Ceriwis

Banyaknya ‘Startup’, Membuat Suatu Negara Semaki Terbelakang dari Negara Lain

Uganda, Ekuador, Peru, Kamerun maupun Bolivia adalah negara dengan Startup terbanyak di dunia saat ini.

Ceriwis – Kewirausahaan bagi seluruh rakyat mungkin bukan hal yang selalu baik. Sebaliknya, mungkin merupakan simbol keterbelakangan suatu negara.

Semakin tinggi indeks, semakin aktif kegiatan kewirausahaan di negara tersebut. Dalam 10 tahun terakhir, Global Entrepreneurship Survey melakukan penelitian mengenai empat negara pusat ekonomi dunia, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Jerman.

Dalam indeks aktivitas kewirausahaan awal, China jauh memimpin di depan, lebih tinggi dari Jerman dan Jepang. Bahkan, Amerika Serikat tidak sebanding dengan China.

Dalam beberapa tahun belakangan, ada beberapa negara yang paling aktif dalam awal indeks kewirausahaan. Bukan AS, Israel, Jepang, atau negara-negara UE, melainkan beberapa negara miskin dengan PDB per kapita rendah, seperti Kamerun dan Uganda di Afrika; serta Ekuador, Peru, dan Bolivia di Amerika Selatan.

Afrika dan Amerika Selatan adalah negara dengan kewirausahaan terbanyak saat ini. But why?

Negara dengan tingkat perkembangan ekonomi yang rendah, sistem jaminan sosialnya cenderung lemah. Tidak ada jaminan apa pun dari pemerintah. Tingkat pengangguran pun sangat tinggi.

Untuk keluar dari kemiskinan, mereka kebanyakan berwirausaha sendiri. Dengan kata lain, tingkat ekonomi berkorelasi negatif dengan aktivitas wirausaha. Semakin buruk ekonomi, semakin tinggi aktivitas wirausaha.

Lain halnya, dengan negara-negara Barat. Peningkatan kewirausahaan, baik di China maupun Indonesia, terutama disebabkan oleh perubahan kelembagaan berskala besar, banyak hubungannya dengan advokasi pemerintah. Seperti 1.000 Startup Digital yang didukung oleh pemerintah Jokowi. Norma-norma sosial memiliki dampak yang sangat besar pada kewirausahaan.

Saat ini, ada dua jenis kewirausahaan atau startup di Indonesia. Pertama, startup berkualitas tinggi. Kedua, startup berkualitas rendah.

Pemerintah seharusnya tidak hanya peduli dengan jumlah startup, tetapi juga harus peduli dengan kualitasnya. Dari segi motivasi, startup bisa dibagi dua: kewirausahaan berbasis kelangsungan hidup dan kewirausahaan berbasis peluang.

Misalnya, seorang karyawan yang di PHK. Untuk bertahan hidup dan melindungi diri sendiri, dia membuka toko dan berjualan di Tokopedia. Kewirausahaan ini berbasis kelangsungan hidup.

Di lain pihak, mengejar kekayaan dan menciptakan peluang pasar baru adalah contoh Startup berbasis peluang, misalnya Gojek dan Tokopedia. Rasio kedua jenis kewirausahaan ini menentukan kualitas Startup Indonesia. Semakin tinggi proporsi kewirausahaan oportunistik, semakin baik kualitas wirausaha. Atau sebaliknya.

Misalnya pada tahun 2002 di China, lebih dari setengah wirausahawan adalah berbasis kelangsungan hidup. Kualitas wirausaha juga sangatlah rendah. Dalam 5-10 tahun terakhir, situasinya telah membaik. Kewirausahaan berbasis kelangsungan hidup telah berkurang sekitar seperlima hingga sepersepuluh.

“Ini adalah era terbaik, ini juga adalah era terburuk.” Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan pasar kewirausahaan atau Startup Indonesia saat ini.

Ilustrasi startup.

Clara Marissa

Tidak ada komentar