5 Hal yang Harus Diingat Ketika Seseorang yang Kamu Cintai Depresi

“Ada luka yang tidak pernah terlihat pada tubuh, luka yang lebih dalam dan lebih menyakitkan dari apa pun yang berdarah.”—Laurell K. Hamilton

Jika kamu mencintai seseorang yang tertekan, atasilah dengan tidak pernah bertanya kepada mereka apa alasannya. Mereka tidak tahu. Depresi bukanlah respons yang mudah terhadap situasi yang sulit—depresi ya depresi, seperti cuaca bulan Desember di Seattle.

Berhati-hatilah dengan kegelapan, kelesuan, putus asa, dan kesepian yang akan mereka lalui. Hadirlah untuk mereka, hari demi hari, sampai mereka muncul di sisi yang lain. Sulit menjadi teman sejati bagi seseorang yang depresi, tapi itulah salah satu hal paling ramah, paling baik dan yang paling berdampak yang pernah kamu lakukan.

Saya dan Angel telah bekerja dengan puluhan orang depresi selama bertahun-tahun, dan kami sendiri telah mengalami depresi. Satu hal yang saya yakin adalah bahwa tidak ada “satu saran cocok untuk semua” dalam hal depresi. Pengingat di bawah ini bukan klarifikasi universal, tapi panduan sederhana yang mudah-mudahan akan memberi kamu titik awal umum untuk membantu orang depresi yang kamu cintai bertahan dan sembuh, secara bertahap.

1. Depresi bukanlah sesuatu yang dipilih secara sadar.

Saat kamu tersesat jauh di hutan itu, mungkin butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa kamu tersesat. Untuk sementara, mudah saja meyakinkan diri sendiri bahwa kamu cuma melenceng dari jalur—bahwa kamu akan menemukan jalan kembali kapan saja. Kemudian malam tiba, lagi dan lagi, dan kamu masih tidak tahu di mana kamu berada, dan meskipun rasanya menyakitkan, sudah saatnya mengakui bahwa kamu telah menyesatkan diri begitu jauh dari jalur, jauh sekali ke dalam hutan, sehingga kamu bahkan tidak bisa lagi memberitahu dari arah mana matahari terbit atau tenggelam.

Kamu tidak memilih berada di tempat itu, tapi kamu tidak bisa melihat jalan keluar. Begitulah rasanya depresi bagi saya ketika saya berjuang melaluinya berbulan-bulan lalu.

Depresi adalah salah satu pengalaman emosional yang paling tak berdaya dan melelahkan yang dapat dialami seseorang. Kadang-kadang terasa kehilangan, kadang-kadang terasa sedih, dan kadang-kadang tidak terasa apa-apa sama sekali. Ada masa ketika depresi dapat membuat kamu merasa benar-benar mati di dalam dirimu, tidak mampu bergerak dan melakukan hal-hal yang tadinya kamu nikmati. Depresi bukan hanya suasana hati yang buruk, dan tentu saja bukan sesuatu yang bisa kamu atasi begitu saja saat kamu merasa seperti itu. Tidak ada yang memilih menjadi depresi, dan tidak ada yang bisa mematikan atau menghidupkannya dalam sekejap setiap kali mereka merasa seperti itu.

2. Depresi sulit dipahami jika kamu belum mengalaminya.

Beberapa orang mungkin menyiratkan bahwa mereka tahu bagaimana rasanya depresi hanya karena mereka pernah mengalami perceraian, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan orang yang dicintai. Sementara situasi kehidupan yang sulit ini dapat menyebabkan depresi, mereka tidak menciptakan depresi secara baku. Dalam kebanyakan kasus, pengalaman ini membawa serta perasaan emosional yang kuat. Depresi, di sisi lain, sering kali datar, kosong, dan tak tertahankan—secara harfiah menguras emosi, harapan, dan nalar seseorang.

Kamu tidak merasa seperti KAMU. Kamu bahkan tidak merasa seperti manusia. Kamu tak berdaya, paranoid, tanpa humor, tak bernyawa, putus asa, menuntut, dan tidak ada kepastian yang pernah cukup. Kamu takut, dan kamu menakutkan, dan kamu “sama sekali tidak seperti dirimu sendiri tapi segera akan lebih baik,” tapi kamu tahu kamu tidak akan begitu.

Inilah kutipan mengerikan dari David Foster Wallace yang menjelaskan hal ini:

“Yang disebut orang ‘depresi secara psikosis’ yang mencoba bunuh diri tidak melakukannya karena ‘putus asa’ atau keyakinan abstrak bahwa aset dan debet hidup tidak seimbang. Dan pasti bukan karena kematian tampak tiba-tiba menarik. Orang yang di dalamnya kesakitannya yang tak terlihat mencapai tingkat yang tak tertahankan akan bunuh diri dengan cara yang sama dengan orang yang terperangkap pada akhirnya akan melompat dari jendela tinggi yang terbakar.

Jangan salah tentang orang-orang yang melompat dari jendela yang terbakar. Kengerian mereka jatuh dari tempat tinggi sama besar seperti bagi kamu atau saya bila berdiri berspekulasi di jendela yang sama hanya untuk melihat pemandangan; yaitu rasa takut jatuh tetap konstan. Variabelnya dalam di sini adalah teror lainnya, nyala api: ketika api sudah cukup dekat, jatuh sampai mati menjadi sedikit kurang mengerikan di antara dua teror. Ini bukan menginginkan jatuh; ini teror api. Namun, tak seorang pun di atas trotoar, mendongak ke atas dan berteriak ‘Jangan!’ dan ‘Bertahanlah!’, bisa memahami lompatan itu. Tidak. Kamu harus secara pribadi pernah terjebak dan merasakan api untuk benar-benar memahami teror yang melampaui jatuh.”

[AdSense-A]

3. Mengatakan sesuatu seperti “itu bukan masalah besar”, “kamu hanya perlu udara segar”, atau “sudah waktunya move on” jarang membantu.

Sangat mudah untuk memberitahu seseorang yang kamu cintai hal-hal “positif” seperti ini karena kamu pikir kamu memberi mereka harapan dan membantu meringankan rasa sakit mereka, tapi bagi seseorang yang menderita depresi, ungkapan sederhana dan klise sering kali justru sebaliknya—tanpa pikiran, kosong, dan pada dasarnya tidak berguna.

Kenyataannya adalah ungkapan-ungkapan seperti ini tidak mengatasi realitas dan hanya mengganggu kecemasan di dalam, membuat orang depresi berharap mereka sendirian. Ini seperti mencoba menempelkan perban dua inci pada menganga sepanjang kaki.

Jadi apa yang bisa kamu katakan? Sekali lagi, tidak ada jawaban “satu ukuran cocok untuk semua”. Cukup jadilah suportif.

Berikut adalah gambaran kasar tentang apa yang mungkin akan saya katakan (mungkin tidak semuanya sekaligus):

“Aku mencintaimu, dan aku bukan satu-satunya. Tolong percaya aku. Tolong percaya bahwa orang-orang yang mencintaimu layak hidup meskipun kamu tidak merasakannya. Berusahalah mengingat lagi kenangan indah yang disembunyikan depresi darimu, dan proyeksikan mereka ke masa kini. Bernafaslah. Beranilah. Hadirlah di sini dan ambillah hari ini satu langkah saja sekali waktu. Berlatihlah karena itu bagus untukmu meskipun setiap langkah beratnya 900 pon. Makanlah saat makanan itu sendiri membuatmu muak. Berpikirlah dengan dirimu sendiri saat kamu telah kehilangan pikiran kamu. Aku ada di sini sekarang, dan aku akan ada di sini juga besok. Aku percaya padamu. Kita di sini bersama-sama.”

Dan kemudian saya akan memberi mereka pelukan yang lama dalam diam. Lagi dan lagi.

4. Bahkan ketika mereka mengusirmu, kamu masih bisa ada di sana untuk mereka.

“Aku tidak ingin melihat siapa pun. Aku berbaring di kamar tidur dengan tirai tertutup dan kehampaan melandaku seperti gelombang lamban. Apa pun yang terjadi padaku adalah salahku sendiri. Aku telah melakukan sesuatu yang salah, sesuatu yang begitu besar sampai aku bahkan tidak bisa melihatnya, sesuatu yang menenggelamkanku. Aku tidak mampu dan bodoh, tanpa guna. Aku mungkin sebaiknya mati saja.”

Kutipan dari buku Margaret Atwood, “Cat Eye”, mengingatkan saya pada kesepian menyedihkan dan patah semangat yang dirasakan seseorang ketika depresi. Tapi meskipun depresi membuat seseorang merasa sangat kesepian, itulah yang sering kali mendorong seseorang yang depresi untuk mencari kesendirian. Orang yang menderita depresi biasanya merasa frustrasi dengan perasaan seolah-olah mereka beban bagi orang yang mereka cintai. Hal ini menyebabkan mereka mengisolasi diri dan menjauhkan orang-orang yang sangat mereka butuhkan.

Jika orang yang dicintai menjauh karena depresi mereka, lakukan saja yang terbaik untuk mengingatkan mereka sesering mungkin bahwa kamu masih ada di dekatnya, tapi jangan paksa mereka untuk bersosialisasi atau berbicara tentang perasaan mereka jika mereka tidak mau. Bersabarlah. Masuklah perlahan-lahan.

[AdSense-B]

Perlu diingat bahwa meskipun mereka mungkin menginginkan ruang mereka, ini tidak berarti mereka ingin menghadapi rasa sakit mereka sendirian sepanjang waktu. Jadwalkan waktu untuk menghabiskan waktu dengan mereka. Tawarkan untuk mengatar mereka ke restoran favorit mereka, atau bahkan belikan makanan enak untuk mereka. Perkenalkan banyak kesempatan di mana kamu bisa mengeluarkan mereka dari rutinitas mereka, meskipun untuk beberapa menit saja. Jangkau mereka dengan interval yang acak. Jadilah hadiah, pengingat hidup bahwa mereka tidak sendirian.

5. Depresi melelahkan dan melumat orang, itulah kenapa kamu tidak bisa memasukkan dalam hati perilaku mereka.

Kelelahan tanpa henti adalah efek samping umum dari depresi. Sekadar turun dari tempat tidur di pagi hari dapat menjadi pengalaman yang luar biasa dan menyiksa. Juga, seseorang yang menderita depresi mungkin merasa baik-baik saja satu saat dan merasa benar-benar lelah pada saat berikutnya, meskipun mereka makan enak dan cukup tidur. Hal ini bisa membuat mereka membatalkan rencana, pulang dari kumpul-kumpul lebih dulu, atau berkata tidak jauh lebih sering daripada yang kamu inginkan. Ingat saja, ini bukan tentang diri kamu—ini tidak ada hubungannya dengan apa yang kamu lakukan atau tidak lakukan. Ini hanya beberapa efek samping umum dalam mengalami depresi.

Lakukan yang terbaik untuk tidak pernah terlalu ambil hati apa pun yang mereka lakukan. Orang hanya bisa memberi kepada orang lain apa yang mereka miliki, dan depresi menghilangkan hampir segalanya dari seseorang. Semua tindakan dan kata-kata kamu harus berasal dari tempat penuh cinta, tapi itu tidak berarti orang tercinta yang depresi akan selalu balas mencintai, dan itu tidak masalah. Bila kamu tidak ambil hati segala sesuatu, kamu membebaskan diri—kamu membuka diri untuk mencintai seseorang yang benar-benar membutuhkan kamu, dengan bebas, dan tanpa membiarkan harapan yang tidak perlu menghalangi banyaknya kasih sayang yang kamu mampu berikan.

Pemikiran lanjutan

Saya ingin sedikit mengulangi lagi penjelasan saya di atas tentang fakta bahwa “orang hanya bisa memberi orang lain apa yang mereka miliki.” Ingat, ini juga berlaku untuk KAMU. Merawat orang tercinta yang depresi bisa melelahkan. Jika kamu tidak benar dalam mengurus diri sendiri, kamu tidak bisa benar merawat mereka sekeras apa pun kamu mencoba. Kamu mungkin bisa hadir di sana secara fisik, tapi jika cadangan mental dan emosional kamu habis, kamu akan punya sedikit untuk diberikan.

Jadi sisihkan sedikit cinta dan kepedulian untuk dirimu sendiri juga. Isi ember kamu secara berkala. Itu berarti cukup tidur, meluangkan waktu untuk bersenang-senang dan tertawa, makan cukup sehat untuk menjaga tingkat energi puncak, dan kalau tidak, meluangkan waktu untuk memulihkan diri dari tekanan mencintai seseorang melalui depresi mereka. (Saya dan Angel membahas hal ini secara lebih rinci dalam bab Self-Love dalam buku 1,000 Little Things Happy, Successful People Do Differently.)

(Marc Chernoff)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *