Happy Death Day: Tidak Enaknya Mati Berulang-ulang

Happy Death Day: Tidak Enaknya Mati Berulang-ulang
Happy Death Day: Tidak Enaknya Mati Berulang-ulangFoto: Happy Death Day
Jakarta – Theresa Gelbman tidak suka dipanggil dengan nama aslinya, dia lebih suka dipanggil dengan nama Tree (Jessica Rothe). Kenyataannya, Tree adalah pribadi yang menyebalkan. Sebagai anak gaul, dia dengan mudah mempunyai teman-teman yang bisa dia acuhkan dengan mudah. Sehari-harinya dia menjalani hidup dengan kepribadian yang bitchy dan self-centered. Dalam kamusnya, cowok hanyalah aksesori yang tiap hari bisa ganti dan ayahnya adalah hal kecil yang sering dia acuhkan. Ini belum termasuk hubungannya dengan dosen di kampusnya.

Kemudian hari itu, di hari ulang tahunnya, Tree mendapati bahwa dia diundang seseorang misterius untuk ketemuan di sebuah terowongan dekat kampus. Tree datang kesana dan akhirnya dibunuh. Anehnya, Tree tidak meninggal dan bangun keesokan harinya di tempat yang sama, di asrama Carter (Israel Broussard, alumni Sofia Coppola dalam The Bling Ring). Tree yang merasa bahwa apa yang dialaminya hanyalah mimpi, mencoba untuk menjalani hari. Sampai akhirnya ia terbunuh lagi. Dan begitu seterusnya.

Tree sekarang berusaha keras untuk mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh yang terobsesi untuk mengakhiri hidupnya. Hanya ada satu cara untuk keluar dari time loop menyebalkan itu dan itu adalah menyelamatkan nyawanya dari si pembunuh.

Groundhog Day, film Bill Murray yang dirilis pada tahun 1993, adalah sebuah film yang fenomenal. Tidak hanya film tersebut semakin mengukuhkan Murray sebagai raja komedi namun juga memberikan warisan budaya yang tak ternilai. Meskipun bukan menjadi pioner, namun Groundhog Day menjadi salah satu referensi untuk film-film yang serupa. Doug Liman dan Tom Cruise pernah melakukannya dalam Edge of Tomorrow. Tahun ini kita juga sempat menyaksikan Groundhog Day ketemu film remaja dalam Before I Fall. Sekarang giliran slaher horor remaja yang diberikan treatment Groundhog day dalam Happy Death Day.

Ditulis oleh Scott Lobdell, sebenarnya tidak ada yang baru dalam Happy Death Day kecuali premis yang begitu menarik. Kita sudah familiar dengan karakter bitchy yang akhirnya belajar dari kesalahannya dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik—bahkan Bill Murray melakukan itu dalam Groundhog Day. Meskipun Lobdell kurang bisa memberikan babak ketiga yang rapi, Happy Death Day tetap menyajikan plot yang asyik untuk dinikmati. Karakterisasi karakter utamanya, meskipun generik, tetap meyakinkan penonton untuk menjelajahi hari-harinya.

Christopher B. Landon, sang sutradara, menggambarkan dunia Tree dengan lincah. Ia tahu bagaimana membuat penonton bertahan dengan dunia Tree. Sampai akhir babak kedua, hal-hal yang disorot landon sangatlah menghibur. Adegan-adegan berlebihan yang cenderung norak ternyata justru menjadi daya tarik utama Happy Death Day. Sayangnya, ketika film ini mencoba untuk menjadi lebih serius menjelajahi bagian horornya, Happy Death Day justru tampak konyol. Efek serunya justru jauh lebih berkurang. Skrip Lobdell yang memang lemah di bagian tengahnya, semakin terlihat menganga berkat penyutradaraan Landon yang timpang di bagian akhir.

Untungnya, Landon memiliki Jessica Rothe sebagai pemeran utamanya. Rothe yang sempat menjadi teman Emma Stone dalam La La Land memiliki pesona yang memikat. Dia tampak begitu menikmati untuk menjadi seorang gadis muda serampangan yang seenaknya. Chemistrynya yang effortless dengan lawan-lawan mainnya membuat Happy Death Day menjadi sebuah tontonan horor yang seru. Bagi Anda yang menyukai tontonan penggedor jantung, film ini jelas tidak bisa dilewatkan.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *