Ceriwis

Perubahan Drastis Iklim di Bumi akan Terjadi Tahun 2050

Ilustrasi perubahan iklim.

Ceriwis – Sekitar 30 tahun lagi Bumi akan mengalami transformasi drastis. Sebagian besar kota di seluruh dunia akan memiliki iklim berbeda dengan saat ini. Bahkan, perubahan ini bisa membuat seseorang merasa pindah dari kota yang ditempatinya saat ini, ke kota lain yang berjarak ratusan kilometer.

Hal tersebut diutarakan oleh para ilmuwan yang menegaskan bahwa pada tahun 2050 nanti lebih dari tiga perempat kota di dunia diprediksi bakal mengatur ulang sistem iklim mereka sebagai bagian dari proses metamorfosis yang cepat. Sisi memprihatinkannya, lebih dari 20 persen kota di dunia akan mengalami kondisi yang tidak ada presedennya atau tidak memiliki perbandingan, alias benar-benar tidak seperti kota mana pun di dunia saat ini.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali para ilmuwan memberi tahu bahwa perombakan cuaca yang tak terduga akan segera terjadi di Bumi. Misalnya, sebuah penelitian beberapa bulan lalu menunjukkan bahwa kota-kota di Amerika Utara akan seperti berpindah sekitar 800 kilometer ke selatan pada tahun 2080. Kota-kota di Amerika Utara akan lebih panas dan lebih lembab, seolah-olah menjadi bagian Amerika Selatan.

Ilustrasi Perubahan Iklim

Akan tetapi, penelitian terbaru memberikan penjelasan lebih efektif dengan mengambil pendekatan yang lebih mudah dimengerti. Para ilmuwan dari Crowther Lab di ETH Zurich, Swiss, menjadi yang pertama dalam memvisualisasikan tentang bagaimana perubahan iklim akan berpengaruh dalam skala global.

Mereka memprediksi kondisi di 520 kota besar di seluruh dunia yang akan berubah hanya dalam tiga dekade. Visualisasi ini menggunakan data berdasarkan Representative Common Pathway 4.5 (RCP 4.5) buatan UN Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang umum dianggap sebagai skenario kasus terbaik untuk simulasi puncak emisi CO2 pada abad sekarang.

“Ini adalah skenario stabilisasi yang merupakan stabilisasi kekuatan radiasi sebelum tahun 2100,” ungkap para peneliti dalam makalah laporan hasil riset mereka, sebagaimana dilansir Science Alert. Dengan menggunakan skenario perubahan iklim yang kemungkinan besar akan terealisasi itu, para peneliti bermaksud mengimbau para pengembang teknologi baru untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui strategi yang lebih baru.

Sebagai contohnya, Pada 2050, iklim di London, Inggris akan menjadi seperti Barcelona saat ini, Seattle akan menyerupai San Francisco, Stockholm akan terasa seperti Budapest, Paris akan menjadi seperti Canberra, dan Reykjavik di Islandia akan seperti Wellington di Selandia Baru.

Ilustrasi perubahan iklim.

Mayoritas perubahan tersebut menunjukkan bahwa kondisi kota-kota besar akan menjadi jauh lebih panas dan lebih lembab karena perubahan umum Bumi sedang menuju kondisi yang lebih subtropis. Misalnya, di seluruh Eropa, musim panas dan musim dingin akan menjadi lebih hangat, dengan peningkatan rata-rata antara 3,5 derajat Celsius dan 4,7 derajat Celsius, yang berarti bahwa perubahan tersebut akan setara dengan pergeseran kota sejauh 1.000 km ke wilayah subtropis di selatan.

Kendati menurut penelitian diungkapkan bahwa 77 persen dari 520 kota akan mengalami “perubahan mencolok dalam kondisi iklim” pada tahun 2050, sekitar 22 persennya justru sama sekali tidak dapat diperkirakan. “Ini adalah kondisi lingkungan yang tidak dialami oleh kota di mana pun saat ini. Itu berarti akan ada tantangan politik baru, tantangan infrastruktur baru, yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Kita sama sekali tidak siap untuk ini,” jelas ahli ekologi Tom Crowther selaku ketua peneliti riset ini, saat diwawancarai The Guardian.

Semua penjelasan yang diungkap oleh penelitian tersebut merupakan hal yang mengerikan dan hampir tidak terpikirkan. Namun, mau tidak mau kita harus memikirkan solusinya. Karena inti dari hasil penelitian tersebut adalah untuk menjembatani “kesenjangan konsensus dan keterputusan” antara pemahaman ilmiah dan paradigma publik tentang perubahan iklim.

“Sejarah telah berulang kali menunjukkan kepada kita bahwa data dan fakta saja tidak cukup untuk menginspirasi manusia guna mengubah keyakinan atau tindakan mereka,” tegas peneliti dari Crowther Lab di ETH Zurich. Inilah mengapa mereka lebih memilih menunjukkan visualisasi, menciptakan citra dari masalah iklim, karena hanya pendekatan ini yang paling efektif untuk memotivasi perubahan perilaku umat manusia di Bumi.

Melanie Putri

Tidak ada komentar