9 Ucapan Yang Tidak Pernah Digunakan Orang Cerdas Dalam Obrolan

Image credit: Shutterstock

Kita semua pernah mengatakan hal-hal yang ditafsirkan orang jauh berbeda daripada yang kita harapkan. Komentar yang tampaknya ramah ini menyebabkan perasaan mengerikan yang hanya muncul jika kamu menyesali apa yang kamu katakan.

Keseleo lidah sering kali terjadi karena kita mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan tentang implikasi halus yang mereka bawa. Memahami implikasi ini membutuhkan kesadaran sosial—kemampuan untuk menyadari emosi dan pengalaman dari orang lain.

TalentSmart telah menguji kecerdasan emosional (EQ) lebih dari satu juta orang dan menemukan bahwa kesadaran sosial adalah keterampilan yang kurang dimiliki oleh kebanyakan dari kita.

Kita tidak punya kesadaran sosial karena kita begitu fokus pada apa yang akan kita katakan selanjutnya—dan bagaimana apa yang orang lain katakan memengaruhi kita—sehingga kita benar-benar melupakan orang lain.

Ini masalah karena orang itu rumit. Kita tidak bisa berharap memahami seseorang sampai kamu memfokuskan semua perhatian kamu kepadanya.

Keindahan dari kesadaran sosial adalah bahwa sedikit penyesuaian sederhana atas apa yang kamu katakan bisa sangat meningkatkan hubungan kamu dengan orang lain.

Untuk itu, ada beberapa frase yang dihindari oleh orang-orang yang cerdas secara emosional dalam percakapan santai. Berikut ini adalah sembilan kalimat paling buruk. Kamu harus menghindarinya dengan cara apa pun.

1. “Kamu tampak lelah.”

Orang lelah itu sangat tidak menarik—mereka bermata murung dan berambut berantakan, mereka sulit berkonsentrasi, dan mereka suka menggerutu. Menceritakan kepada seseorang bahwa dia tampak lelah menyiratkan semua hal di atas dan kemudian beberapa hal lagi.

Sebagai gantinya, katakan: “Apakah semuanya baik-baik saja?” Kebanyakan orang bertanya apakah seseorang lelah karena mereka berniat membantu (mereka ingin tahu apakah orang lain tidak apa-apa). Ketimbang mengasumsikan watak seseorang, tanyakan saja. Dengan cara ini, dia bisa membuka diri dan berbagi. Lebih penting lagi, dia akan melihat kamu khawatir bukannya kasar.

2. “Wah, berat badan kamu sudah turun banyak sekali!”

Sekali lagi, komentar yang bermaksud baik—dalam hal ini pujian—menciptakan kesan bahwa kamu kritis. Mengatakan kepada seseorang bahwa dia telah kehilangan banyak berat badan menunjukkan bahwa dia tadinya terlihat gemuk atau tidak menarik.

Sebagai gantinya, katakan: “Kamu terlihat fantastis.” Kalimat ini mudah memperbaiki kesan. Alih-alih membandingkan bagaimana penampilan dia sekarang dengan bagaimana penampilannya dulu, puji saja dia karena tampak hebat.

3. “Bagaimanapun kamu terlalu baik baginya.”

Ketika seseorang memutuskan ikatan dalam hubungan apa pun, pribadi atau profesional, komentar ini menyiratkan bahwa dia punya selera yang buruk dan membuat pilihan yang buruk sejak semula.

Sebagai gantinya, katakan: “Rugi dia!” Ini memberikan dukungan antusias dan optimisme yang sama tanpa kritik tersirat.

4. “Kamu selalu …” atau “Kamu tidak pernah …”

Tidak ada orang yang selalu atau tidak pernah melakukan apa-apa. Orang tidak melihat diri mereka sebagai sosok satu dimensi, sehingga kamu tidak boleh berusaha mendefinisikan mereka seperti itu. Ungkapan-ungkapan ini membuat orang-orang menjadi defensif dan tertutup pada pesan kamu, yang merupakan hal yang benar-benar buruk karena kamu mungkin menggunakan ungkapan ini ketika kamu punya hal penting untuk dibahas.

Sebagai gantinya, katakan: Cukup tunjukkan apa yang orang lain lakukan yang bermasalah bagi kamu. Berpeganglah pada fakta-fakta itu. Jika frekuensi dari perilaku itu bermasalah, kamu selalu bisa mengatakan, “Sepertinya kamu sering melakukan ini.” Atau “Kamu cukup sering melakukan ini hingga saya bisa melihatnya.”

5. “Kau tampak hebat untuk seusia kamu.”

Menggunakan “untuk se … kamu” sebagai kualifikasi selalu tampak merendahkan dan kasar. Tidak ada yang ingin menjadi cerdas untuk seorang atlet atau dalam kondisi yang baik bila dibandingkan dengan orang lain yang sedang menjelang ajal. Orang-orang hanya ingin cerdas dan bugar.

Sebagai gantinya, katakan: “Kamu tampak hebat.” Ini satu lagi perbaikan yang mudah. Pujian tulus tidak perlu kualifikasi.

6. “Seperti yang sudah saya katakan …”

Kita semua melupakan banyak hal dari waktu ke waktu. Ungkapan ini terkesan seolah-olah kamu terhina karena harus mengulanginya sendiri, yang terbilang keras bagi si penerima (seseorang yang benar-benar tertarik mendengar perspektif kamu). Merasa terhina karena harus mengulang sendiri menunjukkan bahwa entah kamu tidak nyaman atau kamu berpikir kamu lebih baik daripada orang lain (atau keduanya!). Sedikit orang yang menggunakan frase ini benar-benar merasa seperti ini.

Sebagai gantinya, katakan: Ketika kamu mengatakannya lagi, lihat apa yang bisa kamu lakukan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lebih jelas dan lebih menarik. Dengan cara ini mereka akan ingat apa yang kamu katakan.

7. “Semoga beruntung.”

Ini kalimat yang halus. Tentu bukan akhir dari dunia jika kamu mendoakan agar seseorang beruntung, tapi kamu bisa melakukan yang lebih baik karena frase ini menyiratkan bahwa mereka perlu keberuntungan untuk sukses.

Sebagai gantinya, katakan: “Saya tahu kamu punya apa yang diperlukan.” Ini lebih baik daripada berharap keberuntungannya karena menunjukkan bahwa dia punya kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil memberikan dorongan kepercayaan yang besar. Kamu akan menonjol dari orang lain yang hanya mengharapkan keberuntungannya.

8. “Terserah kamu” atau “Apa pun yang kamu mau”.

Meskipun kamu mungkin acuh tak acuh terhadap pertanyaan itu, pendapat kamu penting bagi orang yang bertanya (kalau tidak, dia tidak akan bertanya sejak semula).

Sebagai gantinya, katakan: “Saya tidak punya pendapat yang kuat, tapi beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah …” Ketika kamu menawarkan pendapat (bahkan tanpa berpihak), itu menunjukkan bahwa kamu peduli dengan orang yang bertanya.

9. “Setidaknya saya tidak pernah …”

Frasa ini adalah cara yang agresif untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan kamu dengan menunjukkan sebuah kesalahan lama yang mungkin tidak relevan yang diperbuat orang lain (dan kesalahan yang harus kamu maafkan untuk sekarang).

Sebagai gantinya, katakan: “Saya minta maaf.” Mengakui kesalahan kamu adalah cara terbaik untuk membawa diskusi ke tempat yang lebih rasional dan tenang sehingga kamu bisa membereskan masalah. Mengakui kesalahannya adalah cara yang mengagumkan untuk mencegah eskalasi.

Satukan semuanya

Dalam percakapan sehari-hari, hal-hal kecillah yang membuahkan semua perbedaan. Cobalah saran ini, dan kamu akan kagum dengan respons positif yang kamu dapatkan. (Travis Bradberry)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *