Ceriwis
Home » Umum » Kosmonaut Rusia Tolak Sumbang Spermanya untuk Riset Sains

Kosmonaut Rusia Tolak Sumbang Spermanya untuk Riset Sains

Alexey Ovchinin, kosmonaut Rusia yang jadi kru di Roket Soyuz.

Ceriwis – Para ilmuwan Rusia mengalami masalah unik. Mereka kesulitan mendapat sampel sperma dari kosmonaut Rusia yang sedang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS).

Masih banyak hal yang belum kita ketahui soal perjalanan luar angkasa. Salah satunya soal bagaimana efek hidup di luar angkasa dalam durasi yang panjang pada manusia.

Jadi, kalau kita ingin pergi ke Mars dan mulai hidup di sana, maka kita harus mempelajari apa yang terjadi pada tubuh manusia di luar angkasa, termasuk salah satunya apa yang terjadi pada sperma manusia. Tapi, para kosmonaut di ISS menolak memberikan sperma mereka untuk diteliti.

“Topik ini membuat semua orang untuk tersenyum dan menolak melakukannya,” ujar Irina Ogneva, kepala laboratorium sel biofisika di Russian Academy of Sciences.

“Kami terus menemukan halangan karena alasan moral, psikologi, dan etika. Tidak ada kosmonaut yang ingin melakukannya,” tambahnya, seperti dilansir IFL Science.

Akibatnya, Rusia tidak bisa melakukan riset atas bagaimana kondisi sperma di luar angkasa. Padahal, riset ini penting jika ingin menyebarkan umat manusia ke planet-planet lainnya.

Ilustrasi sperma.

Di lain pihak, NASA mengaku pihaknya tidak pernah melakukan eksperimen semacam itu. Tapi, badan antariksa AS itu pernah melakukan eksperimen di ISS yang menggunakan sperma yang telah dibekukan dan dikirim dari Bumi.

Pada April 2018 lalu, misi Micro-11 membawa sampel sperma manusia dan banteng ke ISS. Di sana peneliti mempelajari kemampuan berenang sperma di luar angkasa.

NASA membenarkan bahwa hanya sedikit yang kita ketahui tentang efek perjanalan luar angkasa pada sistem reproduksi manusia. Menurut mereka, misi itu adalah langkah pertama untuk mempelajarinya.

Sebelumnya, peneliti telah berhasil memproduksi anak tikus dari sel sperma yang telah berada selama sembilan bulan di luar angkasa pada 2017 lalu. Tapi, jika NASA berencana untuk menciptakan markas luar angkasa di Bulan, maka mereka harus segera memahami efek luar angkasa pada reproduksi manusia.

Andika Gumilang

Tidak ada komentar