang sehat adalah mampu memahami sudut pandang masing-masing.

Ketika kamu masih muda, kamu mungkin lebih parsial dalam mengambil sudut pandang orang lain. Jika dia bertindak brengsek, dia mungkin tersiksa saja dan tidak tahu cara mengungkapkan cinta sejatinya kepadamu, bukan?

Salah.

Tumbuh dewasa adalah murni tentang mengetahui definisi sebenarnya dari penentu keputusan kamu.

Pada usia ini, orang yang anda cintai bisa berpakaian seolah-olah dia percaya Target adalah kiblat mode Amerika, dan kamu akan tetap mencintainya karena kamu akhirnya menyadari bahwa hal-hal itu tidaklah penting. Yang penting adalah selalu merasa seolah-olah kamu dapat berbagi pendapat kamu dengannya tanpa pertengkaran. Jika hal itu tidak ada dalam diri kalian, kamu tahu kamu perlu move on.

Gila rasanya betapa setiap tahun dalam usia 20-an terasa seperti tiga tahun, tapi percayalah, kamu belajar banyak hal.

Usia 25-30: Inilah Kedewasaan

Inilah cinta yang ditulis dalam puisi orang-orang, dan kalian berdua selalu hadir ketika kamu katakan kamu akan hadir.

Beberapa dari “kehadiran” itu termasuk menghadiri pesta anggur dan keju kakak perempuannya, dan dia melepaskan kaus polo bergaris-garis untuk mengenakan kemeja chambray di pesta ulang tahun kamu. (Tapi hei, ini idenya, bukan idemu.)

Kamu benar-benar suka berangkulan di pesta-pesta kerja, dan kalian berdua mulai serius memikirkan masa depan kalian.

Jika kamu lajang dan mendekati usia 30-an, kamu hanya akan berkencan dengan pria berpenghasilan mengesankan, dan anggota band tidak lagi sekeren dulu.

Penentu keputusan kamu tidak lagi berkisar pada pendapat teman-teman kamu tentang dia, tetapi apakah dia punya asuransi kesehatan atau tidak.

Pria yang memiliki apartemen satu kamar tidur sendiri secara otomatis melejit ke posisi atas dalam catatan penilaian kamu.

Ketika kamu berusia 25 tahun, memiliki anak-anak tampaknya masih jauh sekali dari pikiran kamu, tapi sekarang kamu dan pasangan kamu harus mengadakan “diskusi” jika hubungan berlanjut melebihi hitungan tahun.

Di mana pun tahap kamu sekarang, beranilah keluar dari situasi yang tidak baik buat kamu.

Saat kamu tumbuh, kamu harus sadar, menjalin hubungan adalah tentang siapa yang dapat menambahkan paling banyak kebahagiaan ke dalam hidup kamu, bukannya, “tampaknya inilah orangnya, jadi saya kira dia cukup baik.”

Asalkan kamu merasa berkembang sepanjang tahun, kamu sedang melakukannya dengan benar.
Jadi cobalah untuk tidak berpikir berlebihan atas segala sesuatu.

Jika kamu punya firasat buruk tentang pasangan kamu, dengarkan firasat kamu. Kamu akhirnya berada dalam usia di mana kamu bisa percaya pada diri kamu sendiri. (Brittany Leitner)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *