Ceriwis
Home » Umum » Cara Mencegah Kasus-Kasus Kriminal Dengan Hipnosis

Cara Mencegah Kasus-Kasus Kriminal Dengan Hipnosis

Ceriwis – Hipnosis telah lama digunakan oleh kepolisian untuk membantu memecahkan kasus kriminal.

Hipnosis pertama kali digunakan untuk investigasi kriminal di pengadilan pada tahun 1846. Salah satu kasus yang melibatkan hipnosis adalah kasus penculikan Dan Rassier pada 1989. Dan berhasil selamat. Dua bulan kemudian, polisi mencoba melacak plat nomor dan ciri mobil pelakunya melalui metode hipnosis. Metode semacam ini dalam kepolisian dikenal dengan nama forensik hipnosis. Selain itu, di Korea Selatan pada tahun 1978 terjadi kasus penculikan yang serupa dengan korban merupakan seorang siswa sekolah dasar bernama Jeong Hyoju. Hal yang membedakan kasus penculikan ini dengan kasus penculikan yang pertama adalah orang yang dihipnotis bukanlah korban, melainkan saksi. Dengan tujuan yang sama, hipnosis ini ditujukan untuk mengingat ciri-ciri pelaku serta ciri-ciri mobil yang digunakan oleh pelaku. Kisah di Korea Selatan ini diadaptasi menjadi sebuah film yang bernama “The classified file”.

Lalu bagaimana metode ini menurut sains? Apakah metode ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?

Standar FBI untuk Forensik Hipnosis

Terdapat sebuah penelitian yang dipublikasikan di “American Journal of Clinical Hypnosis”, penelitian ini berjudul “Solving Crimes with Hypnosis”. Hipnosis sendiri didefinisikan sebagai kondisi fokus dan konsentrasi penuh. Konsentrasi penuh ini tidak selalu diimbangi dengan relaksasi. Hipnosis yang ditujukan untuk investigasi kriminal sendiri telah dikembangkan oleh Federal Bureau Investigation (FBI), sebuah lembaga investigasi Amerika Serikat di kurun waktu 1976-1977. FBI sendiri merancang standar operasional dalam forensik hipnosis yang harus diikuti. Ada tiga tahap yaitu 1. Review kasus, 2. Hipnosis, 3. Kroscek bukti yang menguatkan. Proses hipnosis ini harus direkam dengan audio dan dengan video dengan script wawancara yang telah dirancang sesuai prosedur standar. Hipnosis ini hanya boleh dilakukan oleh profesional, dan ketika dibutuhkan sketsa wajah pelaku maka sketsa artis juga datang untuk menggambar sesuai deskripsi.

Kapan Forensik Hipnosis Boleh Dilakukan?

Forensik hipnosis biasanya digunakan sebagai opsi terakhir dan hanya boleh digunakan di kasus-kasus besar seperti penculikan, perampokan, pembunuhan, pengeboman, dan lain sebagainya.

Kapan Forensik Hipnosis Tidak Boleh Dilakukan?

Forensik hipnosis tidak boleh dilakukan jika ada cacat yang ditemukan dalam proses investigasi. Selain itu forensik hipnosis juga tidak boleh dilakukan jika kredibilitas saksi atau korban diragukan, misalnya karena memiliki catatan kriminal sebelumnya.

Berikut adalah contoh kasus yang terpecahkan dengan hipnosis diambil dari jurnal yang disebutkan di atas. Nama-nama orang yang terlibat di dalamnya telah diubah.

Kasus 1 :

Pada Jumat malam, dua orang guru wanita datang ke bar setelah melalui hari yang panjang di sekolah. Guru ini adalah guru A dan guru B. Setelah malam di bar, masing-masing kembali ke rumah. Paginya guru B menelepon guru A saat pintunya diketuk seseorang. Guru B memberitahu bahwa yang mengetuk adalah seorang laki-laki kenalannya yang berjanji membantu untuk memperbaiki radiator mobil, setelahnya guru B memutus percakapan telepon dengan normal. Keesokan harinya, guru A menyadari bahwa guru B tidak datang ke sekolah, ia juga sulit untuk dihubungi. Akhirnya guru A menelepon orangtua guru B dan mereka menemukan guru B ada di tempat tidurnya dalam kondisi tidak bernyawa. Polisi datang melakukan visum dan menyatakan bahwa guru B telah dperkosa lalu dibunuh dengan tusukan pisau berkali-kali. Tidak ditemukan senjata yang digunakan untuk membunuh. Satu-satunya bukti yang tertinggal hanya sidik jari yang tertinggal di tutup toilet yang ketika diperiksa sulit sekali menemukan kecocokannya dengan data sidik jari yang ada.

Karena guru A tidak bisa mengingat nama laki-laki yang disebutkan oleh guru B, ia menjalani hipnosis yang dilakukan oleh profesional. Melalui hipnosis, aa mengingat sebuah nama George Starway. Polisi kemudian mencari orang yang bernama George Starway yang kira-kira berhubungan dengan korban. Namun, tidak ditemukan. Hipnosis kedua dilakukan dan guru A mengingat bukan George Starway, namun George yang bekerja di perusahaan Starway. Kali ini ingatan guru A benar. George yang bekerja di perusahaan Starway akhirnya tertangkap di apartemennya setelah berusaha kabur dari polisi. Bersama penangkapannya ditemukan senjata yang digunakan untuk membunuh beserta baju yang terkena cipratan darah korban.

Hipnosis.

Clara Marissa

Tidak ada komentar