Ceriwis

Pakai Garam Epsom Saat Mandi, Bisa Meredakan Kelelahan ?

Garam epsom telah digunakan ratusan tahun sebagai media pengobatan.

Jika kita termasuk orang-orang dengan aktivitas tinggi, seperti olahraga, atau termasuk orang yang jarak antara rumah dan kantor cukup jauh, mungkin garam Epsom dapat membawa manfaat baik.

Apa itu Garam Epsom?

Semua senyawa kimia dengan muatan netral dikategorikan sebagai golongan garam. Contohnya, karena Natrium bermuatan satu positif dan Chloride bermuatan satu negatif, maka NaCl membentuk senyawa netral.

Namun, kandungan garam Epsom bukanlah NaCl seperti garam dapur pada umumnya, namun berupa senyawa Magnesium Sulfate Heptahydrate, biasanya hanya disingkat Magnesium Sulfate. Namanya hingga kini disebut Epsom karena ditemukan di kawasan pemandian bernama Epsom, Surrey, Inggris.

Keberadaan garam ini pertama kali disadari oleh seorang petani bernama Henry Wicker karena sapi-sapinya tidak mau minum air dari pemandian alam di sana, maka pastilah ada suatu kandungan di airnya. Setelah menemukan garam yang mengkristal itu, Wicker kemudian membuat spa pertama di dunia pada abad 17.

Kebutuhan Tubuh akan Magnesium

Banyak artikel dan iklan mengenai garam Epsom yang menekankan bahwa Magnesium adalah elemen yang sangat dibutuhkan tubuh secara harian. Hal ini benar adanya karena Magnesium berperan dalam setidaknya 300 reaksi enzim dalam tubuh untuk membantu proses pencernaan makanan, sintesis lemak dan protein, serta menjaga kemampuan saraf untuk dapat berfungsi dengan baik.

Garam ini sebenarnya telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat yang menyatakan bahwa produk ini aman untuk digunakan. Banyak klaim manfaat yang beredar di internet seperti obat lelah dan nyeri otot serta persendian, treatment detak jantung yang tidak beraturan, kekurangan Magnesium di dalam darah, eclampsia yang merupakan komplikasi kehamilan, dan juga tetanus parah.

Namun, tidak ada artikel ilmiah yang benar-benar merupakan hasil penelitian tentang mengapa garam Epson dapat membawa manfaat yang telah disebutkan sebelumnya.

Klaim Detoksifikasi dan Osmosis

Klaim-klaim yang telah disebutkan di atas juga menyebutkan bahwa garam Epsom bekerja melalui mekanisme osmosis yaitu untuk membuat Magnesium terserap ke tubuh melalui pori-pori kulit atau detoksifikasi yaitu toksin dapat keluar dari dalam tubuh melalui pori-pori kulit.

Ini adalah pemahaman yang salah mengenai osmosis. Osmosis adalah proses berpindahnya zat pelarut seperti air dari medium yang memiliki konsentrasi rendah ke medium dengan konsentrasi tinggi. Contohnya, kentang yang direndam dalam larutan garam, maka akan mengkerut karena air dalam kentang berpindah ke luar karena konsentrasi garam di luar lebih tinggi.

Jadi jika klaim osmosis itu benar, seharusnya air yang berpindah dan bukan zat tertentu atau bahkan toksin. Jika demikian, maka setelah mandi dengan garam epson seharusnya kita akan semakin mengalami dehidrasi karena air keluar melalui pori-pori kulit kita.

Hal lain yang perlu dicatat, kulit kita sebenarnya hampir merupakan waterproof sempurna yang amat selektif karena kulit merupakan sistem perlindungan terluar dari zat apapun yang mencoba masuk ke tubuh kita melalui kulit. Karena selektivitas ini, sulit untuk memasukkan zat apapun hanya dengan mengandalkan serapan melalui kulit.

Penelitian tentang Serapan Magnesium melalui Kulit

Ada satu penelitian mengenai serapan Magnesium melalui kulit oleh Dr. RH. Waring, University of Birmingham, Inggris. Ia mengikutsertakan 19 subjek yang diukur kadar Magnesium dan Sulfat dalam darah dan urinnya sebelum dan setelah mandi dengan garam Epsom.

Hasilnya, kadar Magnesium dan Sulfate meningkat di darah dan juga di urin setelah seminggu rutin mandi dengan garam Epsom. Disimpulkan juga bahwa terdapat saturasi maksimum Magnesium di darah sehingga jika jumlahnya telah melebihi batas tertentu, maka akan diolah oleh ginjal dan didepositkan dalam urin.

Kondisi bathub yang dipenuhi air hangat mungkin dapat memperlebar pori-pori kulit, menurunkan selektivitas dan memungkinkan Magnesium dan Sulfat untuk masuk ke darah. Sayangnya, penelitian ini tidak pernah dipublikasikan secara resmi hingga 13 tahun setelah dilakukan, yang berarti keabsahan dari hasil penelitian ini belum terjamin karena belum melalui proses review oleh peneliti sejawat (peer-review).

Richard Samuel