Ceriwis

Sering Tampil Cemerlang, Ternyata Turnamen Ini yang Jadi Image Baik Pebulutangkis Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia khususnya pencinta bulutangkis, pastinya bukan suatu yang asing jika melihat kegemilangan prestasi Kevin Sanjaya dan kawan-kawan. Seperti halnya air di padang pasir, mereka kerap menyegarkan kekeringan prestasi para atlet tanah air. Berkatnya juga kini Indonesia Raya bukanlah lagu yang asing di telinga para atlet manca di olahraga ini.

Tapi, “bagaikan gading yang bisa retak”, rupanya kehebatan yang sering ditunjukkan pebulutangkis Indonesia tetap mempunyai kelemahan. Usut punya usut, atlet tepuk shuttlecock tanah air kerap gagal di kejuaraan beregu. Bahkan dibanding dengan turnamen lain, ajang tersebut kerap membuat pebulutangkis Indonesia pulang dengan tangan hampa. Lalu seperti apakah sebenarnya dan kenapa menjadi kerap jadi momok? Simak ulasannya berikut ini.

Capaian kejuaraan berugu tak semoncer nomor tunggal

Kevin dan Marcus [Sumber Gambar]

Seperti telah diungkap tadi, nomor beregu memang menjadi momok bagi pebulutangkis Indonesia. Bahkan bila dilihat capaiannya, atlet bulutangkis Indonesia jauh lebih moncer bila dihadapkan dengan kejuaraan perorangan. Salah satu bukti nyata akan hal ini adalah, ketika beberapa waktu di Asian Games 2018, kontingen Indonesia baik putra dan putri gagal meraih emas.

Sedangkan, ketika berlaga di kelas individual ajang sama beberapa pebulutangkis Indonesia sukses raih emas. Meski tidak bisa menjadi patokan, namun bila melihat kiprahnya di Asian Games lalu, final di ajang ini tahun 2018 menjadi pertama setelah 16 tahun. Usut punya usut, capaian terakhir nomor beregu Indonesia di ajang multi event itu adalah perempat final pada tahun 2014. Kala itu kalah dari China Taipei.

Aksi pemain bulutangkis Indonesia [Sumber Gambar]

Hasil minor lain yang ditorehkan oleh pebulutangkis tanah air adalah di kejuaraan Surdiman Cup 2017. Ketika itu Kevin, Marcus dan kawan-kawan hanya menduduki peringkat ke sembilan. Posisi yang juga membuat Indonesia kalah atas Malaysia dan Thailand yang menduduki peringkat 7 dan 4. Melansir laman Pikiran Rakyat, capaian itu menjadi yang terendah semenjak tahun 1989.

Penyebab sulitnya menembus kelas beregu

Minions menang [Sumber Gambar]

Melihat hasil minor itu, tentu menjadi kisah nestapa diantara sederet prestasi emas yang pernah dicatatkan oleh pebulutangkis Indonesia. Kondisi tersebut bukanlah tanpa sebab, ada sejumlah faktor yang menjadi pemicunya. Seperti salah satunya adalah psikologis, bukan rahasia lagi bermain di nomor beregu dibutuhkan mental yang kuat. Hal ini lantaran setiap individu yang berlaga hasilnya mempengaruhi tim.

Sedangkan, menurut Ketua Harian PB Jaya Raya Jakarta Imelda Wiguna yang dikutip laman Viva.com, “Kejuaraan beregu juga sulit diprediksi, meski sudah membayangkan head to head dari nama-nama. Tapi tetap ada faktor non teknis contohnya kekompakan tim,” tegas juara ganda putri dan campuran All England 1979 itu. Sebagai kesatuan tim, tentu hal semacam amatlah diperlukan agar semua bisa menjalankan peran masing-masing dengan baik.

Jojo [Sumber Gambar]

Hal lain juga bisa menjadi penyebab kenapa sebuah tim bulutangkis gagal di nomor beregu adalah tidak meratanya skuad yang berlaga. Seperti yang telah diungkap tadi, bawasanya setiap hasil sangatlah berpengaruh untuk tim. Maka dari itu hadirnya susunan skuad yang merata, bisa dipastikan menjadi hal wajib untuk dilakukan kalau bercita-cita ingin menjadi juara. Kalau menurut kalian apa sobat Ceriwis.

Terlepas dari apa yang telah dijelaskan tadi, memang harus diakui kalau berprestasi di nomor beregu merupakan hal yang sulit. Meski berat, namun bukan alasan untuk menyerah sekarang. Pasalnya, melihat potensi pebulutangkis Indonesia hanya memerlukan sedikit polesan untuk bisa menjadi juara di nomor beregu.

 

Newsmaker