Jika Kamu Melakukan 5 Hal Ini, Kamu Mungkin Tidak Akan Berhasil Menjadi Pengusaha

Aleksandra Jankovic

Kewirausahaan adalah tren baru. Internet telah membuat dunia menjadi begitu kecil dan peluang menjadi begitu tak terhingga, tampaknya siapa pun bisa melakukannya.

Saya percaya, banyak yang ingin bisa melakukannya, tapi tingkat kegagalan bisnis baru masih menakutkan. Begitu kamu terbang sendiri, dengan angin menerpa rambutmu, dan kamu masih bangga meninggalkan parkiran kantor untuk terakhir kalinya, kamu benar-benar sendiri.

Kamu ada di tenagh rimba pasar, sendirian dan bebas, membuat aturan kamu sendiri.

Jika kamu sudah sendiri selama enam bulan sampai satu tahun, kamu mungkin sudah menentukan (atau jatuh ke dalam) beberapa rutinitas dan proses. Apakah rutinitas itu menuntun kamu pada keberhasilan atau kegagalan?

Berikut ini ada beberapa tanda peringatan bahwa kamu perlu mengubah haluan kamu sebelum berbalik kembali ke bilik kantor yang lain:

1. Kamu selalu melakukan tugas yang paling kamu sukai lebih dulu.

Biar saya beritahu fakta yang kurang dikenal ini: Begitu kamu mulai bekerja untuk diri sendiri, akan ada banyak pekerjaan kasar yang tidak ingin dilakukan orang. Bedanya, tidak ada bos yang akan menyuruh kamu melakukannya. Hanya ada kemungkinan besar bahwa kamu tidak akan mampu membayar tagihan listrik kamu sepanjang musim dingin. Ketika kamu mulai melakukan pekerjaan yang kamu cintai sepenuh waktu, sangat mudah untuk terjatuh ke dalam perangkap ini dan mengesampingkan tugas yang tidak kamu nikmati. Kita semua tahu—karena berbagai penelitian telah mengatakan kepada kami—bahwa kita harus mengatasi hal besar dan sulit lebih dulu. Tapi kadang-kadang, passion kita pada proyek mengesampingkan logika.

2. Kamu terjebak dalam siklus menit terakhir.

Contoh: Kita pengusaha mandiri, pemilik usaha kecil, dan pekerja lepas adalah kelompok yang mengagumkan. Saya yakin kamu memberikan perhatian besar pada klien-klien kamu, menciptakan produk-produk manis, dan menjaga hubungan dekat dengan para pelanggan. Tapi, kamu tahu bahwa siklus pesta dan kelaparan itu nyata. Namun, selama masa sibuk, kamu lupa, tampaknya kamu lupa setiap waktu.

Jadi, sementara kamu fokus pada klien, kamu benar-benar melupakan pemasaran dan promosi bisnis kamu sendiri. Tiba-tiba, kontrak kamu berakhir, dan kamu butuh pekerjaan baru secepat mungkin.

Situs kamu sudah enam bulan tidak diperbarui, kamu lupa sandi akun LinkedIn kamu dan ibu kamu terus bertanya, “Bagaimana bisnis kamu?” Kamu mungkin baru saja kehilangan bisnis itu.

Ini mendorong kamu meluncurkan 25 posting blog, video, dan studi kasus baru dalam rentang seminggu, saat kamu gencar berburu bisnis baru. Bilas dan ulangi setiap enam bulan.

Siklus ini tidak berkelanjutan. Kamu harus memaksa diri kamu untuk bekerja di depan, atau kamu akan selalu ketinggalan.

Kamu terutama harus memiliki rencana pemasaran untuk menjaga pertumbuhan bisnis kamu sepanjang tahun, bahkan ketika bisnis sedang booming.

3. Kamu tidak melakukan tugas bertumpuk-tumpuk.

Tahun lalu, saya berhasil mewawancarai beberapa wirausahawan bintang. Mereka punya banyak sifat dan taktik yang sama. Salah satunya adalah menumpuk pekerjaan.

John Lee Dumas, pembawa acara “Entrepreneur on Fire” (yang menghasilkan lebih dari $ 250.000 per bulan), merekam delapan jam berturut-turut wawancara podcast setiap hari Selasa. Fawn Weaver, pendiri Happy Wives Club dan penulis buku laris New York Times, mengambil libur seminggu untuk berdiam di sebuah hotel dan menulis keseluruhan naskah. Michael Hyatt, penulis laris New York Times dan pendiri Platform University, butuh dua hari untuk merekam semusim penuh episode video dan audio untuk podcast-nya, “This is Your Life.”

Saat kamu tahu sudah waktunya untuk masuk zona dan mengeksekusi, otak kamu akan berterima kasih karena otak tidak perlu beralih dari satu tugas ke tugas yang lain. Ambil pekerjaan yang sulit, intens, dan penting lalu berkonsentrasilah. Selain itu, ambillah tugas-tugas yang dapat dikonsolidasikan dari tugas kecil harian menjadi tugas mingguan yang lebih besar.

4. Kamu fokus pada pergerakan bukannya momentum.

Saya telah menemukan bahwa kita wirausaha bisa sangat keras kepala. Saya harus menjadwal tweet-tweet saya. Orang-orang akan menangis tanpa posting keren saya di Facebook dua kali sehari. Saya harus menanggapi komentar ini secepat mungkin.

Memosting, menanggapi, dan bahkan menulis bisa terasa seperti momentum. Tapi kadang-kadang, semua itu hanya pergerakan.

Pengusaha mandiri sukses melihat laba investasi dari tugas-tugas mereka dan berencana sesuai dengan hal itu. Saya mungkin kehilangan sedikit hasil algoritma Facebook karena tidak memosting di halaman bisnis saya hari ini, tapi laba investasi dalam menulis posting ini jauh lebih tinggi.

Saya tahu apa yang kamu pikirkan: Tapi kalau saya berkonsentrasi pada tugas-tugas besar, apa yang akan terjadi dengan semua tugas kecil itu? Nah, baca terus.

5. Kamu tidak pernah mengalihdayakan.

Ketika saya duduk bersama jutawan ratu kebugaran, Chalene Johnson, awal tahun ini, dia menyatakan bahwa alih daya adalah kunci sukses nomor satu bagi dirinya maupun bagi para siswanya di Smart Success Academy. Namun, saya skeptis.

Benarkah itu sehebat yang orang katakan? Apakah saya akan menemukan orang yang tepat? Apa yang bisa saya serahkan kepada orang lain? Apakah kualitasnya akan tetap?

Pertama, ya. Ini semenakjubkan tampaknya. Kedua, jujurlah dengan diri sendiri. Apakah kamu ragu-ragu karena kamu gila kontrol, atau karena kamu tidak cukup terorganisasi untuk melibatkan orang lain? Sedikit banyak mungkin karena kedua-duanya, seperti halnya bagi saya. Jadi, saya katakan ini dengan cinta: Lakukan saja.

Sama seperti perusahaan besar harus punya staf untuk berkembang, kamu juga perlu staf untuk bersiap mengembangkan beban kerja kamu.

Dunia butuh yang terbaik dari kamu, lakukanlah pekerjaan terbaik kamu. Ini tidak akan terjadi jika kamu masih melakukan lima kesalahan ini. Perbaiki kebiasaan-kebiasaan ini agar kamu bisa melanjutkan petualangan liar kewirausahaan ini. (Kelsey Humphreys)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *