Ceriwis

Beginilah Penjelasan Peneliti LIPI Mengenai Efek Kebakaran Hutan pada Hewan dan Tumbuhan

Sejumlah orang utan Kalimantan terlihat di Pulau Salat di tengah kabut asap yang menyelimuti di Marang, Palangka Raya, Kalimantan.
Ceriwis – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya memberi dampak negatif pada manusia. Menurut peneliti, ekosistem dan keanekaragaman hayati juga merasakan hal serupa.
Hal ini diungkap oleh Plt Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joeni Setijo Rahajoe. Joeni menyebut bahwa karhutla tahun 2019 ini, mengacu pada kejadian karhutla 1998 dan 2015, berpotensi menyebabkan 95 persen jenis tumbuhan di lokasi karhutla terbakar dan mengalami kekeringan.
“Lokasi yang terbakar menyebabkan terbukanya kondisi lahan sehingga menyebabkan lahan langsung terpapar matahari dan menurunkan fungsinya sebagai penyedia unsur hara bagi tumbuhan di atasnya untuk regenerasi hutan,” jelasnya dalam keterangan pers LIPI yang Ceriwis terima, Jumat (4/10).
“Tingkat kebakaran yang besar juga berdampak hilangnya sumber-sumber biji yang diharapkan akan tumbuh kembali di musim hujan dan menjadi sumber pengayaan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut,” lanjut dia.
Gambar udara kondisi asap yang menyelimuti hutan dan lahan di Riau.
Menurut Joeni, karhutla Kalimantan pada tahun 1998 mematikan 90 persen pohon per hektarenya. Padahal, di Kalimantan tercatat ada total 9.956 jenis tumbuhan, sedangkan di Sumatra ada 8.931 jenis tumbuhan. Di antaranya ada 3.936 tumbuhan endemik di Kalimantan dan 1.891 di Sumatera.
Joeni menerangkan bahwa angka total jenis tumbuhan yang tercatat di kedua pulau itu merupakan antara 43 sampai 53 persen dari semua jenis tumbuhan tercatat yang ada di Indonesia. Adapun total hewan yang tercatat di Kalimantan adalah sebesar 7.683 spesies dan di Sumatera sebanyak 4.546 spesies. Akibat karhutla, hewan-hewan ini jadi terancam kehilangan habitat serta tumbuhan-tumbuhan yang menjadi sumber makanan mereka.
Seekor burung terbang di tengah pekatnya kabut asap dampak dari karhutla yang menyelimuti kawasan sungai Siak di Pekanbaru, Riau, Kamis (19/9/2019).
Lebih lanjut Joeni juga mengatakan bahwa perlu waktu antara dua hingga tiga tahun sebelum tumbuhan kembali muncul di lokasi karhutla. Jenis tumbuhan yang muncul adalah semacam tumih (Combretocarpus rotundatus), gerunggang (Cratoxylum arborescens (Vahl.), dan lainnya. Jenis tersebut merupakan jenis yang asli rawa gambut tergenang sampai cenderung kering dan berpasir kuarsa.
Selain itu, ia mengatakan bahwa dalam rentan waktu yang sama, tunggul pohon yang jadi korban karhutla juga belum mulai kembali bertunas. Menurutnya, hal ini terjadi karena tingginya tingkat kebakaran hutan.

Andika Gumilang