Jika Kamu Harus Tanya Apakah Kamu Jatuh Cinta Atau Tidak, Kamu Mungkin Tidak Jatuh Cinta

Lauren Naefe

Saya tidak kenal teman sekamar saya sebelum saya pindah bersamanya musim gugur ini. Saya belum pernah bertemu dengannya, dan saya tidak tahu namanya. Dia sekarang menjadi salah satu teman terbaik saya. Ketika pertama kali saya pindah bersamanya, dia sedang jatuh cinta dengan pacarnya (kami akan memanggilnya Chad). Chad manusia yang aneh. Saya hanya bertemu dia sekali dua kali. Dia canggung (setidak-tidaknya), tapi teman saya tidak keberatan.

Beberapa minggu tinggal bersama, saya pulang dan menemukan dia ada di atas sofa, meringkuk dan menangis, benar-benar patah hati. Ya, tebakanmu benar, Chad—cowok terlalu canggung yang 100 persen tidak akan pernah lebih baik daripada dia—telah mutusin dia, dan tidak ada yang menduganya.

Gadis yang saya benar-benar tidak tahu ini patah hati, dan saya melihat situasinya dari sudut pandang yang sangat objektif. Dia baru jomblo, sangat cantik dan cerdas, dan jika kualitas-kualitas itu tidak cukup, selera humornya di atas rata-rata. Dia tipe wanita—bayangan saya pada saat itu—yang bisa mengatasi kejombloan dengan sikap tenang. Ternyata saya salah.

Kamu tahu hubungan acak yang terus terulang-ulang itu? Kamu tidak mencari siapa pun, kamu tidak siap untuk siapa pun, dan kamu tidak benar-benar ingin siapa pun? Tapi entah kenapa, bagaimanapun, kamu akhirnya bersama seseorang. Dan entah bagaimana, orang ini telah menyetir hubungan kamu, dan kamu seperti dibiarkan di kursi belakang, menyaksikan kemampuan kamu untuk menyetir lenyap keluar jendela.

Saya segera menyadari ini benar-benar teman sekamar saya ketika saya bertemu orang yang datang setelah Chad. Bahkan, dia menegaskan hal itu juga berlangsung seperti itu dengan setiap cowok sebelum Chad. Jadi, dia bertemu cowok baru ini. Kita panggil saja Ethan. Ethan juga canggung, tapi dia temannya teman, jadi dia memberinya kesempatan. Mereka pun berhubungan. Keren.

Dan kemudian, sebelum dia sadar, mereka berhubungan serius kurang dari sebulan setelah dia putus dengan Chad. Mereka bertemu dengan saudara-saudara dan orang tua, dan bukan dia yang memulai semua itu.

Kamu tahu apa yang akan terjadi berikutnya, bukan? Tiga kata pendek itu yang mengandung  pukulan besar: “Aku cintai kamu.”

Kamu tahu apa yang akan terjadi berikutnya karena kita semua menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya, dan kita berharap waktunya tepat ketika kita akhirnya mendengarnya. Menyebalkan bila waktunya tidak tepat tetapi tetap disemburkan.

Entah ini terjadi pada kamu, atau kamu pernah mendengar hal itu terjadi pada seorang teman, kita semua tahu bahwa perasaan syok, bingung, canggung, sesak napas, dan mual yang kamu rasakan ketika hal itu tidak benar saja. Di sebuah bar yang ramai, dengan banyak orang di sekitar, dan dengan suara keras, dia mengatakan tiga kata itu.

Apa yang teman saya lakukan? Dia juga membuat saya menunggu sambil deg-degan. Pikiran saya memikirkan segala kemungkinan. Apakah dia bilang terima kasih? Apakah dia balas mengatakannya? Apa yang dikatakan?

“Aku pura-pura tidak mendengarnya” katanya, dan aku tertawa. “Kemudian, dia bilang lagi. Jadi, aku bilang aku juga mencintainya.”

Saya melakukan apa yang orang lain lakukan dalam posisi saya: saya tanya apakah dia benar-benar mencintainya. Tanggapannya, sampai hari ini, membuat saya terkejut sekaligus terhibur.

Bukannya mengatakan ya, dia mencintainya, atau tidak, dia tidak mencintainya, dia menceritakan sebuah cerita rumit tentang apa yang dia lakukan ketika dia pulang malam itu. Semuanya bermuara pada satu hal yang mulia. Dia pulang, menyambar laptop-nya, merangkak di bawah selimut, dan mencari “gejala-gejala cinta” di Google.

Meskipun lucu, membingungkan bagi saya bahwa seseorang yang telah menjalani beberapa hubungan serius harus beralih pada mesin pencari untuk mengetahui apakah dia jatuh cinta dengan pacarnya. Sekarang, saya tidak tahu apakah kamu pernah mencari “gejala-gejala cinta” di Google, tapi saya sarankan kamu mencarinya. Itu cukup menghibur.

Tindakan itu membuatmu merasa seolah-olah kamu ada di SMA lagi, naksir cowok keren berambut shaggy yang selalu kamu puja-puja. Ini sejenis hal yang muncul ketika kamu sedang mencari kutipan lucu untuk halaman MySpace kamu.

Lutut kamu lemah, mereka selalu di pikiran kamu, kamu merasa benar-benar nyaman dengan mereka, kamu ingin bicara dengan mereka sepanjang waktu. Merekalah semua hal yang tidak benar-benar perlu kamu cari di Google jika kamu benar-benar jatuh cinta.

Sekarang teman sekamar saya sudah berkencan dengan orang ini selama sekitar tiga bulan, dan berubah menjadi semakin serius. Sekarang, saya di dekatnya sepanjang waktu, dan saya masih tidak yakin dia jatuh cinta dengan orang itu.

Bahkan, dia bilang kepada saya dia tidak mencintainya. Jadi, apa yang dia lakukan dengan menghabiskan waktunya dengan Not-So-Mister-Right, ketika Mr. Right bisa jadi tinggal hitungan hari untuk bertemu dengannya?

Saya sering bertanya-tanya tentang ini dengan teman-teman saya. Saya sering bertanya-tanya tentang ini menyangkut diri saya sendiri.

Ladies, apa yang kita lakukan dengan menghabiskan waktu, energi, dan emosi kita pada orang-orang yang kita tahu tidak benar-benar layak, pada orang-orang yang kita tahu tidak akan bertahan terlalu lama atau orang-orang yang kita tahu bukan orang yang kita inginkan atau butuhkan?

Apa yang kita lakukan? Saya tidak tahu.

Situasi teman sekamar saya memicu obrolan yang sedang berlangsung di antara beberapa teman saya. Salah satu teman baru saja dicurangi oleh pacarnya yang sudah berpacaran selama tiga tahun selagi dia berada di luar negeri; teman yang lain berkencan dengan cowok selama empat tahun yang membuatnya merasa dia tidak cukup baik, tidak pernah bisa mendapatkan orang lain, dan tidak layak baginya; dan terakhir, teman yang lain sedang berkencan (dan mudah-mudahan akhirnya menikah) dengan teman karibnya.

Apa saja gejala-gejala cinta itu? Lebih baik lagi, apa saja gejala-gejala jatuh cinta itu?

Tentu saja, semua orang punya definisi berbeda. Kalau kamu mencari “cinta” di Google, hasilnya mengatakan, “perasaan kuat kasih sayang yang mendalam”.

Kalau kamu mencari “cinta” di Urban Dictionary, kamu membaca, “cara alam untuk menipu orang-orang untuk bereproduksi”. (Jelas, Urban Dictionary sedikit sinis).

Saya kira apa yang saya coba pahami adalah cinta itu sebuah konstruk budaya. Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, atau dipegang. Cinta itu sesuatu yang kita rasakan atau tidak rasakan. Begitulah yang diajarkan kepada kita, dan kita perlahan-lahan berubah seperti itu.
.
Jadi, ketika teman sekamar saya menindaklanjuti dengan, “Bagaimana kamu benar-benar tahu kalau kamu sedang jatuh cinta?” Saya mengambil langkah mundur dari sudut pandang objektif saya dan mencoba memberinya jawaban yang benar-benar dia inginkan. Kedengarannya sesuatu seperti ini: Saya pikir, ketika kamu sedang jatuh cinta, kamu memandang seseorang dan kamu melihat dia.

Kamu melihat dia bercukur tidak rata. Kamu melihat dia marah karena tim olahraga favoritnya kalah dan dongkol sepanjang hari. Kamu melihat dia ngorok saat tidur. Kamu melihat dia menghabiskan terlalu banyak waktu bekerja, dia menyeimbangkan antara kamu dan pekerjaan dan dia mencoba pulang lebih cepat untuk menghabiskan lebih banyak waktu denganmu.

Kamu melihat dia baik-baik saja menonton acara TV yang dia benci karena kamu menyukai acara itu. Dia suka zaitun, dan kamu benci zaitun. Dia bersedia melakukan apa pun untuk kamu, dan kamu bersedia melakukan apa pun untuknya, meskipun dia membuatmu kesal. Kamu melihat seseorang, dan kamu melihat semua ini dan banyak lagi. Kamu hanya berpikir dalam hati, “Aku patuh.”

Aku patuh jika kamu lebih dulu bangun dan kamu marah. Aku patuh jika kamu melakukan sesuatu yang manis. Aku patuh jika kamu ingin aku datang berbelasungkawa atas meninggalnya anggota keluarga. Aku patuh jika kamu harus menurunkan anjingmu yang berumur 18 tahun. Aku patuh untuk segalanya, asalkan aku bisa melakukan segalanya bersamamu.

Itulah definisi masuk akal saya tentang cinta. Tentu, ada gejala-gejala yang dapat kamu cari di Ggoogle seperti perilaku irasional, tersenyum di ponsel kamu seperti orang tolol, merasa solah-olah kamu akan gila dan merasa seolah-olah jantung kamu akan meledakkan saat orang ini masuk ruangan.

Tapi ketika semua hal ini memudar dan hubungan sudah dewasa, kamu tahu kamu sedang jatuh cinta ketika kamu mencintai orang ini pada hari-hari terbaik maupun terburuknya.

Tampaknya seolah-olah saya muncul dari sebuah film kesukaan cewek, tapi saya benar-benar percaya itu. Dan itulah yang saya katakan kepada teman saya.

Cinta itu bukan sesuatu yang bisa kamu cari di Internet. Cinta hanya dapat ditentukan oleh cara kamu merasa begitu kamu ada di dalamnya. Dan kamu akan tahu kapan kamu jatuh cinta karena kamu akhirnya akan memiliki definisi apa cinta itu. (Aaryn Kealty)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *