Ceriwis

Lahirnya Kebangkitan Cendekiawan Muslim Indonesia Berkat Sosok BJ Habibie

Presiden Indonesia yang baru diangkat, BJ Habibie, tersenyum ketika dia mempersiapkan pidatonya kepada negara di kantor kepresidenan di Jakarta 21 Mei.
Ceriwis – BJ Habibie bukan hanya sekadar bapak teknologi. Dia juga dikenal sebagai aktor yang mendukung lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia yang dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990. Organisasi ini dibentuk dalam sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990.
Habibielah yang menjadi ketua pertama dari perhimpunan tersebut.
BJ Habibie (tengah) dan perannnya dalam kelahiran ICMI.
Habibie dan Proses Lahirnya ICMI
Lahirnya ICMI erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri.
Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi.
Beriringan dengan itu semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai ideologi peradaban dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondiri umat Islam, terutama kadernya “berserakannya” keadaan cendekiawan muslim.
Sehingga menimbulkan polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran dan profesi masing-masing.
Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan simposium dengan tema ‘Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas’ yang direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 29 September ? 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir, M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M. Dawam Rahardjo.
Mantan Presiden Indonesia BJ Habibie saat berpidato di sebuah seminar di Jakarta, 18 Februari 2004.
Dari hasil pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Kemudian para mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin Abdurrahim, M Dawam Rahardjo dan Syafi’i Anwar menghadap Menristek Prof BJ Habibie dan meminta dia untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam lingkup nasional.
Waktu itu BJ Habibie menjawab, sebagai pribadi dia bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Dia juga meminta agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim.
Sebanyak 49 orang cendekiawan muslim menyetujui pencalonan BJ Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.
Pada tanggal 27 September 1990, dalam sebuah pertemuan di rumahnya, Habibie memberitahukan bahwa usulan sebagai pimpinan wadah cendekiawan muslim itu disetujui Presiden Soeharto. Dia juga mengusulkan agar wadah cendekiawan muslim itu diberi nama “Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia”, disingkat ICMI.
Tanggal 28 September 1990, sejumlah cendekiawan muslim bertemu lagi dalam rangka persiapan simposium yang akan diselenggarakan bulan Desember.
Pada tanggal 25-26 November 1990, sekitar 22 orang cendekiawan yang akan membentuk wadah baru berkumpul di Tawangmangu, Solo, dalam rangka merumuskan beberapa usulan untuk GBHN 1993 dan pembangunan Jangka Panjang Tahap kedua 1993-2018 serta rancangan Program Kerja dan Struktur Organisasi ICMI.
Pelaksanaan simposium sempat terganggu oleh gugatan tentang rencana BJ Habibie sebagai calon Ketua Umum ICMI karena dia sebagai birokrat. Kepemimpinannya dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kebebasan para cendekiawan muslim.
Tanggal 30 November – 1 Desember, panitia secara khusus mengadakan rapat untuk menjawab isu negatif soal pemilihan Habibie. Dari pertemuan tersebut menghasilkan beberapa komitmen, pertama, berdirinya ICMI merupakan ungkapan syukur umat Islam yang mempu melahirkan sarjana dan cendekiawan.
Kedua, untuk memimpin ICMI diperlukan tokoh cendekiawan muslim yang reputasi nasional dan internasinal serta dapat diterima oleh umat Islam, masyarakat Indonesia maupun pemerintah. Ketiga, hanya Unibraw salah satu wahana keilmuan- yang cukup pantas melahirkan organisasi itu, apalagi pemerkasanya adalah mahasiswa univeritas tersebut.
Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie memotret di kamera digitalnya saat menghadiri Peringatan HUT ke-61 Provinsi Riau di Kota Pekanbaru, Kamis (9/8).
Halangan juga sempat datang dari aparat keamanan setempat. Dalam rapat gabungan antara penyelenggara, pemda dan aparat keamanan di Surabaya, empat hari menjelang acara, aparat keamanan menyoal pembentukan organisasi tersebut. ICMI, kata mereka harus diwaspadai. Tapi Abdul Aziz Hosein yang menghadiri acara tersebut sebagai panitia penyelenggara mengatakan bagaimanapun ICMI akan terbentuk karena presiden sudah menyetujui dan AD/ART-nya sudah disusun.
Tanggal 7 Desember 1990 merupakan lembaran baru dalam sejarah umat Islam Indonesia di era Orde Baru, secara resmi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dibentuk di Malang. Saat itu juga secara aklamasi disetujui kepemimpinan tunggal dan terpilih Habibie sebagai ketua umum ICMI yang pertama.
Dalam sambutannya, dia mengatakan bahwa dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia, karena itu juga merupakan tugas utama.
Habibie menjadi ketua umum ICMI dua kali. Setelah itu dilanjutkan oleh Adi Sasono, dan kemudian ICMI dipimpin sebuah presidium. Pada 2015, ICMI kembali dipimpin seorang ketua umum, yaitu Prof Dr Jimly Asshiddiqie.
Habibie kini telah berpulang. Ia meninggal di usia ke-83 tahun di RSPAD Gatot Soebroto.
Meski telah meninggal, perjuangan Habibie untuk mendukung lahirnya kebangkitan cendekiawan muslim di Indonesia telah dicatat dengan tinta emas.
Menteri Negara Riset dan Teknologi Prof.Dr.Ing B.J. Habibie mengatakan kepada tamunya Menteri Perdagangan dan Industri Finlandia Esko Ollila, pesawat Helikopter dan pesawat CN235 hasil produksi pabrik Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dikerjakan putra-putri Indonesia dalam suatu pertemuan Rabu pagi di Gedung BPP Teknologi Jakarta. dalam pertemuan itu Menteri Ollila dan rombongan disertai Duta Besar Finlandia di Jakarta (26/1/1983).

Andika Gumilang