Ceriwis

Warga Dihimbau Pakai Rumus 20-20-20 Untuk Mengantisipasi Adanya Potensi Tsunami di Selatan Jawa

Ilustrasi tsunami.

Ceriwis – Beberapa hari ini warga dihebohkan oleh kabar potensi tsunami di Laut Selatan Jawa. Pelaksana Harian Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo, menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa potensi tsunami Laut Selatan Jawa yang disebut oleh pakar tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan lainnya bukanlah bermaksud untuk menakut-nakuti.

“Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti. Sikap yang tepat bagi masyarakat di wilayah yang akan terdampak potensi gempabumi dan tsunami tersebut adalah selalu siap siaga. Jadi masyarakat harus lebih fokus pada kesiapsiagaan seperti tagline hari kesiapsiagaan bencana nasional yang diperingati tiap tanggal 26 April #SiapUntukSelamat,” tulis Agus di akun Facebooknya pada 20 Juli. Hari ini, 22 Juli 2019, kumparan telah mendapat izin dari Agus untuk mengutip pernyataan dan imbauan tersebut.

Menurut Agus, jangan sampai peringatan yang sudah disampaikan para pakar tidak diindahkan oleh masyarakat sehingga menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang banyak seperti pada kejadian Tsunami Banten dan Gempabumi Palu.

Agus mengatakan, sikap yang paling tepat untuk dilakukan warga adalah selalu siap siaga menghadapi potensi bencana di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Hal pertama yang bisa warga lakukan adalah mengenali potensi ancaman bencana di lokasi mereka tinggal.

“Bisa gunakan aplikasi InaRISK dari BNPB,” imbau Agus. Aplikasi yang memberikan informasi soal potensi bencana di Indonesia ini bisa diunduh di Google Play Store atau bisa juga dibuka di situs inarisk.bnpb.go.id.

Kedua, warga perlu membangun bangunan yang tahan gempa. “Jika bangunan yang sudah ada kurang kurang kuat, bisa dilakukan perkuatan.”

Plh. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo (kiri) saat konferensi persi di BNPB.

Ketiga, bagi warga yang tinggal di pinggir pantai, Agus meminta mereka untuk menggunakan prinsip 20-20-20. “Ketika merasakan gempa selama lebih dari 20 detik, meskipun gempanya tidak besar, Anda harus mengevakuasi diri setelah gempa berhenti. Kemungkinan tsunami akan tiba dalam waktu 20 menit setelah gempa dan kemungkinan tinggi tsunami 20 meter, jadi harus mengevakuasi diri ke tempat yang tinggi atau gedung tinggi yang minimal ketinggiannya 20 meter.”

Meski begitu, Agus mengingatkan, rumus 20-20-20 ini tidak bisa berlaku di semua kejadian dan lokasi. Misal di Mentawai dan Palu, tsunami pernah datang di sana dalam waktu kurang dari 10 menit setelah gempa.

Keempat, warga harus selalu siap siaga menghadapi bencana. Salah satu usaha BNPB untuk membuat warga siap menghadapi bencana adalah dengan mengedukasi mereka. Salah satunya adalah dengan meluncurkan Kursus Online BNPB 101 Keluarga Siaga Bencana. Agus mengatakan, Kursus online secara gratis ini telah diluncurkan sejak 26 April 2019 di Lembang Jawa Barat.

“Kursus angkatan ke-2 sudah dibuka pendaftarannya dan akan mulai pada tanggal 5 Agustus 2019,” kata Agus.

Clara Marissa