Ceriwis

Sepatu Khusus Tunanetra Buatan Siswa SMP di Surabaya

Siswa SMP Negeri 4 Surabaya menciptakan ‘Sepatu for Blind People.

Ceriwis – Bertekad ingin membantu tunanetra agar lebih mandiri dan aman saat berpergian, tiga siswa SMP Negeri 4 Surabaya yakni M. Jawad Ali Akbar, Aldino Novfitriah, dan Andani Abillery menciptakan sepatu khusus tunanetra yang dinamai ‘Sepatu for Blind People’. Sepatu ini bahkan telah meraih medali perunggu di ajang Internasional Science and Invention Fair (ISIF) 2019 yang diadakan di Bali pada 21-25 Juni 2019.

Menurut Ali, inspirasi membuat ‘Sepatu for Blind People’ ini setelah melihat tetangganya yang buta karena suatu penyakit.

”Dari situ, kami berinisiatif membuat sebuah inovasi agar orang tersebut dapat berjalan ke masjid atau di tempat yang di tuju,” kata Ali pada Ceriwis, Sabtu (6/7).

Sepatu for Blind People.

Sepatu rancangan Ali dan teman-teman ini telah dilengkapi teknologi ardiuno nano untuk microcontroler dan sensor ultrasonik untuk mendeteksi jarak. Sepatu ini akan membantu tunanetra untuk mendeteksi benda yang ada di depannya ketika sedang berjalan.

“Jadi dari teknologi ini kami juga tambahkan alarm yang akan berbunyi sebagai tanda bila ada benda di hadapannya. Paling dekat alarm bisa berbunyi sekitar jarak 1 meter dan paling jauh 4 meter. Bunyinya juga dibedakan agar mudah dikenali antara jarak 1 meter dan 4 meter,” jelas Ali.

Untuk proses pembuatan dan uji coba sensor sepatu membutuhkan waktu dua bulan. Hal itu dikarenakan adanya kendala pada proses coding dan dan pemilihan sepatu yang cocok untuk dipasang rangkaian sensor saat pembuatan ‘Sepatu for Blind People’.

Microcontroller yang dibenamkan di Sepatu for Blind People.

“Susahnya di bagian coding sama memilih sol sepatu yang kuat bahannya untuk dipasang alat ini. Karena sensor akan dipasang di dalam sol sepatu jadi nyaman saat dipakai,” tambahnya.

Dalam proses pembuatan inovasi ini, Ali dan kawan-kawan didampingi dosen Universitas Widya Kartika (UWIKA) Surabaya, Agus Prayitno. Agus mengatakan, inovasi sepatu tersebut akan dikembangkan lagi agar lebih nyaman bila digunakan di ruangan tertutup dan pada lantai yang licin.

“Nantinya di ruang tertutup sensor akan diubah menjadi sensor getar. Jadi kalau ada benda di depannya kakinya akan bergetar. Karena kalau pakai alarm terlalu berisik jika digunakan di ruang tertutup,” ujar dosen Teknik Informatika UWIKA ini.

Bella Priscilla

Tidak ada komentar