Ceriwis

Penelitian soal Monster Loch Ness

Nessie, si Monster Loch Ness.

Ceriwis – Sekelompok ilmuwan baru saja selesai melakukan sebuah penelitian dengan menganalisis sampel air Danau Loch Ness di Skotlandia. Penelitian ini dibuat untuk mencari tahu apakah keberadaan Nessie, sang monster Danau Loch Ness, benar-benar ada.

“Kami telah menguji masing-masing hipotesis utama mengenai monster tersebut, tiga dari mereka mungkin bisa kami katakan tidak benar, dan salah satunya mungkin benar,” kata Profesor Neil Gemmell, ahli genome dan reproduksi dari University of Otago, Selandia Baru, sebagaimana dilansir The Scotsman.

Gemmel dan timnya menganalisis sampel air Loch Ness untuk menemukan jejak DNA dari organisme yang ada di Danau Loch Ness. Dan tentu saja untuk mencari tahu keberadaan Nessie si monster.

Sebenarnya tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyusun profil organik dari berbagai macam organisme dan mikroorganisme yang tersembunyi di Danau Loch Ness. Dalam melakukan penelitian ini, para ilmuwan menggunakan teknik yang relatif baru yang disebut sebagai pengambilan sampel DNA lingkungan atau eDNA. Fungsi teknik ini adalah untuk melacak keberadaan hewan-hewan tanpa membahayakan makhluk-makhluk tersebut.

Tahun lalu, eDNA berhasil digunakan para ilmuwan untuk mengidentifikasi enam spesies hiu di perairan Kepulauan Kaledonia Baru, Samudra Pasifik. Enam spesies hiu itu belum pernah terlihat sebelumnya di perairan tersebut.

Danau Loch Ness, Skotlandia

Menurut laporan The Scotsman, para ilmuwan yang menganalisis sampel air Danau Loch Ness itu telah menemukan 15 spesies ikan dan 3.000 spesies bakteri. Namun mereka belum mempublikasikan hasil temuan mereka secara resmi. Gemmell mengatakan dirinya berharap bisa mengumumkan temuan mereka secara penuh pada Juli 2019.

Sejauh ini, bukti keberadaan monster Loch Ness terbatas pada rekaman yang samar, foto-foto buram, dan kisah-kisah dari abad ke-16 yang terdengar sangat mustahil. Salah satu teori yang paling menonjol mengenai monster Loch Ness menyebutkan bahwa Nessie sebenarnya adalah sturgeon atau lele raksasa.

Teori lainnya mengklaim bahwa Nessie merupakan plesiosaurus, hewan berleher panjang yang dianggap telah punah 65 juta lalu. Kendati demikian, penelitian lain yang telah dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan bahwa ramainya isu penampakan Nessie pada tahun 1930-an merupakan delusi massal yang dipicu oleh penemuan fosil dinosaurus yang berasal dari periode Jurassic dan Cretaceous di Danau Loch Ness.

Untuk mengetahui satu teori mana yang mungkin benar berdasarkan hasil penelitian Gemmel dan timnya, jelas kita harus bersabar menunggu sampai bulan depan. Apakah hasil analisis DNA yang dilakukan Gemmel dan timnya bakal sangat mengejutkan, di luar prediksi, atau berbeda dengan anggapan banyak orang selama ini? Mari kita lihat nanti.

Clara Marissa