Ceriwis

Inilah Sumber Langit Eropa Yang Sempat Diselimuti Oleh Awan Radioaktif

Pegunungan Ural di Rusia
Ceriwis – Awan radioaktif sempat menutupi sebagian wilayah Eropa pada 2017 lalu. Dan tampaknya, sumber dari awan radioaktif ini telah teridentifikasi.
Pada Oktober 2017, para ilmuwan mendeteksi lonjakan radiasi, dalam bentuk konsentrasi udara yang sangat tinggi dari radioaktif isotop ruthenium-106, di langit Eropa. Meski material radioaktif yang dilepaskan di udara tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, namun kejadian itu menjadi pelepasan bahan radioaktif paling serius sejak kecelakaan radioaktif Fukushima pada tahun 2011 lalu.
Pada waktu itu, banyak orang berhipotesis bahwa fasilitas nuklir di Rusia mungkin bertanggung jawab atas pelepasan radioaktif ruthenium-106 yang tidak disengaja. Akan tetapi, pihak berwenang Rusia membantah semua tuduhan tersebut. Mereka justru menduga gelombang radiasi mungkin disebabkan oleh tabrakan satelit dan isotop dilepaskan dari baterai pesawat luar angkasa yang memasuki atmosfer.
Namun, baru-baru ini para peneliti yang tergabung dalam tim internasional yang terdiri dari hampir 70 ilmuwan dan dipimpin oleh Olivier Masson, peneliti radionuklida dari Institute Radioprotection et de Sûreté Nucléaire (IRSN) di Prancis, memperkuat hipotesis sebelumnya bahwa Rusia lah yang ada di balik pelepasan radioaktif tersebut.
Foto: Ecodefense/Heinrich Boell Stiftung Russia/Slapovskaya/Nikulina
“Berdasarkan penyebaran konsentrasi udara dan pertimbangan kimia, setelah diakumulasikan, pelepasan terjadi di wilayah Ural Selatan, Federasi Rusia,” papar peneliti dalam makalah hasil investigasi mereka, seperti dikutip dari Science Alert.
Dalam penelitian ini, Masson dan timnya menganalisis lebih dari 1.300 data awan radioaktif yang direkam oleh 176 stasiun di hampir 30 negara untuk menemukan sumber kebocoran radiasi.
“Kami mengukur radioaktif ruthenium-106. Hasil pengukuran menunjukkan radioaktif keluar dari pembangkit nuklir,” ucap Georg Steinhauser, ahli radiasi dari University of Hanover.
Pembangkit nuklir Mayak Rusia di Ural Selatan menjadi kandidat terkuat yang melepaskan awan radioaktif tersebut. Hal ini sejalan dengan kecurigaan awal sejak November 2017 meski saat itu perusahaan nuklir Rusia Rosatom bersikeras membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa pabrik nuklir Mayak tidak bertanggung jawab atas penyebaran ini.
Mereka beralasan, jika benar pelepasan ruthenium-106 berasal dari mereka, maka konsentrasi isotop di daerahnya akan ribuan kali lipat lebih tinggi.
Pegunungan Ural di Rusia
Para peneliti menduga, kecelakaan mungkin telah terjadi di Mayak. “Kami dapat menunjukkan bahwa kecelakaan itu terjadi dalam pemrosesan ulang elemen bahan bakar bekas. Meski saat ini tidak ada pernyataan resmi, kami memiliki ide yang logis tentang apa yang mungkin terjadi,” kata Steinhauser.
Jika pemodelan para peneliti benar, kecelakaan itu terjadi pada akhir September 2017, antara tanggal 25 atau 26. Kendati begitu, dalam penelitian baru ini, tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa kecelakaan telah terjadi di Mayak dan menjadi asal-usul radioaktif.
Di sisi lain, pada 31 Juli 2019, seorang perwakilan dari Rosatom mengatakan kepada Science Alert bahwa mereka membantah temuan-temuan baru ini dan membantah dugaan kebocoran tersebut.
“Ini tidak konsisten dengan fakta-fakta yang ada. Kami berpendapat bahwa tidak ada kejadian kecelakaan yang dilaporkan di pabrik atau fasilitas yang dioperasikan Rosatom,” ujar Rosatom dalam pernyataan tertulis mereka.
“Baik regulator nasional dan para ahli dari penyelidikan internasional independen yang memeriksa fasilitas Mayak pada tahun 2017, mereka tidak menemukan apapun yang menunjukkan bahwa isotop ruthenium-106 berasal dari pabrik ini, tidak juga menemukan jejak dugaan kecelakaan, atau menemukan bukti paparan peningkatan level radioaktif di wilayah tersebut,” tegas Rosatom.

Bella Priscilla