Ceriwis

Aplikasi untuk Ajari Anak Tak Takut Minum Obat buatan Mahasiswa UGM

Lutfiana Pasebhan Jati (kanan), mahasiswa UGM yang kembangkan aplikasi Meet Pharmy.

Ceriwis – Perkembangan teknologi kian hari makin pesat. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun kini sudah akrab dengan perangkat smartphone sejak dini. Oleh karena itu, sejumlah pihak memanfaatkan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah sehari-hari.

Seperti misalnya yang dilakukan mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini. Mereka meluncurkan sebuah aplikasi game di Android berjudul Meet Pharmy yang bertujuan mengenalkan profesi apoteker kepada anak.

Kelompok mahasiswa yang mengembangkan aplikasi ini adalah Ris Heskiel Najogi Sitinjak, Sinta Diva Ekananda, Wahyunanda Crista Yuda, Muhammad Fikri, Muhammar Sulhan Hadi dari Fakultas Farmasi berkolaborasi dengan Luh Rai Maduretno, dan Lutfiana Pasebhan Jati dari Sekolah Vokasi dan Laksa Ersa Anugratama dari Fakultas Peternakan.

Saat ini, aplikasi Meet Pharmy baru tersedia di Google Play Store dan bisa diunduh secara gratis. Jumlah download untuk aplikasi tersebut sejauh ini sudah mencapai lebih dari 1.000 kali.

Mahasiswa UGM yang mengembangkan aplikasi farmasi Meet Pharmy.

Lutfiana menjelaskan aplikasi Meet Pharmy bertujuan memberi pengetahuan terkait farmasi kepada anak usia 2 sampai 14 tahun. Dengan tampilan penuh warna, aplikasi yang dikembangkan sejak November 2018 ini cukup interaktif untuk anak-anak. Melalui game ini, wawasan anak-anak tentang profesi apoteker diharapkan juga meningkat.

“Di usia 2-15 tahun. Memang mereka (anak-anak) belum mengerti istilah farmasi tapi pengetahuan dasar kesehatan bisa ditransfer sejak dini,” ujar Lutfiana, saat ditemui di kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (15/5).

Sementara itu, Ris Heskiel Najogi yang juga anggota pengembang aplikasi ini mengatakan dengan aplikasi Meet Pharmy anak-anak juga bisa berkonsultasi dengan apoteker yang diberi nama Pharmy. Bahkan aplikasi tersebut bisa menyarankan obat yang perlu dikonsumsi saat sakit.

“Kalau yang di sini fokus profesi apoteker dan farmasi, obat yang dipilih adalah obat yang tanpa resep dokter. Ini meningkatkan awareness anak agar stigma obat pahit ini hilang dan mereka menganggap (obat) ini enak dan bisa menyehatkan kalian,” jelas Ris.

Aplikasi farmasi Meet Pharmy buatan mahasiswa UGM

Sejumlah fitur sederhana tapi penting disajikan di Meet Pharmy seperti informasi obat batuk, pilek, serta demam yang sering dialami anak-anak. Orang tua juga diberi modul untuk orang tua memuat informasi seputar penyakit yang disajikan.

Berkat aplikasi ini, kelompok mahasiswa UGM tersebut diganjar penghargaan medali perak dalam World Young Inventor Exhibition di International Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) 2019 di Malaysia pada awal Mei lalu. Sebelumnya, mereka telah meraih medali emas di Thailand Inventors Day pada Februari.

Andika Gumilang