|
Go to Page... |
Post Reply |
Tweet | Thread Tools |
#1
|
|||
|
|||
![]()
Sebelum kita mengetahui perbedaan mendasar antara bank syariah dan bank konvensional alangkah lebih baik kita memahami terlebih dahulu apa yang menjadi fungsi atau kegiatan utama yang dilakukan perbankan. Bank adalah lembaga keuangan yang menjalankan fungsi atau kegiatan utamanya berupa menghimpun dana dari unit surplus atau masyarakat yang memiliki kelebihan dana dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito kemudian menyalurkan kembali kepada unit defisit atau masyarakat yang kekurangan dana dalam bentuk kredit (untuk istilah bank konvensional) atau pembiayaan (untuk istilah bank syariah). Dalam artikel ini akan khusus menjelaskan tentang perbedaan bank konvensional dan bank syariah dalam hal 2 kegiatan pokok bank tersebut (menghimpun dan menyalurkan dana).
1. Menghimpun dana 1.1 Bank konvensional: Dalam menghimpun dana dari masyarakat, perbankan umumnya menggunakan tiga produk utama mereka yaitu tabungan, deposito, dan giro. Bank selaku pihak pengelola dana menjanjikan suku bunga kepada pihak nasabah yang menyimpan dananya di bank tersebut dengan jumlah prosentase tertentu. 1.2 Bank syariah: Produk penghimpunan dana berupa tabungan dan giro dalam perbankan syariah umumnya menggunakan akad wadiah yad dhamanah (titipan), yang mana pihak bank sewaktu-waktu (sesuai dengan keinginan bank) dapat memberikan bonus (bukan bunga) kepada pihak nasabah/penabung. Tetapi sekarang juga sudah mulai banyak produk tabungan ataupun giro dengan menggunakan akad mudharabah. Sedangkan dalam produk yang bersifat investasi (deposito) dengan akad mudharabah bank syariah menjanjikan keuntungan kepada pihak nasabah berupa nisbah bagi hasil (contoh 50:50). Berapa jumlah keuntungan yang diterima nasabah belum dapat diketahui diawal karena tergantung hasil yang diterima oleh bank syariah. Contoh perhitungan bagi hasil mudharabah adalah sebagai berikut: Nasabah A memiliki tabungan mudharabah sebesar Rp. 500 ribu, nisbah antara bank dan nasabah adalah 50:50. Saldo rata-rata dana tabungan mudharabah di bank syariah X diasumsikan Rp. 100 M dan keuntungan yang dialokasikan untuk tabungan (profit sidtribution) senilai Rp. 3 juta. Berapa bagi hasil yang diperoleh nasabah A? Rp 500ribu X Rp. 3juta X 50% = Rp. 7500 (sebelum pajak) Rp 100 M 2. menyalurkan dana 2.1 Bank Konvensional Bank konvensional menyalurkan dana kepada masyarakat yang defisit dana dalam bentuk kredit. Tujuan nasabah dalam mendapatkan kredit dari bank konvensional pun bermacam-macam, seperti untuk: modal kerja, konsumsi, dan lain sebagainya. Apakah barang yang diinginkaan nasabah berupa barang haram atau jenis usahanya berupa usaha-usaha yang dilarang dalam islam (misal usaha minuman keras) tidak menjadi perhatian dalam perbankan konvensional. Karena akad dalam perbankan konvensional adalah dalam bentuk kredit/pinjaman maka keuntungan yang didapat oleh bank konvensional jatuhnya adalah bunga/riba. Karena jelas dalam islam, haram hukumnya mengambil keuntungan dari qardh/pinjaman/hutang. Keuntungan yang didapat oleh bank konvensional juga sudah dapat diketahui diawal, sebagai contoh: misalkan saya meminjam uang 20 juta untuk saya pergunakan sebagai modal usaha saya. Bank menetapkan bunga sebesar 12 %, maka dalam hal ini saya berkewajiban mengembalikan pokok hutang 20juta + bunga 12% (2,4juta). Tanpa melihat berapa keuntungan yang nantinya saya peroleh dalam usaha tersebut. 2.2 Bank Syariah Dalam menyalurkan dana kepada masyarakat (pembiayaan), bank syariah menggunakan berbagai macam akad seperti: akad murabahah, mudharabah, ijarah, dll. Kalau dalam prinsip jual beli, bank syariah menggunakan akad murabahah dengan keuntungan bank berupa margin (bukan bunga). Barang yang diperjual belikan juga harus berupa barang halal. Dalam islam jelas bahwa mengambil keuntungan dari kegiatan jual beli hukumnya diperbolehkan. Sedangkan pembiayaan yang diterima nasabah dengan tujuan tujuan usaha atau bisnis akad yang biasanya digunakan adalah akad mudharabah dengan keuntungan yang didapat oleh bank syariah berupa nisbah bagi hasil (misal 50:50). Berapa jumlah keuntungan yang didapat bank sebagai shahibul maal (pemilik dana) tidak dapat diketahui diawal karena bergantung pada revenue/pendapatan yang didapat dari hasil usaha si nasabah tersebut. Dan jenis usaha yang dilakukan nasabah harus berupa usaha-usaha yang tidak dilarang dalam prinsip islam. Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. (al-Maaidah: 1) Catatan penting: • Dalam kegiatan menghimpun dana (funding), bank sebagai mudharib (pihak yang mengelola dana) dan nasabah surplus sebagai shahibul maal (pihak pemilik dana). Tetapi dalam kegiatan lending/menyalurkan dana (pembiayaan) bank sebagai shahibul maal dan nasabah defisit sebagai pihak mudharib. • Penjelasan diatas tentang perbedaan bank syariah dan bank konvensional adalah berupa pengetahuan yang bersifat teoritis yang saya dapatkan di perkuliahan sedangkan bagaimana praktek dilapangan, apakah bank syariah sudah menjalankan kegiatannya sesuai prinsip-prinsip syariah? Wallahu’alam. • Terlepas dari hal itu, sebagai umat islam kita tidak boleh anti terhadap bank syariah karena memang bank syariah masih tergolong baru di Indonesia sehingga masih kekurangan SDM-SDM yang paham syariah sehingga wajar jika dalam prakteknya masih banyak kekurangan-kekurangannya. ![]() sumber : mujahid ekonomi islam sekalian promosiin blog diatas gan. banyak artikel2 menarik tentang islam yg sayang kalo tidak dibaca.. hehe ex: orang asing yang beruntung, turun salju dijazirah arab, panji hitam, dll kalo berkenan kunjungi aja, kalo gak jg gpp kok ahahahaha ![]() Last edited by gam1927; 23rd April 2015 at 06:55 AM. |
Sponsored Links | |
Space available |
Post Reply |
|