Ceriwis

Praktik Jual Beli Organ Tubuh Manusia Masih Berlanjut di China

Ilustrasi organ tubuh manusia.

Ceriwis – Kekhawatiran tentang asal-usul pasokan organ manusia sejak lama diperdebatkan di China. Selama beberapa dekade, temuan dan kesaksian mengerikan turut memperkeruh situasi ini, termasuk kabar banyaknya organ tubuh itu berasal dari para narapidana.

Terlepas dari pernyataan resmi pemerintah China bahwa mereka telah menghentikan praktik tersebut, Pengadilan China yang dipimpin oleh pengacara terkemuka, pakar hak asasi manusia, dan ahli bedah transplantasi, dengan suara bulat justru menetapkan bahwa pengambilan organ secara meluas dari tahanan dan pembangkang yang telah dieksekusi, sebetulnya tetap berlanjut hingga sekarang.

“Kesimpulannya menunjukkan bahwa sangat banyak orang yang mati tanpa akhir dan tanpa alasan, dan semakin banyak yang menderita dengan cara yang sama,” kata Sir Geoffrey Nice, saat memberikan penilaian pada hari Sabtu (22/6). “Tidak ada bukti praktik itu dihentikan.”

Setelah berbulan-bulan mempertimbangkan kesaksian dan banyak bukti dokumen, pengadilan mengatakan dengan jelas bahwa legalitas tentang transplantasi di China layak dipertanyakan.

Suasana Kota Shanghai China

Pernyataan tersebut didukung oleh sangat singkatnya waktu tunggu pasien yang membutuhkan organ transplantasi. Kadang-kadang, pasien hanya perlu menunggu beberapa minggu saja untuk melakukan prosedur transplantasi yang umum dilakukan. Ini menegaskan bahwa China sangat kaya akan organ tubuh manusia yang kompatibel untuk pasien.

Pertanyaannya, dari mana datangnya bagian tubuh yang berlimpah?

Menurut sebuah studi, sebagaimana dilansir Science Alert, dipaparkan bahwa dalam rentang 10 hari pada 2016, tercatat 640 organ telah ditransplantasikan di China. Padahal, saat itu hanya 30 donor yang terdaftar secara resmi.

Kekhawatiran atas angka-angka tersebut telah membuat para peneliti lain menyimpulkan bahwa ratusan makalah ilmiah yang mendukung transplantasi di China, mungkin sebenarnya telah dikompromikan dengan ketergantungan China pada ribuan organ manusia yang bersumber tidak etis.

Skala sebenarnya dari kengerian kasus ini mungkin tidak akan pernah diketahui, tetapi pengadilan memperkirakan sebanyak 90.000 transplantasi organ telah terjadi di sana setiap tahunnya, dalam industri yang bernilai USD 1 miliar per tahun atau setara dengan Rp 14 Triliun.

Ilustrasi organ tubuh manusia.

Salah satu kesaksian mengerikan pernah diutarakan oleh Enver Tohti, seorang mantan ahli bedah di China yang memberikan bukti di persidangan. Dia menjelaskan bagaimana dirinya diperintahkan untuk “memotong hati dan bekerja cepat,” saat bekerja di sebuah tempat eksekusi di bagian barat laut China.

“Saya mulai memotong bagian tengah dan kemudian dia mulai berjuang, dan saya tahu bahwa dia (sebetulnya) masih hidup, tetapi dia terlalu lemah untuk melawan saya,” tutur Tohti, saat mengambil hati dan ginjal dari korban eksekusi yang sebelumnya telah ditembak di kepala dan dibuang di pinggir jalan.

Pengadilan independen yang dibentuk untuk menyelidiki kasus-kasus transplantasi ilegal pun mengklaim bahwa pengambilan organ secara paksa terus ditentang oleh para pejuang hak asasi manusia. Ini kemudian dikaitkan dengan genosida sebagai sumber utama persediaan organ tubuh.

Sebagai contoh terparahnya, organ tubuh dalam sistem rumah sakit secara ilegal bersumber dari anggota kelompok spiritual yang dianiaya, Falun Gong. Mungkin juga dari etnis minoritas yang disebut Uyghur.

Clara Marissa