Ceriwis

di Israel Arkeolog Berhasil Temukan Situs Pemukiman Manusia Purba

Penemuan sisa permukiman manusia purba di Israel.

Ceriwis – Sekelompok arkeolog di Israel menemukan situs permukiman manusia purba yang hidup pada puluhan ribu tahun lalu. Situs bernama ‘Ein Qashish di Israel utara itu pertama kali diidentifikasi pada 2005 ketika para peneliti menemukan artefak batu dan tulang yang tampaknya berasal dari Zaman Batu.

Pada tahun 2013, setelah situs itu rusak akibat pembangunan jalan, para peneliti kembali menggali hampir setengah area dari situs besar itu. Setelah menggali situs tersebut, para peneliti menemukan sisa-sisa kerangka dari tiga individu, dua di antaranya merupakan manusia Neanderthal.

Penemuan ini memungkinkan para arkeolog untuk mulai membangun gambaran mengenai para penghuni situs tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui alasan mereka tinggal di situs tersebut pada zaman itu dan untuk apa menggunakan situs tersebut. Hasil temuan dari penggalian besar-besar di situs tersebut telah dipublikasikan di Jurnal PLOS One.

Rangkaian penelitian tersebut dipimpin Ravid Ekshtain dari Hebrew University of Jerusalem. Ekshtain dan timnya menganalisis lapisan tanah setebal 4,5 meter yang diketahui berumur antara 71.000 dan 54.000 tahun. Tidak hanya ada sisa-sisa fosil manusia Neanderthal, tim peneliti juga menemukan lebih dari 12.000 artefak dari seluruh periode lapisan tanah tersebut.

Ilustrasi evolusi manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut merupakan wilayah permukiman berulang kali ditempati. Para peneliti menyatakan bahwa manusia Neanderthal kemungkinan tinggal di situs itu antara 70.000 dan 60.000 tahun yang lalu.

Hasil analisis terhadap artefak dan tulang yang ditemukan di situs tersebut menunjukkan bahwa semasa hidupnya para penghuni situs itu membuat alat-alat dan melakukan perburuan terhadap hewan.

“Salah satu temuan (di situs itu) adalah bagian besar dari kerangka seekor sapi liar, termasuk inti tanduknya, yang ditemukan di area yang dikelilingi oleh banyak artefak batu. Temuan ini menunjukkan lokasi kematian hewan itu karena tidak mungkin hewan besar seperti itu diangkut dari lokasi jagal ke area kegiatan konsumsi,” kata Ekshtain, sebagaimana dilansir di Newsweek.

Ekshtain mengatakan situs itu tampaknya memang menarik bagi kaum Neanderthal karena dekat dengan sumber air dan ceruk ekologi yang berbeda, seperti gunung dan dataran rendah yang relatif rendah. “Para penghuni situs ini dapat berburu binatang dengan mengeksploitasi beragam (jenis) habitat,” katanya.

Bukti arkeologi telah menunjukkan bahwa Neanderthal meninggalkan wilayah Levant, Mediterania Timur, sekitar 50.000 tahun yang lalu. “Usia (situs) ‘Ein Qashish sangat dekat dengan akhir periode ini [dan] tampaknya menjadi situs yang dihuni berulang kali,” simpul Ekshtain.

Melanie Putri

Tidak ada komentar