|
Post Reply |
Tweet | Thread Tools |
#1
|
||||
|
||||
![]()
Selamat malam kambing-kambing sekalian, baik yang besok dikurbankan maupun keluarga yang ditinggalkan. Sebagai bandot yang dituakan izinkan saya berikan sepatah dua patah tulisan untuk menyambut hari paling memilukan dalam dunia kambing�simpati yang dalam untuk saudara sapi, unta, dan kerbau. Kita semua tahu takdir kambing; selain jadi gulai, tongseng, dan sate kadang-kadang kita dijadikan kambing hitam sekalipun kulit kita putih atau belang. Dengan kejam mereka menjadikan anak-anak kita gulai kambing muda, atau sekadar daging kambing goreng� sekali-kali mereka menyebut kita kambing congek. Tak apa� kita adalah kambing-kambing yang sabar dan berperiperkambingan. Saya hendak menyampaikan suatu penghargaan yang amat sangat kepada kalian yang besok menghadap tukang jagal: hadapilah pisau mereka dengan ketabahan. Ingat, salah satu filosof kambing terkenal, Syech Ottawa Gimbalun, pernah mengatakan: �Manusia itu cemen, beraninya mengorbankan kambing. Kalau disuruh berkorban diri, mereka berkeluh kesah seperti ibu-ibu mau melahirkan.� Maaf ibu-ibu kambing sekalian, bukan maksud meremehkan kalian. Syech Ottawa yang telah menjadi salah satu kurban beberapa abad silam dalam salah satu bukunya yang terkenal �Bab-bab Kenapa Kambing,� menyebutkan bahwa manusia itu sukanya mengkambing-hitamkan sesamanya sedangkan kita tidak. Kita juga tak pernah mengadu domba, tapi mereka menyalahgunakan nama-nama kita. Dan menurut suatu penelitian mutakhir jumlah kambing seperti tak pernah berkurang sekalipun tiap tahun terjadi genosida besar-besaran. Maka, berbanggalah kalian sebagai kambing, tak perlu berkecil hati di hadapan manusia. Kalian tahu apa yang dikatakan tuhan mereka? Kurbankanlah yang terbaik! Artinya, kita sebagai kambinglah mahluk terbaik� Heh� izinkan saya menitikkan air mata sejenak. Mbeeeek �. Terkait:
|
Sponsored Links | |
Space available |
Post Reply |
|