Ceriwis

Obat Alternatif Antikanker Serviks Telah Dikembangkan oleh Mahasiswa UI

Tiga mahasiswa Universitas Indonesia (UI) penemu obat antikanker serviks.
Ceriwis – Tiga mahasiswa Universitas Indonesia (UI) jurusan Teknik Bioproses Fakultas Teknik UI melakukan penelitian untuk mengembangkan obat alternatif antikanker serviks (kanker leher rahim). Obat itu berasal dari racun duri ikan lionfish sebagai alternatif obat dari bahan alam untuk sediaan antikanker serviks.
Ketiga mahasiswa UI tersebut adalah Mustika Sari, Sarah Salsabila, dan She Liza Noer.
Dilansir situs resmi UI, Rabu (21/8), penelitian yang dilakukan para mahasiswa dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kematian yang disebabkan oleh kanker serviks di Indonesia.
Berdasarkan data tahun 2018 yang dikeluarkan Globoca, terdapat 32.469 kasus kanker serviks dan 18.279 di antaranya meninggal dunia.
Lebih lanjut, lionfish juga merupakan spesies invasif dengan tingkat reproduksi dan distribusi yang tinggi sehingga menyebabkan ledakan populasi hingga 700%. Ledakan populasi tersebut menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem dan penurunan populasi ikan lokal sehingga dapat merugikan nelayan sekitar.
“Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menggali literatur terkait penggunaan lionfish sebagai alternatif obat dari bahan alam. Terlebih lagi, pengobatan melalui kemoterapi juga belum sepenuhnya efektif karena efek samping yang dihasilkannya,” ungkap salah satu peneliti, Mustika Sari.
“Penggunaan lionfish di sini merupakan upaya kami untuk ikut serta menjaga ekosistem laut, karena ikan tersebut merupakan salah satu ikan yang merugikan nelayan. Melalui uji laboratorium, hasil menunjukkan bahwa racun lionfish berhasil membunuh sel kanker,” sambungnya.
Kanker serviks dapat dicegah dengan vaksin dan pemeriksaan rutin.
Dipilihnya ikan lionfish sebagai bahan alternatif, kata dia, dikarenakan racun duri lionfish mengandung peptida yang memiliki aktivitas antiproliferatif terhadap sel kanker. Dengan mekanisme induksi apoptosis, yaitu proses penghambatan proliferasi sel kanker secara selektif.
Mustika menambahkan, untuk mendapatkan protein yang memiliki sifat apoptosis terhadap sel kanker serviks, mereka mengekstraksi racun duri lionfish.
Kemudian dimurnikan dengan presipitasi ammonium sulfat dengan proses pemanasan. Ekstrak racun dari duri lionfish yang telah diperoleh kemudian diujikan secara in vitro terhadap sel kanker.
“Hasil yang diperoleh dari pengujian in vitro terlihat adanya efek inhibisi terhadap sel kanker serviks. Efek inhibisi ini menunjukkan pengujian berhasil membunuh sel kanker yang ada,” terang Mustika.
“Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk alternatif pengobatan kanker serviks berbahan alam serta dapat mengatasi permasalahan invasi lionfish di beberapa perairan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem,” tutupnya.
Penelitian ini mendapatkan pembiayaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, dan tengah dalam tahap presentasi di ajang Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional yang akan diselenggarakan akhir Agustus 2019 di Bali.
Ilustrasi Ikan Lionfish.

Bella Priscilla