Ceriwis
Home » Umum » Kehidupan Tanpa WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Line

Kehidupan Tanpa WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Line

Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock

Ceriwis – Rabu kemarin adalah Rabu yang berbeda buat kami, orang Indonesia. Tidak ada media sosial untuk menikmati waktu luang seperti hari-hari biasanya. Apalagi saat hari sudah sore, waktu berbuka tak kunjung tiba. Ngabuburit kemarin tidak bisa dinikmati dengan lihat-lihat Instagram Stories.

Itu semua karena Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membatasi akses sejumlah fitur di aplikasi pesan instan dan media sosial menyusul kericuhan di pusat Jakarta menolak hasil Pemilu 2019. Platform-platform yang dibatasi aksesnya adalah favorit orang Indonesia: Instagram, Facebook, WhatsApp, dan Line.

Pembatasan dilakukan pada upload dan download foto dan video. Menkominfo Rudiantara mengatakan, langkah ini adalah upaya agar hoaks dan ujaran kebencian terkait kericuhan tidak menyebar cepat ke publik. Beberapa orang setuju dengan itu. Demi menjaga keamanan negara.

Smartphone kami mendadak jadi dumbphone. Ini cuma bisa digunakan untuk telepon dan SMS. Browsing internet masih bisa, tapi itu tak seasyik buka Instagram. Tidak ada pesan yang masuk ke WhatsApp dan Line. Linimasa Instagram dan Facebook tidak bisa me-refresh otomatis setiap kali aplikasi dibuka. Hanya muncul ikon loading yang terus berputar jika ia di-refresh secara manual. Buka Twitter juga lemot. Yang lebih buruk lagi adalah muncul keterangan “No internet connection“.

Ilustrasi sosial media.

Sementara di platform chatting, banyak teman mengeluh susah kirim foto dan video. Ada teman yang sama sekali tidak bisa pakai WhatsApp. Aplikasi ini cuma menampilkan ikon jam ketika mengirim pesan. Sementara kirim foto dan video di Line selalu digagalkan.

Seorang teman bernama Gamal (25 tahun), mengatakan bisnis toko online-nya yang menjual produk perawatan tubuh, mengalami penurunan sebesar 30 persen dalam dua hari terakhir ini sejak Kominfo membatasi akses media sosial dan aplikasi pesan. Dia mengandalkan platform website untuk pamer produk, lalu memakai WhatsApp dan Instagram untuk menerima order. Pada 22 dan 23 Mei, orderannya sepi.

“Susah banget jualan hari ini. Enggak ada yang chat,” keluh Gamal.

Dari sini Gamal menyadari dia terlalu mengandalkan WhatsApp dan Instagram untuk berdagang. Ketika dua platform itu dihalang mesin Ais milik Kominfo, pendapatan hariannya terjun bebas.

Mungkin sudah saatnya dia memanfaatkan platform e-commerce model marketplace agar kejadian serupa tak terulang. Jualan produk perawatan tubuh adalah satu-satunya mata pencarian Gamal.

Cerita lain datang dari Sarah (29) yang bekerja sebagai konsultan pemasaran digital di perusahaan swasta Jakarta. Dia bertanggungjawab atas akun Facebook, Twitter, dan Instagram, untuk brand produk bayi. Ketika berlaku pembatasan akses pada media sosial, Sarah dan tim putar otak agar tetap bisa memperbarui konten di akun-akun media sosial itu.

Belum lagi kewajiban menjawab setiap pertanyaan pada kolom komentar yang harus dibalas dengan cepat. Hari itu, response rate untuk komentar di Instagram dan platform medsos lain, turun cukup drastis. Itu makanya harus dicari jalan keluar supaya klien tetap happy.

Ilustrasi Belanja Online

Menginstal aplikasi Virtual Private Network (VPN) adalah satu-satunya jalan untuk menembus batasan akses dari Kominfo. Masalah berikutnya adalah, Sarah dan tim harus riset mendalam tentang aplikasi VPN yang benar-benar aman untuk akun sang klien. Salah pilih VPN, itu sama saja bunuh diri, karena data dan akun klien harus dijaga penuh.

Tim pemasaran digital ini menghabiskan banyak waktu untuk mencari VPN yang terbaik. “Yang jelas, bukan VPN gratisan. Kami bayar mahal untuk VPN dari provider yang bonafide,” aku Sarah.

Kebijakan pembatasan yang diambil Kominfo cukup bikin repot beberapa orang yang menggantungkan hidupnya pada aplikasi media sosial dan aplikasi pesan. Gamal dan Sarah berharap ini tidak berlangsung lama. Satu, dua hari, bolehlah, tapi jangan lebih dari itu. Itu mengganggu pendapatan. Mengganggu kerja dan bikin klien enggak happy.

Ilustrasi menggunakan sosial media. Foto: Shutter Stock

Menkominfo Rudiantara bilang, pembatasan akses pada sejumlah fitur media sosial ini dilakukan secara bertahap dan sementara. Dia tak bisa memastikan sampai kapan ini terus berjalan. Semua media sosial itu akan kembali normal jika situasi sudah kondusif.

Ini sudah hari Kamis, 23 Mei 2019. Masih dalam suasana puasa. Puasa bukan sekadar menahan perut, tapi menjaga perilaku patut. Semoga cobaan “puasa medsos” ini cepat berlalu dan semua pihak menerima dengan lapang.

Clara Marissa

Tidak ada komentar