Mengapa Kehilangan Kesadaran akan Realitas Saat Kita Jatuh Cinta itu Manusiawi

Robert Zaleski

Tidak ada cara yang sederhana untuk mengungkapkan seperti apa rasanya jatuh cinta. Secara paradoks, jatuh cinta itu segalanya sekaligus bukan apa-apa, ada di mana-mana sekaligus sebentar saja, menggembirakan sekaligus menyedihkan. Dan seperti siapa saja yang pernah merasakan godaan gairahnya, cinta itu seperti obat bius—obat bius yang sangat kuat.

Bagi banyak dari kita, jatuh cinta itu butuh semacam keterpisahan dari diri kita yang normal dan sinis. Ada unsur fantasi yang memungkinkan kita membuka diri pada cinta—dan juga potensi terluka dan sedih. Menyerah pada cinta adalah hal yang menyelamatkan kita dari menjalani hidup sendirian.

Dan itulah yang membuat cinta begitu memabukkan: Kamu tahu cinta itu bisa mendistorsi kesadaran kamu akan realitas, tapi kamu tetap membuka diri padanya. Berikut ini beberapa dari banyak sekali alasan mengapa hal itu normal.

Karena kamu berfantasi tentang apa yang mungkin nantinya.

Ketika kamu bertemu seseorang yang benar-benar mengobarkan sesuatu dalam diri kamu, rasanya tidak mungkin bila tidak membayangkan masa depan kalian bersama-sama.

Nafsu yang menguras semuanya ini membuatmu ada di alam mimpi. Kamu pasti kehilangan kesadaran akan masa kini ketika semua yang kamu dapat pikirkan adalah seseorang yang istimewa itu dan nama-nama ketiga anak kalian yang sempurna. Kamu memproyeksikan apa yang kamu inginkan terjadi bukannya melihat dunia apa adanya.

Karena kamu ingin cinta itu berhasil sehingga kamu mengabaikan semua tanda bahaya.

Manusia sangat bagus dalam berharap. Ketika kita benar-benar jatuh cinta pada seseorang, kita menjadi buta pada kekurangannya (dan pada kebanyakan hal lainnya). Apa yang bagi orang rasional akan segera dikenali sebagai hambatan yang tidak teratasi, bagi seseorang yang jatuh cinta dilihat sebagai sebatas kedipan dalam radar. Kita sangat dikuasai oleh kemungkinan bahwa ini bisa jadi takdir kita sehingga kita lupa mencari tanda-tanda peringatan. Hati kita menyuruh kita mengesampingkan skeptisisme kita—dan kita mendengarkan.

Karena lagu-lagu cinta tertulis untuk kamu.

Saat kamu terpikat dengan seseorang, semua lagu-lagu cinta klise itu mulai masuk akal. Kamu tiba-tiba membuat playlist dengan judul murahan seperti “So In Love” atau “Feelings”. Dan kamu tidak peduli siapa yang tahu! Kamu mendengarkan balada-balada terkenal ini dan berpikir bahwa mereka benar-benar ditulis tentang kamu dan hubungan kamu. Seolah-olah penyanyinya berbicara langsung dengan jiwamu. Seolah-olah ada yang tahu apa yang kamu rasakan dan tidak punya pilihan selain menempatkan nada-nada dan kata-kata di sebuah halaman untuk meringankan kesusahanmu.

Karena kamu begitu terjebak dalam mencintai orang lain sehingga kadang-kadang kamu lupa mencintai diri sendiri.

Sudah ditakdirkan bahwa cinta pada akhirnya akan mengalahkan kita. Yang sulit adalah menjaga keseimbangan. Kita menjadi begitu tergila-gila dengan orang lain sehingga kita melupakan hubungan yang paling signifikan kita: hubungan dengan diri kita sendiri.

Kehilangan diri kamu sendiri pada orang lain itu mudah dan butuh latihan dan kesadaran diri untuk menghindarinya. Jika kamu ceroboh, cinta itu bisa menelan kamu utuh-utuh.

Karena kegembiraan dari jatuh cinta mengalahkan indra kita.

Ketika kamu sedang jatuh cinta, segalanya menjadi lebih: Warna lebih terang, suara lebih keras, dan kenangan lebih hidup. Kamu mulai melihat dunia melalui kacamata berwarna merah mawar, saat cinta menembus setiap aspek kehidupan kamu, tanpa meninggalkan apa pun yang tak tersentuh. Ini menakutkan sekaligus menarik, tapi kita tertarik pada cinta seperti ngengat pada nyala api.

Karena cinta adalah hal paling dekat dengan keajaiban yang kita alami.

Pada akhirnya, cinta itu seperti keajaiban. Cinta membuatmu merasa seolah-olah kamu mampu melakukan apa saja, bahwa tidak ada rintangan yang terlalu besar untuk diatasi. Cinta menyapu kecemasan kamu dengan gelombang kemungkinan. Cinta mengilhami kita dengan versi kita sendiri tentang kedigdayaan. Namun, sebesar apa pun kita ingin menganggap diri kita sebagai penyihir yang bisa mengendalikan perasaan kita, kita tidak bisa. Cobalah sekeras mungkin, kita pada akhirnya tak berdaya di hadapan cinta.

Dan itu tidak selalu berarti buruk. (Gigi Engle)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *