Ceriwis

Untuk Menangani Masalah Karhutla, 23.279 Petugas Gabungan Telah Dikerahkan

Satgas Karhutla Riau berupaya melakukan pemadaman di tengah pekatnya asap kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Rabu (18/9/2019).
Ceriwis – Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sejak awal tahun 2019 hingga akhir Agustus, tercatat ada 86.563 hektare lahan yang terbakar di seluruh Indonesia. Namun bila berdasarkan data dari Badan dan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total luas hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2019 mencapai 328.724 hektare. Yang jelas, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) paling besar tercatat terjadi di Sumatera dan Kalimantan.
Meski jumlah titik panas (hotspot) di daerah rawan karhutla kini telah berkurang karena rekayasa hujan, pemerintah masih terus mengupayakan pemadaman di beberapa titik api yang masih ada di daerah-daerah tersebut.
Kasubdit Kemitraan dan Masyarakat Peduli Api Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Purwantio, mengklaim telah mengerahkan sedikitnya 23.279 personel gabungan dari berbagai organisasi dan pemerintahan.
“Seluruh elemen telah kita himpun dan satukan untuk memadamkan karhutla dan berhasil menurunkan hotspot (titik panas) pemicu karhutla,” ujar Purwantio dalam konferensi pers di Ruang Serba Guna Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu (2/10).
Update Kebencanaan dan Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) di Graha Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain itu, KLHK juga telah membentuk tim dengan nama Manggala Agni yang terdiri dari beberapa instansi, guna memantau pemadaman kebakaran lahan di Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Mereka juga bekerja sama dengan satuan tugas yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, pemegang izin usaha, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan pemerintah daerah untuk terus melakukan pemadaman.
“Patroli rutin juga dilakukan di wilayah kerja Manggala Agni yang tidak terjadi kebakaran,” ujar Purwantio. “Jika kebakaran sudah semakin meluas, maka pemadaman akan dilakukan oleh BNPB, TNI dan Polri, dengan cara pengeboman air dengan menggunakan Helikopter.”
Pesawat dan helikopter yang disiagakan untuk operasi pemadaman udara.
Selain itu, pada periode Maret hingga September 2019, mereka sudah mendirikan posko kebencanaan. Dengan rincian 32 posko di Riau, 25 posko di Sulawesi Selatan, Jambi 16 posko, dan Kalimantan Barat 21 Posko.
Adapun titik api selama pada periode Januari hingga Oktober 2019, tercatat sebanyak 7.354 titik api. “Luas karhutla yang didata sampai September 2019, trennya menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015. Tapi jika dibandingkan dengan tahun 2018 memang meningkat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, untuk menanggulangi musim kemarau yang masih panjang, pihaknya sudah menyiapkan tim Manggala Agni di Sumatera sebanyak 915 orang, dan di Kalimantan sejumlah 780 orang.
“Untuk dukungan pemadaman karhutla tahun 2019 ini, kita juga dibantu armada udara sebanyak 42 pesawat helikopter dan 4 pesawat jenis Hercules dan CASA, yang salah satunya untuk melakukan rekayasa cuaca guna menciptakan hujan buatan TMC dan juga water bombing,” pungkasnya.

Bella Priscilla