ML Setelah Bertengkar Ternyata Sangat Baik

Apa lagi yang sedang kita ributkan?

Jika Anda pernah mempunyai pacar, Anda sudah diperkenalkan dengan alam pilihan yang berada di area cinta. Itu adalah suatu tempat dimana memiliki teori yang berlawanan, aturan yang mundur dan kekecewaan dari segala sesuatu yang Anda pernah tahu.

Kegiatan duniawi diberikan arti baru, dan situasi yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan.

Berbelanja adalah suatu awal, tidur lebih awal tidak pernah berarti tidur dan pertengkaran hanya permulaan untuk melakukan seks. Itu benar, pertengkaran tidak lagi diam-diam … tapi begitu, begitu panas.

Sungguh ironis, karena dalam “kehidupan nyata,” kita mencoba untuk menghindari pertengkaran sebisa mungkin. Kita mencoba untuk menghindari kecemasan, stres dan ketidaknyamanan.

Tapi ketika tiba masanya suatu pertengkaran yang mempertahankan prinsip dan ego kita, aturan dan pertengkarannya itu sama sekali berbeda.

Pertengkaran yang berakhir dengan menjadikan kita lebih dekat dari sebelumnya, daripada tidur di kamar terpisah. Dipandang dari sudut pandang seksual, tindakan ini yang hanya memiliki satu jenis cara untuk mendamaikannya: make-up sex alias “seks setelah bertengkar”

Suatu kebohongan jika kita mengatakan bahwa sebagian besar dari kita belum pernah bertengkar hanya untuk mendapatkan cara berdamai tersebut.

Dan tidak ada rasa malu karena, menurut Seth Meyers di Psychology Today, make-up sex memiliki efek yang sama pada otak seperti satu garis kokain.

Seperti kokain, akan membuat Anda melayang-layang. Sebuah kenikmatan sesaat, ia membawamu dari mulai perdebatan kecil sampai kepada perdebatan yang meledak-ledak yang hanya didapat dari orgasme. Mirip seperti pecandu narkoba, pasangan merindukan sesuatu yang tinggi yang berasal dari sesuatu yang meledak-ledak.

Dimulai dari saling membenci satu sama lain hingga perasaan benci itu jadi melekat di hati dan melilit satu sama lain. Berpikirlah yang realistis, seks itu akan terasa begitu indah ketika ada gesekan ekstra dari suatu perdebatan.

Tentu saja, make-up sex yang berulang kali bisa menjadi masalah. Malahan, suatu pasangan yang melakukan make-up sex tidak selalu dapat menyelesaikan masalah. Tapi siapa yang peduli?

Jika kita belajar, yaitu seks dapat menyebabkan beberapa masalah, tapi itu juga benar-benar bagus sebagai pengingat kita bahwa tidak ada yang layak untuk diperdebatkan lagi. Dan seperti seorang pecandu, kadang-kadang kita hanya ingin memperbaiki keadaan, meskipun jika itu berarti harus bertengkar tanpa alasan yang jelas.

Jadi apabila Anda belum menyadari apakah Anda itu seorang pecandu ataupun bukan, berikut ini adalah cerita-cerita yang mengindikasikan bahwa Anda mungkin saja memilih untuk bertengkar hanya karena demi seks.

Seks setelah bertengkar selalu berlangsung lebih lama dari pertengkaran

Huffingtonpost

Anda tahu Anda bertengkar hanya untuk seks ketika orgasme Anda berlangsung lebih lama dari perdebatannya. Karena ini bukan tentang pertengkaran, sama sekali bukan. Ini tentang mendapatkan sex.

Pertengkaran adalah foreplay-nya, panasnya, ketegangan seksualnya. Anda tidak bertengkar untuk menyelesaikan masalah, Anda bertengkar untuk mengacaukan sesuatu.

Anda menginginkan perhatian, bukan perdamaian

Anda tidak peduli dengan apa yang sedang Anda ributkan, tapi Anda benar-benar bagus berakting. Jeritan-jeritan Anda bukanlah suatu kemarahan, melainkan frustrasi seksual. Anda tidak mencoba untuk mendapatkan permintaan maaf, tapi perjalanan ke kamar tidur.

Anda lebih terobsesi dengan perhatian yang datang dari pakaian yang terlucuti daripada mendapatkan pendapat Anda, dan Anda tidak peduli jika itu berarti mengakui perdebatan atau meminta maaf terlebih dahulu.

Anda akan meminta maaf dahulu hanya untuk berada di atas

Unboundedspirit.com

Anda memahami bahwa mengatakan “Maafkan aku” bukan suatu kelemahan, tapi pemahaman bahwa ada hal yang lebih penting dalam hidup … seperti seks.

Anda tidak peduli jika Anda harus menjadi orang yang pertama mengalah karena Anda lebih suka menghabiskan waktu diantara berkas-berkas daripada berdiam diri.

Anda memahami bahwa setiap pasangan perlu untuk meninggalkan egonya masing-masing di pintu kamar jika ingin memiliki alasan untuk menutupnya.

Anda tidak peduli tentang kata-kata, karena itu hanya keluar dari mulut.

Ini bukan tentang apa yang mereka katakan, tetapi apa yang tidak mereka katakan. Anda tidak mencari sisi kelemahan mereka atau permintaan maaf dari mereka, Anda hanya ingin melihat pertengkaran mereka di kamar tidur.

Meskipun Anda mungkin mendengarkan apa yang mereka katakan, Anda secara tidak sadar menunggu mereka untuk berhenti berbicara dan mulai membuka baju mereka.

Hanya ada satu cara Anda ingin mereka katakan “Maafkan aku.”

Anda tidak perlu meminta maaf dan Anda tidak memerlukan setangkai bunga untuk itu. Anda percaya bahwa bertindak itu lebih nyata dan lebih terasa di hati daripada dengan kata-kata, dan Anda akan bersantai diatas berlian atau tiket konser pada hari apapun yang anda inginkan. Ini bukan tentang memperbaiki sesuatu, tapi tentang sex.

 

Origimal : elitedaily.com

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *