Ceriwis

Jokowi : Peristiwa 22 Mei Itu Pasti Didesain

Presiden Joko Widodo.

Ceriwis – Aksi damai di depan Bawaslu RI pada 21-22 Mei lalu berujung ricuh, menewaskan 8 orang dan melukai lebih dari 900 orang lainnya. Presiden Joko Widodo mengaku sedih dengan peristiwa yang diduga didesain oleh oknum tidak bertanggungjawab itu.

“Peristiwa seperti itu kan pasti didesain. Yang paling kita sedih itu, rakyat jadi korban, pedagang-pedagang kecil banyak yang dijarah, ada korbannya juga. Kita ini kan sebetulnya tantangan ke depan ini bisa ada tantangan ekonomi yang kita hadapi, kompetisi dengan negara lain. Sebetulnya pekerjaan besar kita itu,” kata Jokowi dalam wawancara khusus bersama Ceriwis, Rabu (29/5).

“Jangan sampai kita ini berbelok sampai ke ancaman pembunuhan, masalah kerusuhan,” imbuhnya.

Seorang anggota kepolisian menembakan gas air mata ke arah pengunjuk rasa saat terjadi kerusuhan di dekat kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5).

Ia memastikan, seluruh oknum perusuh di aksi damai 21-22 Mei itu akan ditangkap. Tidak hanya perusuh di lapangannya saja, tetapi juga dalang dan sutradara di baliknya.

“Ya semuanya kan dikejar. Operator lapangannya siapa, dalangnya siapa, sutradaranya siapa, semuanya lah akan diusut tuntas,” tegasnya.

Jokowi juga menyayangkan adanya isu ancaman pembunuhan kepada empat pejabat negara dan satu kepala lembaga survei. Ia mengaku akan mempercayakan hal itu sepenuhnya kepada aparat penegak hukum agar masyarakat tetap tenang.

“TNI dan Polri terus akan memberikan jaminan keamanan pada seluruh rakyat. Dan saya kira kita juga sudah tahu, Polri sudah menangkap para tersangka yang berusaha membunuh ya,” ujarnya.

Ia juga membantah isu TNI-Polri tidak kompak dalam menangani kasus ini. Menurutnya, meski ada isu indikasi keterlibatan purnawirawan TNI dalam aksi ini, namun aparat keamanan masih bekerja dengan baik.

“Yang paling penting ini kan semuanya harus berkomunikasi untuk mencari titik temu untuk kepentingan yang lebih besar, untuk negara dan rakyat. Sehingga, posisi kita kan jelas, negara kita konstitusi,” pungkasnya.

Melanie Putri