Ceriwis

Inilah Spesies Langka yang telah Diberi Nama oleh Orang Terkenal

Ceriwis – Seekor spesies kumbang baru saja mendapat sebuah nama yang terinspirasi dari aktivis lingkungan Greta Thunberg. Peneliti dari Natural History Museum, London, memberikan nama Nelloptodes gretae untuk kumbang tersebut.
Greta bukan satu-satunya orang yang namanya “dipinjam” peneliti. Sejumlah nama orang terkenal, mulai dari Donald Trump sampai Adolf Hitler, juga digunakan para peneliti untuk menamai temuan mereka.
Dermophis donaldtrumpi merupakan spesies cacing langka yang hidup dengan menguburkan kepala mereka di dalam tanah. Ilmuwan yang menemukan hewan amfibi tersebut memang sengaja memberinya nama yang mirip dengan orang nomor wahid di Amerika Serikat, Donald Trump. Ini dilakukan untuk menyindir sikap Trump yang dianggap “buta”terhadap perubahan iklim.
Ada lagi spesies bernama Anophthalmus hitleri yang terinspirasi dari nama Adolf Hitler. Spesies kumbang yang hanya bisa ditemukan di lima gua lembab di Slovenia itu mendapat namanya pada 1933 lalu.
Selain itu ada juga laba-laba yang diberi nama karena terinspirasi dari aktor peraih piala Oscar, Leonardo Dicaprio. Laba-laba yang ditemukan di Republik Dominika itu diberi nama Spintharus leonardodicaprioi.
Aktor Leonardo DiCaprio.
Dari kalangan musisi, ada pula nama Bob Marley, penyanyi reggae asal Jamaika yang digunakan ilmuwan untuk menamai parasit yang mereka temukan di Laut Karibia beberapa waktu silam. Spesies krustasea itu diberi nama Gnathia marleyi.
Selain nama orang-orang terkenal, para peneliti juga menggunakan nama tokoh-tokoh dunia fiksi untuk menamai temuan mereka. Di antaranya adalah nama tiga naga Game of Thrones, Drogon, Rhaegal, dan Viserion, yang jadi nama tiga spesies kumbang.
Nama-nama Star Wars juga kerap digunakan para peneliti untuk menamai spesies baru temuan mereka. Mental Floss melaporkan bahwa setidaknya ada 17 spesies yang namanya terinspirasi Star Wars. Salah satu contohnya adalah Wockia Chewbacca. Itu adalah nama dari spesies ngengat yang ditemukan para peneliti di Meksiko 2009 lalu.

Melanie Putri