Ceriwis

Dengan Teknologi Nuklir, Mahasiswa UNPAD Teliti Obat Antikanker

Luthfi Utami, Kevin Reinard, dan Risda Rahmi, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), meneliti obat antikanker payudara, di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Bandung.

Ceriwis – Kanker payudara adalah penyakit mematikan yang sering kali terlambat terdeteksi. Ada beberapa metode pengobatan yang dapat diterapkan guna menyembuhkan penderitanya.

Namun, mengingat kanker payudara tergolong sebagai penyakit berat, diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut terkait penyembuhannya dan deteksi awalnya. Luthfi Utami, Kevin Reinard, dan Risda Rahmi berusaha berkontribusi dalam hal ini.

Siapa mereka? Mereka adalah mahasiswa lintas angkatan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) yang berusaha mengembangkan obat antikanker payudara dengan pendekatan teknologi nuklir. Mereka bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Bandung.

Penelitian ini membutuhkan waktu tiga bulan. Penelitian didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan anggaran tahun 2019.

“Kita kerja sama dengan Batan, karena kerjanya dengan radioaktif tak bisa kerjakan di Unpad mengingat di sana tidak ada proteksi (nuklir). Kita lakukan di Batan Bandung,” kata Risda Rahmi saat dihubungi Ceriwis, Minggu (30/6).

Selama penelitian, tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM PE) tersebut dibimbing oleh Prof. Muchtaridi, Ph.D., Apt. Di Batan Bandung, mereka dibantu oleh Wiwit Nurhidayah, S.Si, Maula Eka Sriyani, M.Si, Rizky Juwita, M.Pharm., Apt., dan Eva Maria W., M.Si.

Metode deteksi dini ini menggunakan campuran obat dengan bahan radioaktif yang disebut dengan radiofarmaka. Ada pun, senyawa yang digunakan dalam metode ini adalah senyawa 99mTc – α-mangostin dan 131I – α-mangostin. Dalam jurnal ilmiah, senyawa-senyawa tersebut dipercaya dapat mendeteksi dan mengobati kanker payudara.

Menurut Risda Rahmi, dari dua senyawa tersebut, hanya 131I – α-mangostin yang berhasil menjadi alat deteksi maupun terapi kanker payudara.

“Senyawa ini bisa digunakan sebagai alternatif uuntuk deteksi kanker payudara. Saat disuntikkan ke pasien, senyawanya akan bergerak ke organ yang terkena sel kanker,” terang Risda Rahmi.

Sementara menurut Luthfi Utami, dalam pembuatan senyawa radiofarmaka, perlu diperhatikan keberhasilan dari pembuatan dari radiofarmaka itu. Jadi, perlu metode untuk menganalisis keberhasilan pembuatan radiofarmaka tersebut.

“Metode yang kami kembangkan ini merupakan metode baru yang green material (bahan baku dari tanaman), lebih cepat, murah, dan efektif untuk menentukan keberhasilan pembuatan radiofarmaka,” kata Luthfi Utami, seperti dikutip dari siaran pers Unpad.

Kelompok ini telah berhasil memvalidasi metode analisis radiofarmaka tersebut dan telah didapatkan pula hasil yang memuaskan, di mana senyawa yang mereka gunakan sudah siap untuk uji keamanan.

Risda Rahmi pun mengonfirmasi bahwa saat ini, pihaknya bersiap-siap melakukan uji psikokimia dan biodistribusi yang rencananya akan dilakukan Juli nanti. Uji coba ini antara lain untuk mengetahui keamanan penggunaan radiofarmaka bagi pasien. Uji coba juga akan dilakukan pada hewan.

“Karena senyawa ini belum diuji coba pada hewan maupun manusia. Dalam uji coba selanjutnya, kita akan lebih tahu data pendukung untuk digunakan kepada pasien,” katanya.

Penelitian tersebut baru berfokus pada pengetahuan bahwa senyawanya benar-benar terbentuk dan bisa identifikasi, juga untuk terapi kakker payudara. Informasi lain dari penelitian ini, deteksi maupun pengobatan kanker payudara dengan radiofarmaka bisa lebih efektif dan murah.

Clara Marissa