Ceriwis

Teknologi Tidak Bisa Ditukar Dengan Pasar

Bongkar Muat Peti Kemas.

Ceriwis – Pasar tidak bisa memperoleh teknologi. Hanya daya manufakturlah yang bisa ditukar dengan teknologi.

Sejak reformasi pembukaan China terhadap dunia luar hingga saat ini, telah ada slogan “Pasar ditukar dengan teknologi” selama lebih dari 30 tahun. Maksudnya, China menggunakan 1,4 miliar pasar domestik terbesar sebagai daya tawar-menawar untuk memperoleh teknologi asing yang canggih. Dan kemudian belajar, menciptakan, dan menggunakan produk mereka sendiri.

Banyak pakar ekonomi dan teknologi China menganggap konsep atau slogan di atas tidaklah benar. Buktinya sekarang, teknologi China masih kurang maju dibandingkan AS. Pasar tidak dapat ditukar dengan teknologi. Pasar hanya bisa mendatangkan manufaktur. Dan hanya daya manufakturlah yang bisa ditukar dengan teknologi.

Sebagai imbalan, pasar dapat ditukar dengan manufaktur bilamana memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, harus ada dukungan dari pemerintah alias hambatan non-perdagangan. Lebih dari 30 tahun yang lalu, pemerintah China berharap 500 perusahaan top dunia datang berinvestasi. Dan mendirikan pabrik di China.

Perusaahaan top dunia ini memiliki segala dana dan teknologi untuk membangun pabrik sendiri. Jadi pemerintah China mewajibkan semua perusahaan ini harus membuat usaha patungan atau JV dengan perusahaan lokal. Dan tidak boleh sepenuhnya dimiliki sendiri. Bila tidak diharuskan, mereka tidak akan manufaktur di China. Mungkin cuma merakit.

Dengan adanya peraturan wajib dari pemerintah, mereka harus memproduksi di China. Sehingga baru boleh menjual produknya di China juga. Inilah yang disebut dengan hambatan non-perdagangan. Walaupun, Ini tidak sesuai dengan prinsip ‘pembukaan’ Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Oleh karena itu, China dianggap membawa reputasi buruk sebagai penghalang non-perdagangan di arena internasional. Tetapi perusahaan top dunia ini tidak berdaya, karena saking besarnya pasaran China.

Alasan kedua, 500 perusahaan top dunia ingin memonopoli. Sehingga, mereka tidak akan membawa teknologi paling maju. Sehingga dalam hal ini yang bisa ditukar hanyalah daya manufaktur.

Sebagai contoh Foxconn, pembuat komponen elektronik terbesar di dunia yang berbasis di Taiwan. Selama bertahun-tahun, telah membantu Apple untuk membuat iPhone. Dan berhasil membangun rantai industri manufaktur ponsel.

Kerja sama dengan Apple telah meningkatkan kemampuan OEM Foxconn yang luar biasa hebatnya. Sehingga Samsung dan Xiaomi juga meminta Foxconn untuk sekalian OEM produk mereka.

Justru karena Foxconn telah memenangkan kualifikasi teknologi termutakhir, sehingga kapasitas produksinya dapat ditingkatkan. Peningkatan industri manufaktur mempunyai makna ingin membuat produk yang lebih hebat, jadi harus meningkatkan kemampuan manufaktur. Termasuk membentuk serangkaian paket produksi.

Dengan kata lain, jika kita tidak memiliki pengalaman atau produk canggih yang dapat diproduksi, kita tidak dapat meningkatkan daya produksi kita. Peningkatan dalam kapasitas produksi tergantung pada apa yang diproduksi. Bukannya pada bagaimana memproduksinya.

Sebaliknya, hanya daya manufaktur yang dapat ditukar dengan teknologi. Bilamana memenuhi persyaratan, pertama, teknologi canggih sekarang berada di tangan perusahaan-perusahaan kecil, bukannya perusahaan 500 top dunia. Perusahaan kecil sangat lemah dalam hal produksi bila dibandingkan dengan perusahaan 500 Besar.

Ambil saja contoh di AS. Di mana semua pabrik manufaktur kini telah dipindahkan keluar. Makanya, mereka membutuhkan ekonomi yang produktif untuk menyamai produksi mereka. Dan secara wajar perusahaan-perusahaan AS memilih China. Karena perusahaan-perusahaan ini menciptakan produk teknologi tinggi yang kompleks.

Kedua, mereka perlu cepat merebut pasar global, sehingga membutuhkan kemampuan manufaktur skala besar. Dan ketiga, mereka perlu produsen tipe terbuka untuk bekerja sama dengan mereka.

Banyak perusahaan asing berskala besar dengan kapasitas produksi yang kompleks, seperti Siemens, Toshiba, dan Hitachi. Tetapi sayangnya, mereka tidak terbuka. Sehingga, tidak dapat terhubung dan bekerja sama dengan perusahaan inovasi dari luar.

Hanya China yang dapat melakukannya. Karena dari awal China telah mulai melakukan pekerjaan OEM untuk negara lain. Jadi mereka sangat mengerti cara terkoneksi untuk bekerja sama. Sehingga, perusahaan kecil dengan teknologi canggih dari AS atau Israel akan mendatangi China.

Di masa lalu, segala kerja sama dengan perusahaan 500 top dunia selalu dipimpin pemerintah. Sekarang cara ini tidak bisa berfungsi lagi karena telah ada puluhan ribu perusahaan teknologi maju yang mendatangi China. Sehingga tidak mungkin dipimpin satu per satu oleh pihak pemerintah.

Oleh karena itu, investasi perlu berjalan di depan. Dan dipimpin perusahaan. Perusahaan investasi bekerja sama dengan pengusaha China. Dan mereka yang bertugas menggarap perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi bersama. Kemudian diikuti dengan beberapa kebijakan pemerintah.

Just like grandma says, “Pasar tidak dapat ditukar dengan teknologi”. Tetapi dapat ditukar dengan manufaktur. Dan daya manufaktur sendiri dapat memperoleh teknologi.

Kuncinya terletak pada bagaimana cara membangun rasa saling percaya. Atau apakah pandangan bisa sejalan mengikuti aturan permainan dunia. Bila ya, mereka tidak keberatan membiarkan Anda mengambil keuntungan sebagai pemegang saham terbesar perusahaan. Ataupun tidak keberatan memberikan teknologinya.

Dalam tiga dekade terakhir, China kurang berhasil memperoleh teknologi sebagai imbalan pergantian dari pasarnya. Sehingga dengan akumulasi daya produksi, mereka harus berinovasi sendiri. Atau China harus mempertimbangkan tiga dekade selanjutnya menggunakan daya manufaktur mereka untuk ditukar dengan teknologi tinggi. Demikian pula halnya, Indonesia.

Andika Gumilang