Ceriwis

Tahukah Kamu? Generasi Paling Kesepian adalah Milenial Loh!

Ilustrasi: Sekelompok remaja sedang berkumpul.
Ceriwis – Kaum milenial merupakan generasi paling kesepian, menurut survei YouGov, sebuah perusahaan riset pasar dan analisis data asal Inggris. Dalam survei tersebut, terungkap bahwa remaja yang beranjak dewasa di abad 21 lebih kesepian dibandingkan generasi X dan Baby Boomers.
Dari hasil survei pula diketahui bahwa ada sekitar 30 persen kaum milenial yang selalu merasa kesepian. Satu dari lima milenial yang mengikuti survei mengakui mereka tidak memiliki teman. Sebanyak 27 persen menuturkan mereka tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Selanjutnya, ada 30 persen yang tidak memiliki teman baik, seperti dilaporkan Medical Daily.
Jika dibandingkan dengan generasi lain, persentase dalam survei tersebut semakin mempertegas bahwa generasi milenial merupakan generasi yang paling kesepian. Dalam kasus ini, kemunculan media sosial pun disebut-sebut sebagai sebuah fenomena yang bertanggung jawab atas kondisi mental kaum milenial.
Para peneliti dari University of Pennsylvania, pernah melakukan sebuah riset pada 2018 lalu. Temuannya menunjukkan kaitan antara waktu yang dihabiskan di media sosial dengan rendahnya tingkat kebahagiaan di antara orang-orang yang berusia 23 hingga 38 tahun.
Menurut Melissa Hunt, periset utama dalam studi tersebut, penggunaan media sosial bisa memicu depresi hingga perasaan kesepian.
Peneliti dari Universitas Chicago, John Ccioppo, telah menyelidiki masalah kesepian ini selama lebih dari 20 tahun. Ia menuturkan bahwa kesepian erat kaitannya dengan kondisi di mana seseorang merasa terasingkan dari kehidupan sosialnya. Kesepian terkait pula dengan tidak terpenuhinya harapan seseorang saat berinteraksi sosial.
Ilustrasi generasi milenial.
Mereka yang merasa terasingkan, kerap terganggu dengan pikiran-pikiran atau perasaan yang dipicu oleh penggunaan media sosial, demikian yang ditulis Lisa Firestone, psikolog klinis sekaligus Direktur Penelitian dan Pendidikan di Asosiasi Glendon dalam Psychology Today. Firestone juga menggarisbawahi kemunculan teknologi telah menciptakan sebuah lingkungan tempat berkembang biaknya pemikiran yang merusak.
Sementara untuk seseorang dengan kepribadian yang berorientasi pada tujuan, menurut Firestone, mereka juga memiliki sifat antisosial. Ada lagi kemungkinan lain yang membuat seseorang menjadi antisosial, yakni pengalaman pahit di masa lalu. Pengalaman buruk di masa lampau itu selalu muncul dalam bentuk critical inner voice.
Ayah Firestone, Robert Firestone, menyebutkan bahwa pengalaman pahit di masa lalu membuat beberapa orang cenderung menarik diri dari hubungan sosialnya. Itulah yang kemudian menyebabkan mereka tidak bahagia.
Seharusnya, suara-suara yang memunculkan ingatan atau pengalaman buruk tidak dibiarkan dan sebaliknya harus dilawan. Jika itu dilakukan, sangat mungkin persoalan seperti kesepian bisa diatasi.
Firestone juga memberikan imbauan agar orang mau belajar tentang bagaimana mereka bisa mengidentifikasi pertahanan diri dan mengambil langkah-langkah jitu demi menaklukkan musuh yang ada di pikiran mereka sendiri.

Melanie Putri