Ceriwis

Beginilah Cara Kota Kelahiran BJ Habibie dalam Mengenangnya

Mantan Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie melambaikan tangan kepada para pendukung ketika dia duduk bersama hadirin untuk mendengarkan Presiden AS Barack Obama menyampaikan pidato utama di Universitas Indonesia di Jakarta pada 10 November 2010.
Ceriwis – BJ Habibie meninggal dunia, ia menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat pada Rabu (11/9) tepat pukul 18.05 WIB. Setelah sepekan berada dalam perawatan rumah sakit, jantung presiden ke-3 RI ini menyerah dan memutuskan untuk kembali ke pelukan sang istri yang telah lebih dulu berpulang.
Pria bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie ini dikenal memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi pada dunia teknologi dan ilmu pengetahuan. BJ Habibie lahir sebagai pria berdarah campuran Jawa-Makassar.
Jauh sebelum memutuskan tinggal dan menuntut ilmu di Jerman, BJ Habibie lahir di sebuah kota bernama Parepare yang berada di Sulawesi Selatan. Nama Parepare mungkin tak terlalu akrab terdengar di telingamu, meski terdengar mirip dengan Kampung Inggris di Jawa Timur, Parepare sejatinya adalah kota yang berbeda.
Tonrangeng River Side.
Mengutip laman web resmi Parepare, kota ini lahir pada 17 Februari 1960 berdasarkan tanggal pelantikan dan pengambilan sumpah Wali Kota Pertama H. Andi Mannaungi, sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun 1970.
Awalnya daerah ini merupakan dataran tinggi yang dihuni semak belukar yang tumbuh secara liar dan tak teratur. Semak belukar ini tumbuh diselingi lubang tanah, mulai dari kawasan utara (Cappa Ujung) hingga ke arah selatan.
Dalam lontar Kerajaan Suppa disebutkan bahwa sekitar abad XIV seorang anak raja dari Kerajaan Suppa diketahui meninggalkan istana. Kerajaan Suppa atau yang dikenal pula sebagai Kedatuan Suppa merupakan salah satu kerajaan Suku Bugis yang disegani di wilayah Ajatappareng dan Sulawesi Selatan.
Sang anak pergi ke selatan dan mendirikan wilayah tersendiri di tepi pantai, karena ia sangat senang memancing. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai Kerajaan Soreang. Tak jauh setelahnya sekitar abad XV muncul pula sebuah kerajaan bernama Bacukiki yang lokasinya pun tak terlalu jauh dari Soreang.
Parepare dalam peta Indonesia
Suatu waktu, Raja Gowa XI Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tonapaalangga (1547-1566) tengah berkunjung untuk menjalin silaturahmi. Ia berjalan-jalan dari Kerajaan Bacukiki menuju Soreang.
Secara tak sengaja, ia terpikat dengan pemandangan yang indah saat melewati kawasan Parepare dan secara spontan berkata “Bajiki Ni Pare” yang artinya “Kawasan ini baik dibuat sebagai pelabuhan”. Apalagi sang raja terkenal sebagai orang yang ahli strategi dan juga pelopor pembangunan.
Sejak saat itulah, melekat nama “Parepare” di kawasan ini yang berarti Kota Pelabuhan. Parepare akhirnya dijadikan sebagai pelabuhan dan menampung beragam pedagang yang datang ke Kawasan Suppa.
Kapal Phinisi di Laut Parepare
Melihat lokasinya yang strategis, Belanda pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ketika mereka melihat Parepare sebagai kota pelabuhan yang strategis dan terlindungi oleh tanjung di depannya serta cukup populer pada zamannya, Belanda kemudian merebut tempat ini dan menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan.
Di situ pula Belanda bermarkas untuk melebarkan sayap dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulawesi Selatan, terutama aktivitas operasional yang berlokasi di wilayah Ajatappareng. Seiring waktu dan zaman, Parepare berubah dari sebuah Kota Pelabuhan menjadi Kotamadya.
Tak ada pula yang menyangka bahwa kota terbesar kedua di Sulawesi Selatan itu menghasilkan tokoh pemerintahan yang bukan hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga dikenal dunia.
Maka, jangan heran, jika kamu datang dari Makassar, kamu akan disambut gapura dengan tulisan yang berbunyi, “Di Kota Ini Lahir Pemimpin Bangsa Presiden III, Prof. Dr. ING. Bacharuddin Jusuf Habibie”. Seakan ingin mengabarkan pada dunia betapa bangganya Parepare menjadi saksi hadirnya sosok beliau di Indonesia dan dunia.
Belum sampai di situ saja, Parepare mengabadikan nama Habibie di berbagai tempat. Baik dalam bentuk monumen yang kini jadi destinasi wisata, institusi pendidikan, museum, sampai rumah sakit. Sebut saja monumen Patung Cinta Habibie-Ainun di sudut Lapangan Andi Makkasau, tepatnya di Jl. Karaeng Burane, Mallusetasi, Kec. Ujung.
Monumen Habibie-Ainun.
Patung itu memperlihatkan almarhum BJ Habibie bergandengan tangan dengan sang istri, almarhumah dr. Ainun. Monumen ini kian ‘laris’ jadi spot wisata traveler yang berkunjung ke Parepare, terutama bagi mereka yang pernah menonton atau menyukai film berjudul Habibie & Ainun.
Presiden berbintang Cancer itu juga diabadikan dalam nama jalan dan juga menjadi inspirasi didirikannya RS Tipe B Plus Pendidikan Ainun-Habibie yang rencananya akan rampung dan beroperasi pada 2019. Rumah Sakit Ainun-Habibie berlokasi di tepi Pantai Tonrangeng dan didesain dengan konsep Medical Tourism, yang dilengkapi Ruang Terbuka Hijau dan restoran tradisional terapung.
Untuk mendongkrak ekonomi kreatif, terutama hasil kerajinan tangan masyarakat Parepare, pemerintah setempat juga membangun Balai Ainun Habibie. Yakni sebuah gedung berlantai tiga yang berlokasi di Jalan Habibie.
Presiden Indonesia B.J. Habibie dan istrinya, Hasri Ainun melambai kepada wartawan di luar gedung Parlemen di Jakarta 01 Oktober 1999 tak lama setelah menghadiri upacara pelantikan anggota baru Parlemen.
BJ Habibie dikenal karena prestasinya yang gemilang dalam bidang pendidikan, berangkat dari hal ini Pemerintah Parepare kemudian mendirikan pula sebuah kampus negeri bernama Institut Teknologi Habibie (ITH). Kampus dengan konsentrasi teknologi itu kini tengah menunggu izin operasional untuk menerima mahasiswa baru.
Terakhir, nama besar BJ Habibie dimanfaatkan juga untuk membangun museum yang berisi tentang sejarah lengkap pria yang menuntaskan pendidikan di Jerman itu. Museum itu rencananya didirikan menggunakan rumah kelahiran beliau dan akan memamerkan seluruh tanda jasa, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
Penggunaan nama Habibie dalam setiap pembangunan merupakan megaproyek Wali Kota Parepare di kota kelahiran Presiden ke-III Indonesia itu. Sehingga, nama Habibie kelak tidak hilang dimakan waktu dan lekang dilahap zaman.

Andika Gumilang