Ceriwis

di Amerika Serikat dan Kanada, Ada 2,9 Miliar Burung Telah Lenyap

Ilustrasi burung pipit.
Ceriwis – Sejak tahun 1970 hingga 2019, jumlah burung di Amerika Serikat dan Kanada terus mengalami penurunan yang sangat drastis. Tercatat, hanya dalam kurun waktu setengah abad, sekitar 2,9 miliar burung atau 29 persen populasi burung telah lenyap di langit Amerika dan Kanada, termasuk burung yang hidup di sekitar manusia, di padang rumput, hingga burung penyanyi.
Studi yang mempelajari hal ini telah diterbitkan dalam jurnal Science, dilakukan oleh para peneliti dari tujuh lembaga. Mereka menjelaskan, hilangnya keanekaragaman hayati di Bumi telah menjadi salah satu krisis lingkungan terbesar saat ini.
“Hasilnya bahkan mengejutkan kami sebagai peneliti. Kami tahu beberapa populasi spesies burung menurun, bahkan beberapa di antaranya menurun sangat drastis. Kami berpikir bahwa peningkatan spesies lain akan menyeimbangkan semuanya. Namun, hal itu tidak terjadi sama sekali,” tulis Ken Rosenberg, penulis utama penelitian dari Cornell Lab of Ornithology dan American Conservancy, kepada IFL Science.
“Kenapa kita harus peduli dengan hal ini? Mengingat keberadaan mereka ada di mana-mana, penurunan drastis pada burung tidak hanya menunjukkan masalah bagi mereka, tapi hal ini juga menunjukkan bahwa ada masalah besar yang ada di alam secara keseluruhan” ujar Rosenberg.
Ilustrasi burung gereja.
Dalam studi ini, para peneliti melihat data yang diambil dalam kurun waktu 50 tahun, mereka juga menggunakan 143 stasiun radar cuaca dan melakukan survei terhadap 529 burung di Amerika Serikat dan Kanada.
Hasilnya, dari 2,9 miliar burung yang hilang, burung padang rumput menjadi spesies yang paling banyak mengalami kehilangan, di mana sekitar 715 juta burung spesies ini lenyap sejak tahun 1970. Sedangkan sepertiga dari jumlah populasi burung pantai menghilang karena tersapu gelombang.
Menurut peneliti, sebagian besar burung yang hilang justru di dominasi oleh burung yang umum dijumpai oleh manusia, termasuk burung pipit, burung gereja, dan burung hitam.
Kendati begitu, ada beberapa spesies burung yang jumlahnya terus meningkat, seperti elang botak. Jumlah elang botak meningkat setelah ada larangan penggunaan pestisida DDT dan pengesahan undang-undang yang membantu melindungi burung-burung tersebut.
Pesawat dan burung di udara.
Selain itu, spesies unggas seperti bebek dan angsa juga mengalami peningkatan. Sementara spesies vireos, yang sebagian besar adalah burung pemakan serangga juga meningkat, tumbuh dengan jumlah mencapai 85 juta ekor di alam liar.
“Ini adalah contoh penting yang menunjukkan, ketika kita memilih untuk melakukan perubahan dan secara aktif mengelola ancaman yang dihadapi burung, kita dapat membuat perubahan positif untuk burung dan lingkungan secara keseluruhan,” kata Rosenberg. “Penelitian kami menunjukkan bahwa tindakan sangat diperlukan, tetapi belum terlambat untuk menyelamatkan burung dan dunia alami kita.”
Di sisi lain, menurut Aaron Bernstein, ilmuwan dari Harvard University, keanekaragaman hayati berperan penting bagi manusia, secara tidak langsung ia telah mempertahankan ketersediaan kebutuhan dasar manusia, seperti air bersih, udara bersih, dan makanan.
“Keanekaragaman hayati juga berfungsi sebagai sumber daya untuk penemuan obat-obatan baru dan sebagai sumber daya tanaman, penelitian hewan dan mikroba yang diandalkan para ilmuwan setiap hari untuk lebih memahami bagaimana sel dan organ berfungsi dalam kesehatan dan penyakit,” tulis Bernstein dalam International Encyclopedia of Public.

Clara Marissa