‘Lantai Surga’ di Hotel Alexis

Praktik layanan seks komersial ada di Hotel Alexis. Namun pihak Alexis menyatakan itu urusan individu dan tak disediakan hotel.

Ilustrator: Edi Wahyono

Selasa, 23 Oktober 2017

Dentuman musik techno langsung menyambar telinga sebelum memasuki lobi Hotel Alexis di Jalan RE Martadinata Nomor 1, RT 6 RW 4, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Penjagaan di hotel itu terlihat ketat. Begitu mobil yang mengantar kami masuk, petugas keamanan langsung meminta agar lampu kabin dinyalakan untuk keperluan pemeriksaan.

“Tolong nyalakan lampu dalam dan buka bagasi,” begitu kata seorang petugas dengan nada tegas pada Selasa, 17 Oktober 2017, sekitar pukul 22.00 WIB itu.

Begitu turun dari mobil, kami disambut empat petugas berpakaian safari serbahitam. Mereka meminta kami melintasi pintu yang dilengkapi dengan metal detector. Suara musik tersebut ternyata berasal dari lounge berlabel 4Play Club, yang terletak di sisi kiri lobi Hotel Alexis.

Di klub itu, para pengunjung terlihat sangat menikmati suguhan musik dan penari seksi yang meliuk-liuk di atas panggung berukuran 4×4 meter. Pada hari-hari tertentu, kabarnya, para penari tersebut tampil tanpa mengenakan sehelai benang pun alias bugil.

Namun kami lupakan dulu 4Play Club karena tujuan kedatangan kami adalah melihat suasana di lantai tujuh Alexis, yang disebut-sebut sebagai ‘surga dunia’. Adanya praktik prostitusi di ‘lantai surga’ Hotel Alexis itu belakangan menjadi pergunjingan publik.

Hotel Alexis
Foto: dok. detikcom

Wacana penutupan Alexis mengemuka sejak era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun Ahok selalu minta pembuktian adanya pelacuran di Alexis sebelum menindaknya. Ahok pun diserang Anies Baswedan sebagai calon gubernur pada masa kampanye Pilkada DKI 2017. Anies, yang menilai Ahok lemah, berjanji akan menutup Alexis.

Para politikus Kebon Sirih pun ogah ketinggalan. Beberapa anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, yang dipimpin Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, menyambangi Alexis pada Kamis, 24 Mei 2017. Tetapi mereka mengaku tak menemukan hal ‘aneh’ di Alexis.

Tolong handphone-nya dikeluarkan dulu.”

Benarkah tidak ada yang mencurigakan di lantai 7 Alexis? Lantai 7 hotel bernuansa kehitaman itu dapat diakses melalui lift yang terletak di belakang meja resepsionis di bagian lobi. Begitu keluar dari lift, kami langsung disambut senyuman seorang resepsionis.

“Mau ke tempat spa, ya? Silakan pakai dulu ini.” Resepsionis berjenis kelamin laki-laki itu mengarahkan kami ke sebuah meja untuk mengenakan gelang berwarna merah dengan nomor tertentu.

Gelang itu dilengkapi chip untuk membuka loker, sekaligus dijadikan identitas tamu saat penagihan atas layanan yang diberikan. Setelah kami memakai gelang dan menuju area spa, dua petugas keamanan hotel yang berjaga di depan pintu mencegat kami.

“Tolong handphone-nya dikeluarkan dulu,” ujar petugas sekuriti berbadan tegap itu. Semua telepon seluler pengunjung memang diambil dan dipasangi stiker berbentuk bulat untuk menutup lensa kamera depan maupun belakang. Setelah itu ponsel dikembalikan dan kami dipersilakan menuju lounge dipandu dua waitress.

Setelah melewati loker untuk tamu yang ingin mengganti pakaian dan ke toilet, kami kemudian menuju sebuah lorong. Di ujung lorong itu terlihat sejumlah perempuan cantik berpakaian seksi laksana bidadari berlalu lalang. Mereka berjalan berbaris mengikuti seseorang yang diketahui sebagai muncikari.

Menariknya, perempuan-perempuan cantik yang ada di situ bukan hanya berasal dari Indonesia. Perempuan berwajah Oriental, melayu, Eropa Timur, bahkan Amerika Latin pun ada. Pada saat-saat tersebut, seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun, yang parasnya tak kalah jelita, mendekati kami. “Baru datang, ya? Silakan ikuti saya,” ucap perempuan yang mengenakan pakaian blazer hitam itu.

Kami pun mengikuti langkah perempuan berambut lurus yang belakangan diketahui sebagai mami alias muncikari di Alexis itu. Rupanya kami diajak ke sebuah sudut bangunan yang di sana terdapat gazebo berjumlah delapan unit. Masing-masing gazebo dilengkapi dua sofa, sebuah meja, dan tirai.

Muncikari itu—sebut sana namanya Indah—kemudian mempersilakan para tamu duduk. Tak lama berselang, ia berpamitan dengan alasan ingin ‘menyiapkan anak-anak’. Sambil menunggu datangnya minuman yang kami pesan, mata kami menyapu seluruh isi ruangan dari balik tirai gazebo.

Malam itu, suasana di ‘lantai surga’, baik di dalam bar maupun gazebo, begitu riuh. Banyak pria yang terlihat duduk-duduk santai sambil menikmati alunan musik nan lembut. Gelak tawa perempuan-perempuan cantik sesekali terdengar. Sejumlah perempuan duduk berjajar di hadapan salah satu sofa yang berisi dua pengunjung.

Beberapa menit kemudian, Indah muncul kembali. “Sudah pernah datang sebelumnya?” tanyanya. Begitu kami bilang belum pernah, Indah pun langsung menjelaskan secara terperinci tarif layanan seks perempuan yang menjadi anak buahnya.

Kata Indah, untuk perempuan lokal atau asal Indonesia, tarifnya Rp 1,45 juta per sekali kencan. Durasinya sekitar satu jam. Sedangkan untuk perempuan ‘impor’, tarifnya bervariasi. Untuk perempuan asal Filipina, Thailand, Vietnam, Uzbekistan, dan Kolombia, harganya Rp 2,45 juta. Yang paling mahal adalah perempuan asal China, yang dipatok Rp 2,7 juta per sekali kencan.

Begitu kalimat order didengarnya, Indah langsung sigap menggelar kontes di gazebo yang kami tempati. Sekitar 20 perempuan dengan gaun malam menggoda dalam sekejap berdiri berjajar rapi. Kami pun memilih perempuan Indonesia agar lebih gampang mengorek keterangan tentang aktivitas mereka di sana.

image for mobile / touch device

Alexis, tempat hiburan malam di Jakarta.

Cindy, sebut saja nama perempuan bertubuh semampai itu. Dari obrolan-obrolan kami dengan Cindy, juga dengan Indah, terungkap, jika ingin melakukan booking perempuan di sana, selain dikenai tarif kencan, pengunjung dikenai biaya kamar.

Cindy mengaku sudah setahun ini bekerja di Alexis. “Saya asal Jakarta. Sudah setahunan kerja di sini,” ujar Cindy sambil melempar senyum nan menggoda. Cindy terlihat sangat rileks dan berpengalaman menghadapi tamu laki-laki.

Izin kami hanya karaoke, spa, dan hotel. Kalau ada pemandu, iya ada pemandu. Tapi dalam konteks itu (layanan seks), kita tak menyediakan. Masing-masing.”

Perempuan berkulit putih yang mengaku berusia 25 tahun ini mengungkapkan, sehari-hari ia tinggal di sebuah apartemen yang disewa oleh bosnya. Ia dan beberapa teman seprofesi tidak diperbolehkan keluar dari apartemen kecuali ‘bertugas’, yang dimulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Dan di akhir pekan, jam kerja bertambah hingga pukul 04.00 WIB.

Di tengah-tengah obrolan itu, tiba-tiba Cindy memperkenalkan seorang temannya yang berasal dari Kolombia. “Ini, kenalin, namanya Sania (bukan nama sebenarnya).” Sania terlihat begitu menawan dengan balutan busana malam berwarna pink yang ketat. “Halo, selamat malam,” sapanya dengan bahasa Indonesia sedikit kaku. Namun percakapan dengan Sania tak bisa lama karena ia harus ikut kontes di meja tamu yang lain.

Perbincangan dengan Cindy berlangsung sekitar setengah jam. Cindy mulai memperlihatkan raut wajah bosan. Beberapa kali ia melontarkan rayuan agar segera beranjak ke kamar hotel. Kamar itu berada di lantai lima. Untuk masuk ke kamar hotel, resepsionis di lantai 5 masih memungut uang Rp 200 ribu.

Setelah cukup mengetahui adanya fenomena transaksi seks di Hotel Alexis, kami pun beringsut dari ‘lantai surga’. Sebelum turun melalui lift, kami menuju kasir tempat pengunjung membayar tagihan dengan menyerahkan gelang. Jika belum mengantongi bukti pembayaran, maka tamu Alexis tak diberi akses untuk menggunakan lift.

Susana di gazebo lantai 7 Hotel Alexis
Foto : tim detikX dan Redaksi Kontroversi Trans7

Anehnya, struk tagihan berlogo Alexis yang keluar dari print komputer tak langsung diserahkan kasir. Ia mengganti struk itu dengan selembar kuitansi yang nilai tagihannya disalin dari struk. Kasir itu pun tak memberi penjelasan terkait proses pembayaran yang tidak lazim tersebut.

Namun tanda bukti pembayaran di lantai 7 itu bisa dipakai untuk masuk ke 4Play Club secara gratis. Apabila tidak mempunyai ‘tiket’ gratis tersebut, maka pengunjung biasanya dikenai biaya Rp 100 ribu untuk sekali masuk. Informasi yang kami terima dari seorang pelayan di klub, pada hari-hari tertentu ada pertunjukan tarian striptease dan sex show di klub itu. Jika ingin open table di 4Play Club, pengunjung dikenai minimum payment Rp 2 juta.

Karena malam itu tak ada pertunjukan, kami hanya mengisi waktu dengan memesan minuman sambil berbincang-bincang dengan salah satu pelayan di sana. Menurut pria bernama Gandi (bukan nama sebenarnya), Alexis adalah tempat yang menyediakan layanan one stop entertainment, mulai diskotek hingga layanan seks premium.

Gandi pun menjelaskan beberapa fasilitas lain di Alexis. Di lantai 2 tersedia restoran mewah dengan menu Indonesia, Barat, maupun China, yang buka hanya pada Sabtu dan Minggu. Di lantai 3 terdapat sejumlah ruangan karaoke, yang buka pada Senin-Sabtu pada pukul 13.00-05.00 WIB. Lantai 3A dan 5 juga terdapat ruang karaoke serta bar.

Juru bicara Hotel Alexis Ridwan membantah ada prostitusi di Alexis. Ia menanyakan apakah sudah pernah ke lantai tujuh untuk melihatnya secara langsung. Dijawab sudah, Ridwan pun menimpali, “Nah, kalau itu individu. Kalau itu saya tidak tahu. Izin kami hanya karaoke, spa, dan hotel. Kalau ada pemandu, iya, ada pemandu. Tapi dalam konteks itu (layanan seks), kita tak menyediakan. Masing-masing,” katanya.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *