Ceriwis

Kisah Perempuan Tuli Pendiri The Little Hijabi

Bunda Galuh (tengah) sedang berpose dengan brand ambassador Wardah dan pendiri Quran.id

Ceriwis – Ruangan langsung hening ketika seorang perempuan paruh baya berbicara dalam bahasa isyarat kepada seluruh hadirin yang memadati ruangan besar di acara buka bersama dengan brand kosmetik lokal Wardah yang digelar di Ballroom Shangrila Hotel, Kamis (16/5) lalu. Semua mata tertuju padanya, melihat gerakan demi gerakan berupa bahasa yang ia sampaikan tentang isi hatinya.

Dia adalah Galuh Sukmara–atau yang akrab dipanggil Bunda Galuh oleh anak-anak asuhnya. Bunda Galuh merupakan pendiri The Little Hijabi, sebuah rumah belajar di daerah Bekasi, Jawa Barat yang didirikan khusus untuk anak-anak tuli. Bunda Galuh pun mengajarkan anak-anak tersebut menggunakan metode sign billingual atau bahasa isyarat.

Perempuan asal Jawa Tengah ini pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah itu, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya ke La Trobe University, Melbourne, Australia, dengan bidang Master of Sign Linguistics.

Pada acara Ramadhan Grateful Gathering yang diadakan oleh Wardah tersebut, Bunda Galuh hadir bersama anak-anak Tuli yang dia asuh di The Little Hijabi. Acara ini merupakan bagian dari kampanye terbaru Wardah yang bertajuk #SELALUBERSYUKUR.

Wardah bersama dengan anak-anak tuli dari The Little Hijabi.

Menjadi salah satu narasumber di acara buka bersama Wardah, Bunda Galuh menceritakan sedikit kisahnya tentang awal mula ia mendirikan rumah belajar The Little Hijabi pada 2013 silam. Ia bercerita dalam bahasa indah bahasa isyarat, yang kemudian diterjemahkan oleh rekannya dari The Little Hijabi.

“Awalnya, The Little Hijabi ini sebenarnya saya dirikan untuk diri saya sendiri. Dulu, saya kesulitan mencari tahu tentang Allah, seperti bagaimana Allah bisa menciptakan saya yang tuli,” ungkap perempuan kelahiran 1978 ini.

Galuh pun bercerita, bahwa kemampuan kosa-kata penyandang Tuli itu terbatas. Otomatis, akses untuk dapat memahami agama dan Quran menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Misalnya, banyak anak-anak dan penyandang Tuli yang bertanya-tanya bagaimana cara membaca Al-Quran, bagaimana suara azan, cara salat, dan berdoa.

“Karena itulah, saya mendirikan The Little Hijabi untuk memberikan anak-anak Tuli akses kepada Islam. Di Indonesia terdapat 3-5 juta anak Tuli yang tidak mendapat akses tersebut,” tambahnya.

Wardah bersama Bunda Galuh dari The Little Hijabi.

Prosesnya memang tidak mudah. Bunda Galuh yang juga menjadi salah satu pembimbing di rumah belajar The Little Hijabi kerap memberi keyakinan dan pemahaman bahwa segala sesuatu terjadi karena ada alasan.

“Saya yakin, ada satu visi bahwa Allah mengambil pendengaran kami karena ia begitu cinta kepada kami, dan menyelamatkan anak-anak Tuli dengan cara diambil pendengarannya,” ungkap Bunda Galuh. “Ada satu quotes yang saya ingat. Ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, artinya Allah sedang mempersiapkan hadiah dalam bentuk yang lainnya. Ujian itu datang untuk mengukur betapa kuatnya kita meminta pertolongan Allah. Itu yang saya ajarkan ke anak-anak saya di The Little Hijabi,” tambah perempuan berusia 41 tahun ini.

Bunda Galuh pun mengungkapkan bahwa dua Ramadhan terakhir ini jadi momen terbaik bagi dirinya. Alasannya, teman-teman Tuli jadi bisa lebih memahami dan membaca Quran lewat bahasa isyarat. Hal ini berkat bantuan Wardah dan Quran.id yang memberi kemudahan tersebut lewat program mereka.

Dalam kolaborasi ini, Wardah dan Quran.id membagikan kartu dan video isyarat kisah dari 25 nabi dikemas dalam visual yang menarik. Sarana ini diharapkan dapat menambah wawasan anak-anak Tuli terkait nilai-nilai positif yang terkandung dalam Islam.

Clara Marissa