Ceriwis

Forex Diskusi apapun tentang Forex disini.


Mau Pasang Banner/Iklan? Klik disini ACY - Analisa Market - Page 23 - Ceriwis - Komunitas dan Forum Jual Beli
Reply
  ⚡ AMP
Thread Tools
  #221  
Old 6th May
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Potensi Rate Cut RBA Dan RBNZ Pekan Ini


Walaupun angka NFP AS Jumat pekan lalu (06/Mei) menunjukkan kenaikan, Dolar AS justru kehilangan gain mingguan versus sebagian besar mata uang mayor lainnya.

Perlu diketahui, jumlah pekerjaan baru yang tercatat dalam laporan NFP April 2019 adalah sebesar 263,000, lebih tinggi dari forecast 181,000. Sementara itu, tingkat pengangguran jatuh ke level terendah 40 tahun di 3.6%, lebih baik dari ekspektasi pasar di 3.8%. Sayangnya, data upah pekerja per jam yang mengecewakan membuat pergerakan Greenback menjadi lesu. Laporan tersebut diketahui hanya tumbuh 0.2%, lebih rendah dari proyeksi kenaikan ke 0.3%.

Tak dapat dipungkiri, komponen upah dalam ketenagakerjaan AS merupakan indikator penting yang diawasi para pejabat The Fed dalam beberapa bulan terakhir. Dalam prinsip "sebab-akibat", pertumbuhan upah biasanya sejalan dengan kenaikan inflasi yang termasuk dalam pengukuran utama The Fed di sektor konsumsi.

Respon pesimis yang ditunjukkan USD pasca kenaikan GDP Q1 ke 3.2%, ditambah dengan penurunan harga yang terjadi pasca rilis data upah, membuat para pengamat pasar mencermati bahwa divergensi pertumbuhan yang telah mendukung USD selama ini telah mencapai puncaknya. Jika hal itu benar terjadi, maka rilis data dan event pekan ini akan menjadi faktor penentu, yang membuktikan apakah puncak divergensi pada pertumbuhan USD hanya berlangsung sementara atau tidak.

Di sisi lain, bank sentral Australia (RBA) dan New Zealand (RBNZ) akan melangsungkan pertemuan kebijakan, masing-masing di hari Selasa (07/10) dan Rabu (08/10). Proyeksi pasar memperkirakan jika dibanding RBA, RBNZ lebih mungkin memangkas suku bunganya minggu ini.

Dengan NZD/USD yang melemah lebih dari 5% sejak 27 Maret, prospek Rate Cut RBNZ kini telah mencapai 50%. Dilihat dari segi teknikal, reli 50 poin dari Low hari Jumat (0.6605) mengindikasikan bahwa para trader forex sebaiknya jangan terlalu yakin jika pemotongan suku bunga dalam waktu dekat akan menjadi "kebijakan sekali waktu". Sebaliknya, langkah ini bisa menjadi awal mula dari siklus penurunan suku bunga bagi RBNZ.

Di lain pihak, kemungkinan Rate Cut RBA pekan ini hanya mencapai 30%. Namun, forecast penurunan suku bunga untuk sepanjang tahun ini adalah sebanyak 2 kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, dan kemungkinannya sudah mencapai 40%. Karena itu, ACY memperingatkan para trader forex untuk mengantisipasi Statement RBA pada Selasa besok.
AUD/USD sendiri telah merosot lebih dari 3% sejak 18 April, ketika pair tersebut melewati batas 0.7200. Harga kemudian menyentuh level rendah baru pada akhir pekan lalu di level 0.6985, sebelum akhirnya pulih ke 0.7220 pada sesi penutupan. Menurut ACY, Dolar Australia berpotensi turun ke area 0.7060 jelang pengumuman suku bunga RBA, dan berpotensi melesat hingga ke 0.7100 jika bank sentral tersebut mempertahankan suku bunganya.

Sementara itu, EUR/USD sukses rebound hingga 60 poin dari level rendah Intraday di 1.1135 yang tercapai Jumat kemarin. PMI Jasa Zona Euro yang akan dirilis sore nanti akan menjadi katalis pertama untuk menguji penguatan mata uang Euro di pekan ini. Titik High minggu lalu di 1.1265 bisa dipatok sebagai resistance terdekat, apabila laporan PMI lebih baik dari ekspektasi.

Pasar finansial Jepang masih tutup hingga Rabu besok, membuat pasangan mata uang USD/JPY perlahan turun. Pair tersebut belum pernah diperdagangkan di atas 112.00 dalam lebih dari sepekan terakhir, dan cenderung melemah pada akhir minggu lalu. Key support berikutnya masih bertahan di area 110.60/70.

Sterling diperdagangan di level tertinggi 6 minggu pada 1.3170, setelah hasil pemilu lokal Inggris menunjukkan bahwa partai PM May kehilangan hampir 1000 kursi di dewan perwakilan daerah. Tampaknya, ini akan menjadi persoalan baru dalam negosiasi Brexit dan bisa mengarah pada nuansa Brexit yang lebih soft karena berkurangnya pengaruh pihak Konservatif.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229

Last edited by djamirun_aje; 6th May at 01:01 PM.
Sponsored Links.
0
Sponsored Links.
3
  #222  
Old 9th May
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

USD/JPY Melemah Di Tengah Memanasnya Tensi Dagang

Pada hari yang sama di minggu lalu, delegasi AS dan China dalam proses negosiasi dagang sama-sama mengutarakan Statement yang menggembirakan pasar finansial global, dengan memproyeksikan bahwa persetujuan yang komprehensif antara kedua negara akan tercapai pada 10 Mei.

Outlook ini membuat trader forex terlalu "nyaman", sehingga mereka sama sekali tidak siap ketika Presiden Trump mengindikasikan usainya gencatan senjata perang dagang yang sudah berlaku sejak Desember tahun lalu.

Melalu cuitannya di Twitter, Trump menyatakan bahwa tarif saat ini yang sebesar 10% dan diberlakukan pada 200 miliar USD barang-barang China, akan dinaikkan menjadi 25% pada hari Jumat mendatang. Kemudian, 325 miliar USD produk-produk China yang lain juga akan dibebani tarif 25% dalam beberapa minggu ke depan.

Spekulasi awal mengenai imbas kenaikan-kenaikan tarif di atas mengestimasi bahwa kebijakan terbaru Trump bisa mencukur sekitar 2.0% dari GDP China, dan dapat mengempaskan 10% dari GDP AS di sepanjang tahun 2019.

Jika memperhatikan laporan neraca perdagangan China terbaru, maka terlihat bahwa perubahan tarif impor AS telah begitu mempengaruhi dinamika ekspor impor China. Surplus perdagangan China secara mengejutkan merosot di bulan April, hanya mencapai 95 miliar USD, lebih rendah dari forecast pasar yang memperkirakan surplus hingga 265 miliar USD.

Penurunan surplus tersebut berkontribusi pada penurunan ekspor secara year-on-year ke level 2.7%, begitu juga dengan kenaikan 4% pada data impor. Padahal, impor China sempat turun 10% di bulan Maret. Ironisnya, surplus perdagangan China terhadap AS secara khusus justru meningkat 10% sejak tarif impor Trump pertama kali diterapkan.


Seperti halnya yang biasa terjadi ketika pasar finansial sedang dalam mode Risk Off, USD/JPY diperdagangkan melemah. Pair tersebut dibuka dengan gap turun pada pembukaan sesi Asia Senin lalu (06/Mei), dan memasuki level di bawah 110.00 untuk pertama kalinya dalam lebih dari 6 pekan terakhir.

Level rendah Intraday 25 Maret terbentuk di kisaran 109.70. Dalam pandangan ACY, jika USD/JPY terus turun hingga menembus level tersebut, maka akan memicu pelepasan posisi Long lebih lanjut, dan mendorong trader untuk membuka posisi Short baru untuk mengikuti Downtrend. Walaupun indikator-indikator di Chart Daily tengah mendekati level Oversold, target support terdekat masih cukup jauh dari harga saat ini, yakni di area 108.60.

Sementara itu, RBA memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya pada hari Selasa lalu (07/Mei). Ini menandai kebijakan suku bunga di kisaran rendah 1.50% selama 34 bulan berturut-turut. Menariknya, Yield Obligasi Australia kini sudah berada di bawah 1.50%, mengindikasikan bahwa suku bunga RBA sudah semakin tertinggal dari kondisi pasar yang sebenarnya.

Secara teknikal, rebound AUD/USD pasca pengumuman RBA telah terhenti di dekat level 0.7050. Indikator-indikator momentum ACY untuk pair ini masih menunjukkan sinyal pelemahan.

Setelah diperdagangkan melemah ke 1.1130 pada awal Senin lalu, EUR/USD cenderung bergerak dalam range 50 poin di kisaran 1.1170 dan 1.1220 selama dua sesi perdagangan terakhir. Serangkaian posisi Option di kisaran 1.1150 akan kadaluarsa besok, dan ini bisa semakin membuka jalan penurunan EUR/USD lebih lanjut menuju 1.1100.

Reli Sterling minggu lalu tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kekhawatiran Brexit baru yang menekan GBP/USD hingga ke bawah level 1.3050. Angka preliminer GDP Inggris yang akan terbit Jumat depan diprediksi flat, dan menurut standar UE, hal ini sudah cukup baik. Secara teknikal, resistance terdekat GBP/USD berada di 1.3090, sementara support-nya ada di 1.2840.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #223  
Old 13th May
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Data Ekonomi Vs Perang Dagang, Manakah Yang Jadi Katalis Minggu Ini?

Dengan dimulainya minggu baru, persoalan dagang AS-China turut memasuki ketidakpastian baru: seberapa agresif Beijing akan membalas pemerintah AS yang baru saja meningkatkan tarif impor dari 10% menjadi 25%, dan seberapa cepat AS menerapkan tarif baru tersebut pada barang-barang China senilai 200 miliar USD.

Para pakar teknikal yang berpendapat jika pola-pola harga di chart lebih berdampak dari berita fundamental, menganggap bahwa memanasnya tensi dagang AS-China hanyalah noise di tengah dinamika trend dan retracement harga.

ACY tidak sependapat dengan pandangan tersebut, mengingat gesekan dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tampak semakin menjauh dari penyelesaian yang komprehensif.


Akan tetapi, belum adanya perkiraan waktu yang tepat bagi kebijakan balasan China, juga minimnya gambaran mengenai pernyataan-pernyataan berikutnya dari Washington, membuat ACY beralih pada data ekonomi berdampak tinggi untuk memperkirakan bagaimana dampaknya terhadap outlook teknikal berbagai pair mayor.

Berdasarkan jadwal di kalender ekonomi, Zona Euro akan menjadi kawasan yang paling banyak merilis data penting pekan ini. Di antara beberapa laporan tersebut, angka Industrial Production Zona Euro dan survei ZEW Jerman di hari Selasa layak dicermati, begitu pula dengan Flash GDP di hari Rabu, dan pertemuan Menteri Keuangan Uni Eropa pada hari Jumat.

Setelah menguji level 1.110 pada 26 April silam, EUR/USD rebound dan menutup perdagangan pekan lalu di level harga yang lebih tinggi dari 9 sesi sebelumnya. Area 1.1260 terpantau menjadi level pengujian di chart Daily yang selaras dengan level MA-50. Grafik RSI saat ini terpaut di 52.00, mengindikasikan potensi penguatan harga ke 1.1280/90 bila data-data ekonomi Zona Euro minggu ini sukses melewati ekspektasi. Support terdekat EUR/USD berada di 1.1180. Jika harga menembus level tersebut, maka ini akan menjadi sinyal bahwa koreksi kenaikan harga sudah berada di titik jenuh.

Sementara itu, terdapat dua laporan ekonomi berdampak tinggi yang dapat mempengaruhi pair-pair AUD pekan ini, yakni indeks upah dan laporan ketenagakerjaan. Mengingat RBA telah menandai pertumbuhan tenaga kerja dan inflasi sebagai kunci bagi kebijakan moneter bank sentral, maka rilis Wage Price Index di hari Rabu dan laporan ketenagakerjaan pada Kamis mendatang akan diperhatikan pasar untuk menentukan timing penyesuaian suku bunga RBA.

Selama 4 minggu terakhir, pasangan mata uang AUD/USD terus melemah. Walaupun momentum penurunan tampak melambat di akhir pekan lalu, harga bisa kembali merosot bila level 0.6960 terpatahkan. Resistance AUD/USD kini berada di area 0.7030 hingga 0.7060. Menurut outlook ACY, hanya penutupan harga di atas 0.7060 yang bisa membalikkan downtrend jangka menengah AUD/USD.

USD/JPY membuka pekan lalu dengan gap turun dari 111.10, dan mencatatkan level terendah 3 bulan pada kisaran 109.55 di hari Kamis. Rilis data ekonomi terpenting dari Jepang untuk minggu ini adalah laporan PPI, yang diproyeksi bertahan di kisaran 1.3%. Meskipun angka tersebut masih di bawah target 2.0% BoJ, tercapainya level 1.3% akan menjadi kabar positif karena menunjukkan kenaikan 0.6% dari periode sebelumnya.

Daily RSI di chart USD/JPY turun ke level 27.00 pada Rabu silam, yang mengindikasikan peluang konsolidasi di bawah 110.50 untuk awal pekan ini. Walaupun gap harga seringkali memicu aksi harga, tampaknya perlu terbentuk reli tajam di pasar ekuitas global untuk memicu pengujian USD/JPY di kisaran 111.00 minggu ini.

Di samping perkembangan-perkembangan dalam berbagai negosiasi terkait Brexit, laporan ketenagakerjaan Inggris pada Selasa besok dapat menggerakkan Sterling versus mata uang mayor lain. Tingkat pengangguran diekspektasikan tetap di 3.9%, sementara Claimant Count Change diperkirakan turun tipis menjadi 24k. ACY menilai GBP/USD berpotensi pulih dari penurunan 1.3% di minggu lalu, yang sempat membawa harga menyentuh level rendah 2 minggu di 1.2965.

Di chart Daily, support kunci GBP/USD terletak tidak jauh dari kisaran terendah April di antara 1.2860 dan 1.2800. Dengan pembicaraan Brexit yang masih sulit diprediksi hasil akhirnya, nyaris tak ada katalis untuk mengubah arah tren jangka menengah GBP/USD pekan ini.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #224  
Old 16th May
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Pasar Masih Terjebak Dalam Tensi Dagang AS-China

Tak butuh waktu lama bagi Beijing untuk merespon keputusan AS yang menaikkan tarif dagang dari 10% menjadi 25%. Selasa lalu (14/Mei), Pemerintah China balas mengumumkan tarif 25% pada 90% barang-barang yang diimpor dari AS, dengan pengecualian yang cukup menonjol terhadap minyak mentah.

Walaupun eskalasi konflik dagang ini dinilai sangat memprovokasi pasar global, baik AS maupun China sebenarnya masih membuka pintu untuk kembali ke meja negosiasi. Terlebih lagi, kenaikan tarif dari China baru akan berlaku pada 1 Juni mendatang, dan perubahan bea impor dari AS tidak akan diterapkan pada pengiriman barang-barang China yang sudah transit.

Selain itu, implementasi kenaikan tarif AS terhadap barang-barang China lain senilai 250 miliar USD kemungkinan butuh waktu sekitar sebulan untuk dimatangkan. Padahal, baik Presiden Trump maupun Xi telah mengutarakan niat mereka untuk kembali bernegosiasi dalam pertemuan G20 bulan depan di Osaka, Jepang.

Antara saat ini hingga 28 Juni, ACY memperkirakan jika kedua pihak yang berkonflik akan saling menyalahkan satu sama lain perihal runtuhnya progres kesepakatan dagang yang sebelumnya sudah mulai terbangun. Selain itu, meski AS dan China sama-sama terlihat masih ingin membuat kesepakatan, pemimpin kedua negara itu tampak mulai mengubah fokus kepentingan mereka, dari yang semula tertuju pada dampak ekonomi, kini menjadi pertimbangan politis.

Untuk saat ini, para trader forex sebaiknya tetap mengawasi perkembangan terbaru seputar isu dagang AS-China sembari memonitor pergerakan harga di chart. Hal ini bisa memberikan kejelasan lebih lanjut seputar arus pergerakan mata uang dalam jangka pendek. Secara umum, satu hal yang paling jelas hingga bulan depan adalah Xi dan Trump dipastikan bertemu di Jepang, dan masing-masing akan mengusung ancaman tarif sebagai senjata yang siap ditodongkan.


USD/JPY terus merasakan imbas negatif dari naiknya tensi dagang AS-China. Pair ini sama sekali belum diperdagangkan di atas 110.00 dalam 5 sesi perdagangan terakhir, dan malah terlihat akan turun hingga ke batas 108.00. Saat ini, volume Option "No Touch" dengan strike price di harga 108.60 sudah mencapai 2 miliar USD.

Sementara itu, EUR/USD masih bertahan di atas support pekan lalu pada kisaran 111.70. Akan tetapi, indikator momentum mengindikasikan downside sebagai pergerakan yang lebih memungkinkan ketimbang sebaliknya. Persoalan anggaran Italia yang berpadu dengan angka-angka GDP Uni Eropa, tampaknya dapat membatasi rebound Euro di bawah 1.1225 jelang akhir pekan ini. Jika skenario itu terbentuk, maka support kunci berikutnya untuk EUR/USD berada di dekat 1.1110.

Pasangan mata uang AUD/USD terus merosot hingga menyentuh 0.6920, yang merupakan level terendah sejak flash crash pada 3 Januari lalu. Data ketenagakerjaan yang rilis hari ini umumnya memegang peranan penting dalam pergerakan jangka pendek Dolar Australia, tapi menurut ACY, laporan ekonomi tersebut tak akan berhasil membalik Downtrend yang mendominasi AUD/USD saat ini.

Satu-satunya perkembangan riil terkait masalah Brexit sejauh ini adalah lonjakan pesat pada polling dukungan untuk Partai Brexit yang baru terbentuk. Organisasi politik yang digawangi oleh Nigel Farge (mantan pimpinan UKIP) ini diperkirakan sanggup memanen 30% suara dalam popular vote selama beberapa minggu ke depan. Pengaruh kabar ini bagi Sterling cenderung negatif, dengan GBP/USD yang menguji level terendah 3 bulan di 1.2830 dalam sesi perdagangan sebelumnya.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #225  
Old 4 Weeks Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Euro Melemah Jelang Pemilu Parlemen Uni Eropa

Walaupun kalender ekonomi pekan ini tak terlalu dipadati dengan data berdampak tinggi, ada beberapa event penting yang dapat menggerakkan pair-pair mayor untuk menguji atau menembus level-level krusial.

Dalam beberapa hari terakhir, baik China maupun AS sama-sama melaporkan penurunan output manufaktur dan Retail Sales. Konsekuensinya, PBoC kemungkinan besar akan segera mengumumkan stimulus tambahan, sementara The Fed diperkirakan tetap mempertahankan kebijakannya saat ini.

Divergensi kebijakan moneter di atas dapat menambah dorongan pada USD/CNH, yang dalam 10 hari terakhir terlah menguat hampir 3% dan menyentuh level tertinggi 6 bulan di 6.9475 pada penutupan sesi perdagangan New York akhir pekan lalu.

Secara historis, Beijing pernah mempertahankan posisi CNH di level 7.00 saat volatilitas pasar sedang tinggi, tepatnya pada awal tahun 2017 dan akhir tahun lalu. Kemungkinan besar, PBoC akan kembali mencari cara untuk menahan kenaikan USD/CNH di 7.00. Namun apabila bank sentral tersebut gagal dan batas 7.00 ditembus, maka ACY memperkirakan jika pasar finansial global akan kembali ke mode Risk-Off.

Meskipun eskalasi tarif dagang terkini telah berimbas pada AUD, NZD, dan JPY dalam pola historis yang tipikal di 10 sesi perdagangan sebelumnya, investor belum benar-benar menghubungkan dampaknya terhadap Euro. Baru di minggu lalu, para pelaku pasar forex benar-benar memperhitungkan peningkatan risiko tensi dagang di Zona Euro.

Sementara itu, Pemilu Parlemen Uni Eropa akan dimulai pada Kamis mendatang (23/Mei), dan hasilnya akan diketahui pada 26 Mei. Hasil polling di berbagai negara anggota Uni Eropa sejauh ini memprediksikan bahwa partai-partai yang berhaluan Center-Left bakal mendapat suara mayoritas. Namun, partai-partai nasionalis dan populis yang cenderung bersayap kanan juga dapat menghadirkan perubahan arah kekuasaan di Brussels.



Jika dikombinasikan dengan racangan kesepakatan Brexit yang masih tak menentu, perselisihan dengan pemerintah Italia soal defisit anggaran, dan data manufaktur Jerman, maka minimnya suara dukungan bagi kelompok Center-Left di Pemilu Parlemen UE dapat mempercepat laju penurunan EUR/USD.

Dari perspektif teknikal, setelah EUR/USD gagal menembus 1.1270 pada 13 Mei, harga langsung tertutup di bawah level tersebut selama 5 hari berturut-turut dan membentuk pola reversal mingguan di chart Daily. Apabila harga selanjutnya bisa mematahkan level rendah April di 1.1100, maka EUR/USD dapat memperpanjang penurunannya ke area 1.1020/30.

Karena pengaruh volatilitas di pasar ekuitas global, USD/JPY merosot hingga ke area terendah 4 bulan di kisaran 109.00, sebelum kembali menguat ke 110.00 pada akhir minggu lalu. Indikator momentum untuk pair ini belum menunjukkan indikasi positif, dan USD/JPY juga masih bergerak di bawah level MA 30 (111.10).

Dolar Australia terjun bebas pada pekan lalu, melemah hingga lebih dari 2% ke area 0.6600. Spekulasi yang semakin menguat tentang pemotongan suku bunga RBA dari 1.50% ke 1.25% di awal Juni mendatang, serta lemahnya data permintaan dari China, akan menjadi 2 hal yang membebani pergerakan AUD/USD.

Di chart Daily, RSI bergerak ke bawah 30.00 untuk pertama kalinya dalam 2.5 tahun. Dengan Yield Obligasi pemerintah Australia yang hanya 14 basis poin lebih tinggi dari suku bunga saat ini, AUD/USD masih berpotensi naik menembus 0.6800 dalam jangka pendek.

Sejak menyentuh level tinggi di kisaran 1.3175 pada 3 Mei, GBP/USD jatuh hampir 500 poin dan ditutup di area 1.2710 pada sesi perdagangan Jumat lalu (17/Mei). Indikator momentum masih terlihat menurun, meskipun Daily RSI sudah mencapai level terendah 9 bulan di level 28.00. Walaupun kabar positif dari Brexit yang dapat mendukung reli Sterling masih jauh dari perkiraan, ACY melihat adanya peluang sell EUR/GBP di area 0.8800.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #226  
Old 4 Weeks Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

RBA Akhirnya Siap Longgarkan Kebijakan

Reserve Bank of Australia (RBA) terakhir kali menggelar rapat kebijakan pada 7 Mei silam. Dalam meeting tersebut, anggota dewan sepakat untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 1.50%, rekor yang tak berubah dalam 34 bulan terakhir.

Menyusul keputusan tersebut, AUD/USD menguat ke 0.7050 seiring dengan reaksi trader forex terhadap pergeseran arah ekspektasi kebijakan, juga harapan tercapainya solusi untuk konflik dagang AS-China. Kedua faktor ini tadinya diekspektasikan dapat menopang penguatan Dolar Australia.

Akan tetapi, sejak negosiasi dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia menemui jalan buntu di minggu lalu, AUD/USD praktis hanya bisa meluncur ke satu arah, yakni jalur penurunan. Pair tersebut bahkan mencapai level terendah 4 bulan di 0.6840 pada hari Selasa lalu (21/Mei). Pelemahan signifikan pada hari itu juga dipicu oleh komentar Gubernur RBA, Philip Lowe, dalam sebuah konferensi pers di Brisbane. Ia mengungkapkan bahwa bank sentral "terbuka untuk menetapkan pemangkasan suku bunga di bulan Juni".


Dari perspektif pasar, meeting RBA 4 Juni mendatang diproyeksikan memiliki peluang pemotongan suku bunga 25 bps sebesar 90%. Sementara untuk rapat di bulan Agustus, pasar memperkirakan jika ada 60% kemungkinan bagi RBA untuk menurunkan suku bunga lagi hingga ke level rendah historis di 1.00%.

Dari perspektif yang lebih luas, satu-satunya argumen yang tak mendukung pelonggaran kebijakan RBA pada bulan Juni mendatang adalah: anggota dewan bisa saja memilih untuk menyimak laporan ketenagakerjaan lebih lanjut sebelum memulai siklus pelonggaran. Namun melihat retorika dovish yang cukup jelas dari pernyataan Lowe, ACY menilai jika RBA akan lebih memilih untuk memotong suku bunga ketimbang mempertahankannya lagi.

Dengan pertemuan kebijakan yang sudah tinggal 2 minggu lagi dari sekarang, AUD tampaknya akan tetap melemah versus mata uang negara-negara G7. Namun karena pair AUD/USD sudah 4.5% lebih rendah dari level tinggi April di 0.7210, kelanjutan Downtrend dalam jangka pendek kemungkinan besar akan lebih disebabkan oleh sentimen dari Dolar AS.

Sementara itu, EUR/USD relatif bergerak dalam range sempit, yakni sekitar 40 poin di minggu ini. Sebagai informasi, pemilu parlemen Uni Eropa akan mulai digelar hari ini (23/Mei). Tak heran, terdapat beberapa posisi Option berukuran besar yang ditempatkan di antara 1.1112 dan 1.1150, dengan expiry time di sesi London hari ini.

Mengingat mata uang tunggal Euro masih kesulitan menembus batas 1.1200 dalam 7 sesi perdagangan terakhir, ACY memprediksi jika momentum jangka pendek untuk EUR/USD masih cenderung melemah di chart Daily. Level rendah April di 1.1110 bisa menjadi poin teknikal krusial, dengan support terdekat berikutnya di area 1.1020/30.

Sejak menyentuh level terendah 4 bulan di 109.05 pada 13 Mei silam, pair USD/JPY terus menanjak dalam 5 dari 6 sesi perdagangan terakhir. Harga bahkan sempat menyentuh level tinggi 110.60 di sesi Asia kemarin (22/Mei). Meskipun begitu, USD/JPY belum diperdagangkan di atas MA 30 sejak 2 Mei, sehingga indikator-indikator momentumnya cenderung memperlihatkan penurunan. Jika harga tertutup di bawah 109.90, MACD akan bertransisi ke area negatif dan mengindikasikan retest harga ke support 109.00.

GBP/USD konsisten melemah hingga ke level 1.2600, sejalan dengan kegagalan PM Theresa May untuk menggalang dukungan Parlemen terkait masalah draft kesepakatan Brexit yang masih berlarut-larut. Di lain pihak, Partai Brexit yang baru berdiri justru sukses meraih banyak dukungan. Perubahan dinamika politik ini dianggap pasar sebagai meningkatnya kemungkinan Hard Brexit; inilah mengapa GBP/USD terus diperdagangkan turun.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #227  
Old 3 Weeks Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Saham Global Terkoreksi, Risk-Off Mendominasi
Setelah berbagai indeks saham AS mencatatkan level tinggi baru di akhir April, eskalasi konflik dagang AS-China mendorong pasar ekuitas global ke zona merah di sepanjang bulan Mei. Meskipun saham-saham negara G7 relatif pulih setelah AS menetapkan kenaikan tarif impor baru, masuknya perusahaan teknologi raksasa Huawei di blacklist perdagangan AS membuat potensi sell-off kembali meningkat.

Maka dari itu, ACY menilai cukup penting untuk meninjau respon pasar forex secara umum terhadap ketidakpastian di pasar saham, atau yang sering juga disebut sebagai Risk-Off. Selama ini, selalu ada korelasi kuat antara pasar ekuitas dan pergerakan harga di pasar forex. Ketika saham berada di bawah tekanan sell, USD dan JPY cenderung menguat karena investor mengakui dua mata uang tersebut sebagai safe haven di kala pasar bergejolak.


Dalam kondisi pasar saat ini, Dolar AS juga tengah kebanjiran arus permintaan akibat selisih suku bunga AS versus negara mayor lain. Jadi meski tanpa disebabkan oleh perburuan safe haven sekalipun, USD tetap bisa unggul karena investor telah mencerna bahwa bank sentral New Zealand, Australia, dan Zona Euro mensinyalkan jika stimulus lanjutan dan pemangkasan suku bunga adalah kebijakan yang sudah mereka persiapkan.

Di sisi lain, JPY selama ini akrab diperhitungkan sebagai funding currency. Suku bunga Jepang yang hampir mendekati nol selama beberapa dekade memang menyediakan keuntungan Swap positif dalam Carry Trade yang melibatkan JPY sebagai pembanding untuk membeli mata uang atau aset finansial lainnya. Namun ketika volatilitas pasar meningkat dan pasar ekuitas melemah, investor justru lebih memilih untuk melikuidasi perdagangan-perdagangan mereka dan mengalihkan dana kembali ke JPY. Hal ini pada akhirnya memicu lonjakan permintaan terhadap Yen.

Pada sesi perdagangan Asia kemarin (29/Maret), USD/JPY melemah ke level terendah dua minggu di 109.15, seiring dengan kemerosotan Nikkei 225 ke bawah 21,000.0 untuk ketiga kalinya dalam bulan ini. Level support USD/JPY berikutnya terpatok di level 110.865, yang menurut pengamatan ACY merupakan level expiry dari posisi Option senilai 1.5 miliar JPY. Jika pasar saham terus melanjutkan pelemahannya, maka support 110.85 akan diuji di akhir pekan.

Setelah bullish reversal menuju 0.6900 di pekan lalu, AUD/USD sudah 4 kali gagal menembus level resistance 0.6940. Laporan CAPEX hari ini adalah market mover yang menunjang pergerakan harga. Dengan hasil rilis yang di bawah proyeksi, AUD/USD kemungkinan akan menguji kembali level support di 0.6865.

Sementara itu, EUR/USD cukup banyak diperdagangkan setelah Unemployment Change Jerman kemarin dilaporkan meningkat di luar dugaan. Jumlah penduduk menganggur di negara itu bertambah 60,000, jauh lebih tinggi dari konsensus pasar di 8,000. Mata uang Euro pun tertekan hingga ke bawah 1.1150. Area 1.1100 akan menjadi level support selanjutnya, yang kemungkinan masih di luar jangkauan untuk hari ini.

GBP/USD sukses bertahan di atas Low pekan lalu di kisaran 1.2610, walaupun indikator momentum tidak menunjukkan sinyal-sinyal reversal naik yang berkelanjutan. Pergerakan naik ke atas 1.2725 akan meringankan sentimen bearish untuk Pound, paling tidak hingga muncul pemberitaan Brexit selanjutnya.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #228  
Old 2 Weeks Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Outlook Pasar Jelang 3 Event Penting Pekan Ini

Dalam 5 minggu terakhir, USD telah membentuk pola kenaikan di awal hingga pertengahan pekan, sebelum akhirnya melemah pada penghujung pekan. Pola ini berulang lagi di minggu lalu, ketika mata uang-mata uang mayor berhasil pulih versus Greenback di sesi New York Jumat kemarin (31/Mei).

Perlu diketahui, akhir pekan lalu juga menandai hari trading terakhir di bulan Mei, sehingga wajar jika banyak investor melikuidasi posisi USD mereka, terutama pada perdagangan yang melibatkan Dolar AS dengan mata uang mayor lainnya. Situasi ini lebih masuk akal lagi jika kita melihat tingginya dampak rilis data dan event yang dijadwalkan meluncur pekan ini.


Menurut kalender ekonomi, 3 peristiwa terpenting bagi trader forex minggu ini adalah pengumuman suku bunga RBA pada hari Selasa, rapat kebijakan ECB pada hari Kamis, dan tentu saja, rilis data NFP pada hari Jumat. Masing-masing event tersebut telah terbukti bisa menggerakkan pasar.

Dengan pertemuan ECB dan RBA yang diperkirakan didominasi oleh kecenderungan terhadap stimulus moneter atau bahkan Rate Cut, maka trading range untuk AUD, EUR, dan USD bisa melebar secara signifikan.

Para pengamat pasar memproyeksi jika RBA bisa melakukan hingga 3 kali pemotongan suku bunga di tahun ini, dengan langkah Rate Cut pertama yang akan diputuskan pada rapat kebijakan besok. Kombinasi antara rendahnya pertumbuhan inflasi dan Yiel Obligasi 10-tahunan yang selip di bawah OCR 1.5% pada minggu lalu, telah membuat suku bunga RBA sudah tertinggal dari situasi terbaru.

Meski demikian, ekspektasi luas akan RBA Rate Cut tidak lantas menghalangi AUD/USD untuk diperdagangkan di atas level 0.6900 sepanjang pekan lalu. Menurut ACY, rebound dari area 0.6865 pada 17 Mei tampaknya telah melonggarkan kondisi Oversold AUD secara teknikal, juga mengungkit Daily RSI ke atas batas 45.00. Dengan perspektif ini, AUD/USD diprediksi bisa membentuk Retracement ke level yang lebih tinggi setelah pengumuman suku bunga RBA.

Risiko Dolar Australia sebenarnya bukan terletak pada Rate Cut, tapi lebih kepada Statement RBA yang mengiringi pengumuman suku bunga. Sinyal apapun yang mengindikasikan penundaan Rate Cut lebih lanjut akan mendorong AUD/USD ke atas 0.7000. Namun apabila dewan bank sentral justru mengakui jika siklus pelonggaran baru telah dimulai, maka tak akan butuh waktu lama bagi Dolar Australia untuk kembali terjun ke kisaran 0.6850.

Sementara itu, pelemahan pada angka-angka inflasi Zona Euro dan data manufaktur Jerman yang mengecewakan, menandakan bahwa ECB tidak akan memulai pertemuan minggu ini dengan kabar positif. Kemungkinan besar, Presiden ECB Mario Draghi akan mendiskusikan rincian TLTRO yang pertama kali diumumkan pasca rapat Maret lalu. Dengan suku bunga deposit yang dipatok pada level -40 basis poin selama lebih dari setahun, para analis pasar mengekspektasikan jika bunga pinjaman TLTRO akan ditetapkan di bawah 0 persen.

Besarnya program pinjaman baru ECB kemungkinan tak akan dipublikasikan. Meski demikian, bisa dicatat bahwa TLTRO edisi 2016/17 bernilai 740 miliar Euro, sementara edisi 2014 mencapai hampir 530 miliar Euro. Bagi para trader EUR, sebaiknya diperhatikan juga bahwa program-program TLTRO sebelumnya belum menerima dana pengembalian hingga saat ini.

Secara teknikal, EUR/USD telah menguji support 1.1100 sebanyak 3 kali sejak 26 April lalu. Outlook pair ini sekarang terlihat relatif netral, dengan MA 30 yang bergerak di kisaran 1.1190 dan Daily RSI pada area 46.00. Walaupun ECB kemungkinan besar tak akan menyiarkan kabar bullish bagi pasar Euro, harga tak akan melemah lebih lanjut apabila level 1.1100 tak terpatahkan.

Di sisi lain, aksi jual di pasar ekuitas negara-negara G7 telah menyebabkan USD/JPY merosot hingga 175 poin sepanjang minggu lalu, dan menyentuh level terendah 5 bulan di 108.27 pada penutupan sesi New York akhir pekan kemarin. Sekalipun indikator momentum terlihat mulai mendekati area Oversold, ACY belum mengeliminasi kemungkinan penurunan lebih lanjut apabila pasar ekuitas masih terus melemah.

Outlook bearish USD/JPY telah memberikan ruang bagi GBP/USD untuk menguat ke atas 1.2630 pada akhir minggu lalu. Penting dicatat, kenaikan harga ini merupakan yang keempat kalinya bagi Pound untuk mencatatkan keunggulan versus Dolar AS sejak 6 Mei lalu. Daily chart GBP/USD menampilkan proyeksi resistance terdekat di area 1.2720/30, dan batas atas berikutnya yang terlihat di 1.2760.

Dengan kosongnya jadwal rilis data berdampak tinggi dari Inggris pekan ini, ACY memperkirakan jika pasar akan lebih tertarik sell EUR/GBP di area 0.8840, ketimbang buy GBP/USD dengan Market Order.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #229  
Old 1 Week Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Apakah Ekspektasi Fed Rate Cut Terlalu Berlebihan?
Pekan ini, pasar mengawali aktivitas dengan sentimen bearish terhadap Dolar AS, dengan Greenback yang seakan-akan bakal kehilangan momentum terhadap mata uang mayor lainnya.

Euro masih menguat pasca pernyataan yang "tidak se-dovish dugaan" pada pertemuan ECB minggu lalu, Dolar Australia sukses menggaet kembali level 0.7000, dan momentum upside Sterling menyajikan prospek pencapaian GBP/USD di level 30 MA-nya untuk pertama kali dalam lebih dari sebulan.

Faktor di balik pelemahan Dolar AS sebenarnya sederhana saja: arus data berdampak tinggi yang mengecewakan ditambah dengan tendensi para pejabat The Fed untuk menurunkan bias kebijakan suku bunga mereka, yang berimbas pada penempatan proyeksi Rate Cut hingga 60 bps antara saat ini hingga Januari tahun depan. Bisa dikatakan, pembalikan trend USD pada minggu lalu banyak dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan suku bunga Fed, yang menurut ACY sudah melampaui efek normalnya pada pergerakan harga secara riil.

Sebagai contoh, sekalipun para pejabat The Fed telah mengindikasikan bahwa suku bunga dapat diturunkan untuk menanggulangi risiko potensial dari perang dagang dengan China, tidak ada satu pun dari petinggi bank sentral AS tersebut yang menekankan adanya rencana untuk memutus kelanjutan penyusutan neraca The Fed dari kisaran saat ini ($20/30 miliar per bulan).

Faktanya, sejak pemerintah AS meningkatkan tensi konflik dagang dengan Beijing di bulan Maret, The Fed telah mengurangi neracanya sebesar $100 miliar. Jika ditotal, maka jumlah aset-aset QE yang sudah jatuh tempo dan terlepas dari neraca The Fed menjadi sebesar $620 miliar, terhitung sejak program pengurangan Balance Sheet dilancarkan pada Juli 2017.

Sesuai protokol kebijakan FOMC, ACY memperkirakan jika para pejabat The Fed yang memiliki hak suara saat ini akan menginisiasikan diskusi awal Rate Cut, tanpa memperhitungkan kemungkinan bentuk kebijakan longgar lain.



FOMC akan menggelar pertemuan rutinnya pada Rabu pekan depan (19/Juni). Apabila para pejabat The Fed memang berencana memulai siklus pelonggaran untuk menyesuaikan kebijakan dengan ekspektasi pasar saat ini, maka inilah saat yang tepat untuk mengumumkannya. Hingga saat itu tiba, para trader forex sebaiknya membiasakan diri dengan volatilitas Intraday yang lemah dan kompresi lebih lanjut pada range-range trading saat ini... kecuali pada pair USD/JPY.

Di luar dugaan, data makro Jepang minggu ini meningkat lebih tinggi dari ekspektasi, dengan GDP dan Core Machinery Orders yang sama-sama mengungguli forecast pasar. Rilis data tersebut menunjukkan terjadinya pertumbuhan Jepang dalam basis tahunan untuk yang pertama kalinya sejak akhir 2017.

USD/JPY sempat menyentuh level tertinggi mingguan di 108.80, tapi kemudian gagal (lagi) memperpanjang kenaikannya. Pasangan mata uang ini belum pernah diperdagangkan di atas level 30 MA sejak 3 Mei, dan tampaknya sudah kehabisan momentum upside. Menurut ACY, level terendah minggu lalu di dekat 107.85 bukanlah support yang signifikan, sehingga USD/JPY diekspektasikan bisa merosot lagi hingga ke area 107.00.

Sementara itu, laporan ketenagakerjaan Australia hari ini menjadi penggerak AUD/USD. ACY sebelumnya memprediksikan bahwa AUD/USD dapat menembus support 0.6920 jika ternyata Employment Change hanya menunjukkan penambahan 5,000 pekerjaan untuk full-time jobs. Saat analisa ini ditulis, AUD/USD sudah turun hingga menembus 0.6920 karena penambahan pekerja pada pekerjaan full-time hanya sebesar 2,400.

Sepanjang minggu ini, EUR/USD sebagian besar bergerak dalam range harga sebesar 40 poin, yakni antara 1.1300 dan 1.1340. Dengan sepinya jadwal rilis data penting dari Zona Euro, cukup sulit untuk memperkirakan pemicu breakout jangka pendek dari range harga saat ini.

Setali tiga uang dengan Euro, sinyal indikator momentum yang cenderung netral dan Daily RSI yang bergerak sedikit di bawah level 50.00 membuat Sterling tak memiliki katalis teknikal dalam waktu dekat. ACY mengekspektasikan jika pergerakan GBP/USD akan terbatas di area 1.2760, dengan area support di kisaran 1.2675 dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
  #230  
Old 3 Days Ago
djamirun_aje's Avatar
djamirun_aje djamirun_aje is offline
Ceriwis Pro
 
Join Date: Jun 2017
Posts: 2,823
Rep Power: 6
djamirun_aje mempunyai hidup yang Normal
Default

Akankah Dolar Australia Mencapai 0.6700?

Terdapat sebuah prinsip yang secara luas beredar di pasar forex: sebuah pergerakan mata uang akan lebih dipengaruhi oleh ekspektasi perubahan suku bunga bank sentral, daripada perubahan itu sendiri. Sepanjang 3 minggu terakhir, "aturan" ini tercermin sempurna dalam Price Action AUD/USD.

Reserve Bank of Australia (RBA) secara resmi mengumumkan pergeseran kebijakan suku bunga, dari yang semula netral menjadi longgar pada pertengahan Mei lalu. Ketua RBA, Philip Lowe, dengan jelas mengakui dampak stagnasi upah dan tingginya level utang konsumen pada tingkat konsumsi, sehingga tak heran jika ia dan anggota dewan RBA lainnya mulai mempersiapkan market untuk menyambut pemotongan suku bunga pertama di lebih dari 3 tahun terakhir.

Alhasil, AUD/USD pun merosot dari 0.7050 ke 0.6865 hanya dalam waktu seminggu, dan menguji level support tersebut sebanyak 4 kali sebelum kembali ke area 0.7000 pada 4 Juni; hari ketika suku bunga acuan benar-benar diturunkan sebesar 25 bps ke 1.25%.



Meski demikian, reli Dolar Australia pasca keputusan RBA terhenti di minggu lalu, ketika harga melemah lebih dari 1.5% dan sampai ke kevel rendah 0.6860 di akhir pekan, seiring dengan spekulasi pasar yang kembali mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih lanjut.

Laporan ketenagakerjaan yang kurang meyakinkan, ditambah dengan data impor China yang lemah, turut mendorong AUD/USD turun menembus beberapa garis support. Hal ini sejalan dengan Yield Obligasi pemerintah Australia yang diperdagangkan di bahwa 1.0% untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Dengan rilis notulen pertemuan RBA yang dijadwalkan rilis Selasa besok (18/Juni), pasar akan mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai pandangan-pandangan fundamental dari anggota dewan bank sentral. Kemungkinan besar, mereka saat ini memiliki spektrum kekhawatiran yang lebih luas, sehingga dapat semakin meningkatkan ekspektasi Rate Cut lebih lanjut.

Dari sudut pandang teknikal, AUD/USD telah kembali mematahkan MA 30 dan saat ini tengah menunjukkan kondisi bearish divergence dengan Daily RSI. Jika ditelisik lebih lanjut, ACY mencermati bahwa Daily RSI berada di level 25.25 ketika harga terakhir kali diperdagangkan di 0.6865 pada tanggal 17 Mei. Namun ketika sekarang AUD/USD kembali bergerak di area yang sama, Daily RSI masih berada di kisaran 35.15. Divergensi tersebut menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak potensi downside kali ini, sebelum AUD/USD mencapai kondisi Oversold.

Setelah diperdagangkan melemah ke 108.15 selama sesi Asia akhir pekan lalu, USD/JPY mencatatkan reversal kuat berkat laporan Retail Sales AS yang lebih baik dari ekspektasi. Pair ini menutup sesi New York hari Jumat (14/Juni) di atas 108.50, "memperbaiki" pelemahan yang berlangsung selama 3 minggu berturut-turut, dan mengubah sinyal indikator momentum ke mode netral.

Dengan pertemuuan Bank of Japan yang dijadwalkan berlangsung Kamis besok (20/Juni), USD/JPY kemungkinan akan kembali diperdagangkan dalam range sempit, tepatnya di kisaran 108.90 dan 108.20 dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Sementara itu, Sterling kehilangan momentum baik terhadap Dolar maupun Euro, seiring dengan terus meningkatnya prospek Hard Brexit. GBP/USD menunjukkan level Close mingguan di bawah 1.2600 untuk pertama kalinya dalam tahun ini. Menurut ACY, pair ini bahkan berpotensi untuk melanjutkan pelemahan ke level 1.2520.

EUR/USD juga diperdagangkan melemah dalam 3 hari terakhir, dengan kemerosotan mencapai lebih dari 1% secara mingguan. Penembusan support 1.1200 akan memicu momentum downside lebih lanjut, yang bisa membawa harga kembali memasuki area 1.1125.

Sumber : https://www.acy.com/category/market-...ffiliate=12229
Sponsored Links
Reply

Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off



All times are GMT +7. The time now is 04:04 AM.

 

About Us

"Ceriwis Forum is a place to find information in various categories. Be inspired, Be social, Join the Community!"

 

Pasang Iklan

Mau Pasang Iklan? Klik tombol di bawah ini.

Download on App store    Download on Google play
Copyright © 2018