Ceriwis

Obat Panadol Palsu Telah Beredar Pertama Kalinya di Malaysia

Temuan obat Panadol palsu di Malaysia.
Ceriwis – Ada temuan obat Panadol palsu di Malaysia. Penemuan obat palsu ini diungkap oleh seorang apoteker sekaligus blogger bernama Zeff Tan. Ini merupakan pertama kalinya ditemukan ada Panadol palsu di dunia.
Zeff Tan memperlihatkan Panadol palsu yang ia temukan di akun Facebooknya. Panadol itu ia dapatkan dari seorang penjual lokal. Dalam postingannya itu, Zeff Tan memperlihatkan perbedaan antara produk palsu dan produk asli.
GlaxoSmithKline (GSK) selaku perusahaan penjual Panadol telah memberikan tanggapan hal ini. GSK mengatakan bahwa Panadol palsu ini baru ditemukan di Malaysia. Menurut GSK, tim globalnya sudah mendapat informasi atas hal ini dan mulai menyelidiki apakah ada hal yang sama di tempat lain.
Dr Colin G.D’Silva, kepala komunikasi dan urusan pemerintah GSK di Asia-Pasifik, mengatakan bahwa setiap tahunnya produk palsu menjadi semakin lazim di industri farmasi. Bahkan, ancaman itu telah menyasar GSK. Ia mengatakan bahwa produk palsu ini bisa berbahaya bagi pemakainya.
“Sejak mengetahui insiden obat palsu ini, GSK semakin waspada dalam memantau pendistribusi obat dan mengidentifikasi pengecer atau outlet yang menjual produk palsu di Malaysia,” ujar D’Silva kepada Business Insider.
Ia menambahkan, GSK kini sedang melakukan investigasi terhadap produk palsu di Malaysia. Perusahaan farmasi bahkan telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan penjualan Panadol palsu pada beberapa penjual.
Selain itu, GSK juga bekerja sama dengan agen spesialis anti-pemalsuan untuk memulai “aksi pasar”, seperti melakukan pengawasan di dalam toko untuk melihat asal usul pasokan obat palsu. Selain itu GSK juga memberikan pelatihan kepada otoritas lokal untuk membedakan obat palsu ini.
“Kami akan terus secara aktif mempelajari sumber, skala, dan jangkauan produk Panadol palsu. Serta bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengambil tindakan terhadap produksi, penjualan, distribusi, dan impor produk-produk ini,” kata Dr D’Silva.

Richard Samuel