Mengapa Generasi Sekarang Tidak Lagi Berhubungan Seks

Marija Kovac

Kalau kamu benar-benar ingin bercinta, itu mudah sekali.

Kalau kamu seorang pria, yang harus kamu lakukan adalah pergi ke bar, kerahkan sedikit keberanian dan mulailah obrolan dengan gadis mana saja yang tiga poin di bawah kamu dalam skala 10 poin.

Jika kamu seorang wanita, yang harus kamu lakukan adalah menerima obrolan tersebut. Itu saja.

Siapa saja yang punya setengah otak dan seperangkat alat kelamin bisa memasukkan P ke dalam V dan melakukan hubungan seks.

Menyedihkan bahwa seks telah direduksi menjadi hal ini—campuran interaksi yang kosong dan tanpa emosi yang berujung pada rabaan kosong dan tanpa emosi di kamar tidur seseorang dan pamitan yang sama-sama kosong dan tanpa emosi satu jam kemudian.

Untuk beberapa alasan, seks dan kenikmatan adalah entitas yang saling eksklusif. Pria mendorong penis lembek mereka ke dalam vagina seperti mereka sedang menekan kasur udara setengah terisi ke dalam tas wisata mereka, dan semua orang tampaknya baik-baik saja menyebut hal ini sebagai seks.

Saya tidak sedang mempermalukan orang yang melakukan seks tanpa arti—saya hanya mengatakan pasti ada cara untuk mendapatkan seks yang lebih baik . Karena generasi sekarang tidak lagi benar-benar berhubungan seks.

Kita mengisi, bukan memenuhi.

Tak usah dikatakan bahwa bagi kebanyakan dari kita, seks itu canggung, tidak bisa dinikmati dan benar-benar intim—seperti, mungkin hal paling intim yang pernah kita lakukan dalam hidup. Dan jika kamu secara konsisten melakukan hubungan seks yang baik, entah kamu berada dalam hubungan jangka panjang atau kamu bukan orang generasi modern.

Laki-laki maupun perempuan sama-sama bersalah mengapa kita tidak lagi benar-benar bercinta. Mayoritas perempuan yang saya kenal tidak pernah mengalami orgasme sebelumnya dan tidak mengerti bahwa mereka adalah setengah bagian dari keseluruhan pengalaman seksual di atas ranjang. Dan laki-laki tidak membantu situasi—mereka tahu betapa semakin sulit untuk membuat wanita mencapai puncak, sehingga mereka mengabaikannya saja untuk memuaskan ego mereka dan fokus pada diri mereka sendiri.

Masalah kita adalah kita terlalu fokus pada tindakan fisik hubungan seksual. Kita berpikir, hanya memasukkan penis ke dalam vagina berarti seks sudah terjadi, tapi itu tidak benar.

Pada kenyataannya, sebagian besar manusia yang berhubungan seks tidak melakukannya untuk tujuan biologis memiliki bayi (dalam hal ini seks bisa berarti hanya memasukkan penis ke dalam vagina). Kita melakukannya karena rasanya nikmat.

Kita cukup beruntung tidak menjadi binatang, itu berarti kita cukup beruntung mampu berhubungan seks dengan banyak lapisan yang menarik dan kompleks, salah satunya adalah kepuasan. Jadi, persyaratan minimal pengalaman seksual adalah kepuasan fisik. Kedua belah pihak harus pergi dengan kepuasan secara fisik.

[AdSense-A]

Kedengarannya ini tidak sulit. Sayangnya, tidak begitu.

Kita sangat takut pada kerentanan.

Ada apa dengan ketakutan generasi sekarang pada kerentanan?

Kita menolak untuk bahkan mendukung gagasan menghubungkan seks dengan emosi. Kita kekanak-kanakan akan hal itu.

Nah, saya paham. Secara pribadi, saya suka kerentanan, tapi hal itu menakutkan bagi sebagian besar dari kita. Setelah kamu membiarkan orang lain melihat tubuh telanjang dan rentan kamu, hal terakhir yang kamu inginkan adalah membiarkan orang itu juga melihat jiwa telanjang dan rentan kamu.

Tapi kerentanan justru menciptakan seks yang menakjubkan. Bila kamu memiliki hubungan emosional, koneksi fisik adalah cara, cara yang lebih baik daripada yang pernah kamu pikirkan. Tanyakan kepada siapa saja yang pernah jatuh cinta sebelumnya—mereka akan memberitahumu.

Kerentanan apa yang begitu menakutkan semua orang? Apakah kita benar-benar terlalu takut terluka sehingga kita bersedia tidak menjelajahi sesuatu yang nyata?

Terluka itu sangat menyebalkan, tapi bukankah gagasan bahwa kamu bisa mati sendirian lebih menakutkan daripada gagasan bahwa seseorang bisa menyakitimu?

Satu-satunya cara kamu dijamin untuk tidak akan mati sendirian adalah jika kamu benar-benar membiarkan dirimu menjadi rentan. Jadi terimalah dan jadilah rentan.

Kita telah tertipu oleh gagasan media tentang kesempurnaan.

Kita semua pernah mengalami kecemasan yang melumpuhkan yang datang dengan memisahkan tubuh kita dan wajah kita dan menentukan bahwa kita tidak cukup bagus saja.

Photoshop, riasan berjam-jam dan pencahayaan yang ditempatkan secara strategis telah sangat memudahkan bagi pengiklan dan produser film dan acara TV untuk mengelabui kita agar berpikir bahwa setiap aktor, model, dan politisi itu secara alami tanpa cacat—dan kita pun tertipu.

Kita lupa bahwa orang-orang yang kita lihat di media bukanlah orang sungguhan, dan kita tidak bisa tidak membandingkan diri kita dengan jenis-jenis tubuh ini dan fitur-fitur wajah ini dan tekstur-tekstur kulit ini yang sama sekali tidak nyata.

Semua ini membuat kita sadar diri dan kritis pada tubuh kita, fitur kita, dan fisik kita secara keseluruhan. Kita sekadar tidak mendapati diri kita menarik secara fisik.

Untuk mendapatkan seks yang baik, kamu harus merasa nyaman dengan tubuh kamu. Kamu harus merasa seksi. Dan, yah, kita tidak merasa seksi saja.

Tapi bagaimana bisa? Bagaimana kita bisa merasa seksi dengan selulit kita atau jerawat kita jika kita dibombardir dengan gambar orang-orang yang tampak tidak punya semua itu?

[AdSense-B]

Kita sangat digital sehingga kita terputus dengan diri kita sendiri.

Berkat betapa kita dikendalikan oleh semesta digital kita, koneksi dengan manusia lain tidak diperlukan lagi. Kita sudah sepenuhnya digital.

Kita sangat fokus dengan peningkatan identitas media sosial kita dengan memasang gambar-gambar menyenangkan atas apa yang kita lakukan tadi malam dan mengambil Snapchat lucu sehingga kita lupa untuk meningkatkan identitas kehidupan nyata kita. Validasi kita berasal dari jumlah “suka”, bukan dari pendapat orang-orang yang dekat dengan kita.

Kita lebih suka mengenal ribuan teman di Instagram, Facebook, Snapchat, dan Twitter pada tingkat permukaan dengan menjelajah gambar profil acak daripada mengenal sedikit teman pada tingkat yang lebih dalam dan intim.

Kita lebih oke dengan mencari ratusan profil Tinder selama berjam-jam daripada menemui salah satu orang itu secara langsung.

Kita puas dengan pornografi, vibrator, dan mengirim gambar telanjang melalui Snapchat—semuanya tidak memerlukan kehadiran fisik manusia lain.

Tidak heran seks telah kehilangan keintimannya. Siapa yang butuh kepuasan nyata dan abadi dari orang lain ketika kamu bisa mendapatkannya secara cepat dengan sekali klik pada sebuah aplikasi? (Alexia LaFata)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *